Saturday, January 31, 2026
HomeBeritaPimpinan militer dan sipil misi AS di Gaza mundur

Pimpinan militer dan sipil misi AS di Gaza mundur

Dua pejabat utama dalam misi Amerika Serikat di Jalur Gaza, masing-masing pimpinan militer dan sipil, dikabarkan akan mengundurkan diri dari jabatannya. Hingga kini, belum ada pengumuman resmi mengenai pengganti keduanya. Informasi tersebut disampaikan sejumlah diplomat kepada Reuters.

Pengunduran diri itu terjadi di tengah langkah sejumlah negara Eropa yang mulai meninjau kembali keterlibatan mereka dalam inisiatif Amerika Serikat untuk merancang masa depan Gaza pascaperang.

Menurut para diplomat, komandan militer tertinggi di Pusat Komando Sipil-Militer—yang berpangkat letnan jenderal bintang tiga—diperkirakan akan digantikan oleh perwira dengan pangkat lebih rendah. Sementara itu, pimpinan sipil misi tersebut telah kembali ke jabatan lamanya sebagai Duta Besar Amerika Serikat untuk Yaman.

Pusat Koordinasi Sipil-Militer itu dibentuk pada Oktober tahun lalu, pada fase awal rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri perang di Gaza. Lembaga tersebut bertugas mengawasi pelaksanaan gencatan senjata antara Israel dan Hamas, memfasilitasi masuknya bantuan kemanusiaan, serta merumuskan kebijakan terkait Jalur Gaza.

Pergantian kepemimpinan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakjelasan mengenai peran masa depan pusat tersebut. Sejumlah pejabat dan diplomat Barat menyebutkan bahwa ketidakpastian itu muncul seiring berjalannya tahap lanjutan rencana Trump, yang mencakup pembentukan “Dewan Perdamaian” beranggotakan delegasi asing untuk mengawasi aspek politik di Gaza.

Sejak pembentukannya, Pusat Komando Sipil-Militer dipimpin oleh Letnan Jenderal Patrick Frank, yang juga menjabat sebagai komandan tertinggi pasukan Amerika Serikat di Timur Tengah. Bulan lalu, militer AS mengumumkan promosi Frank sebagai Wakil Komandan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).

Reuters mengutip empat diplomat yang menyebutkan bahwa Frank diperkirakan akan meninggalkan jabatannya saat ini pada pekan depan. Hingga kini, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait kabar tersebut.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat mengonfirmasi bahwa pimpinan sipil pusat tersebut, diplomat Steven Fagin, telah kembali menjalankan tugasnya sebagai Duta Besar AS untuk Yaman. Fagin sebelumnya disebut mengemban “jabatan transisi” di Pusat Komando Sipil-Militer. Namun, Departemen Luar Negeri tidak mengungkap siapa yang akan menggantikannya.

Sebelumnya, sejumlah diplomat menyatakan bahwa pusat tersebut gagal meningkatkan secara signifikan aliran bantuan kemanusiaan maupun menghasilkan perubahan politik yang berarti. Kondisi itu mendorong beberapa mitra Amerika Serikat untuk mempertimbangkan kembali partisipasi mereka dalam inisiatif tersebut.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler