Penjualan Starbucks di Malaysia mengalami penurunan signifikan sebesar 36 persen secara tahunan pada tahun keuangan yang berakhir pada Juni 2025. Penurunan ini disebabkan oleh aksi protes dan boikot terkait serangan Israel terhadap Gaza, demikian laporan keuangan yang dirilis oleh perusahaan waralaba Malaysia, Berjaya Food Berhad, pada Rabu (28/8/2025), dikutip dari Anadolu.
Pada tahun keuangan tersebut, pendapatan Starbucks Malaysia tercatat sebesar 477 juta ringgit Malaysia (sekitar 113 juta dolar AS), menurun drastis dibandingkan periode sebelumnya.
Berjaya Food juga melaporkan kerugian bersih sebesar 69 juta dolar AS sepanjang tahun keuangan tersebut.
Pada kuartal kedua, periode April hingga Juni, pendapatan perusahaan turun menjadi 27,4 juta dolar AS, dengan kerugian total mencapai 44,4 juta dolar AS.
Dalam pernyataannya, Berjaya Food menyatakan bahwa penurunan pendapatan ini terutama disebabkan oleh dampak berkelanjutan dari sentimen negatif terkait konflik Timur Tengah, yang memengaruhi dinamika pasar dan pola konsumsi pelanggan.
Aksi boikot terhadap perusahaan-perusahaan Barat yang diduga memiliki hubungan atau dukungan terhadap Israel terus meningkat di tengah perang yang berkecamuk di Jalur Gaza.
Sejak Oktober 2023, hampir 63.000 warga Palestina tewas akibat agresi militer Israel yang juga menyebabkan kelaparan massal serta kerusakan luas di wilayah pesisir tersebut.
Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional atas perang yang dilancarkan di Gaza.