Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan lebih dari separuh pergerakan bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza diblokir atau ditolak otoritas Israel sepanjang Februari, sehingga memperburuk kekurangan pasokan bagi warga sipil.
Juru bicara PBB, Stephane Dujarric, mengatakan jatah makanan di Gaza telah dipangkas hingga setengahnya pada Februari karena keterbatasan pasokan.
“Sekitar dua pertiga truk bantuan yang masuk melalui koridor Mesir dikembalikan bulan ini,” kata Dujarric dalam konferensi pers, Jumat.
Ia menambahkan, koordinasi pergerakan bantuan dengan otoritas Israel di dalam Gaza masih terus berlangsung.
“Dari 10 misi yang direncanakan kemarin, empat difasilitasi, termasuk pengambilan bahan bakar, tenda, dan perlengkapan bayi dari perlintasan Kerem Shalom/Karem Abu Salem,” ujarnya.
Namun, lima misi lainnya terhambat, sementara satu permintaan untuk menilai fasilitas air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) di Gaza utara ditolak sepenuhnya.
Dujarric juga menyoroti meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan di wilayah tersebut. Menurut dia, mitra PBB melaporkan semakin banyak warga yang hidup dengan disabilitas akibat konflik.
“Banyak yang menjalani amputasi, sementara lainnya mengalami trauma pada sumsum tulang belakang dan otak. Ratusan orang mengalami cedera traumatis sejak gencatan senjata berlaku,” katanya.
Dalam sistem kesehatan yang sudah rapuh, para pasien menghadapi tantangan tambahan karena masuknya alat prostetik dan perangkat medis penting lainnya masih sangat dibatasi.
Menjawab pertanyaan mengenai alasan truk bantuan dikembalikan di koridor Mesir, Dujarric mengatakan truk-truk tersebut tidak mendapatkan izin dari otoritas Israel.
“Ada persoalan terkait sejumlah barang yang kami anggap krusial tetapi tidak diizinkan masuk ke Gaza,” ujarnya.
Barang-barang tersebut antara lain alat berat untuk membersihkan puing-puing serta perangkat prostetik. “Kami tidak mendapatkan arus bantuan dalam jumlah yang kami butuhkan,” tambahnya.
Sejak kesepakatan gencatan senjata berlaku, sekitar 618 warga Palestina dilaporkan tewas dan 1.663 lainnya terluka akibat dugaan pelanggaran berupa serangan dan tembakan.
Gencatan senjata tersebut menyusul perang yang dimulai pada 8 Oktober 2023 dan berlangsung selama dua tahun. Konflik itu dilaporkan menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 lainnya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut.


