Perdana Menteri India, Narendra Modi, tiba di Israel dan disambut dengan pelukan hangat di depan publik oleh Benjamin Netanyahu, sebuah pertunjukan yang dikoreografikan dengan cermat untuk menegaskan semakin eratnya keselarasan antara New Delhi dan Tel Aviv.
Menurut Associated Press, kunjungan dua hari tersebut difokuskan pada penguatan “kerja sama keamanan, ekonomi, dan teknologi,” termasuk pertemuan dengan Netanyahu dan Presiden Isaac Herzog, pidato di Knesset, serta penandatanganan sejumlah perjanjian.
Perdagangan India–Israel mencapai $3,62 miliar pada tahun fiskal 2025, mencerminkan dimensi ekonomi dari kemitraan tersebut.
Namun, makna simbolik sama pentingnya dengan isi perjanjian. Pidato Modi di parlemen Israel berlangsung ketika Israel terus melanjutkan perang genosidalnya di Gaza — sebuah kampanye yang telah menewaskan dan melukai ratusan ribu warga Palestina serta menghancurkan infrastruktur sipil di wilayah yang terkepung tersebut. Dalam konteks ini, tepuk tangan meriah di Knesset bukan sekadar seremoni diplomatik; itu adalah pesan politik.
Pemerintah Israel, yang menghadapi sorotan internasional yang semakin tajam atas tuduhan kejahatan perang, sangat diuntungkan oleh kunjungan tingkat tinggi dari kekuatan besar. Kehadiran Modi menandakan bahwa Israel masih jauh dari terisolasi, bahkan ketika kemarahan global atas Gaza semakin meningkat.
Dalam pidatonya di Knesset, Modi menekankan bahwa India dan Israel adalah “mitra terpercaya” dengan hubungan yang “vital” bagi perdagangan dan keamanan. Ia mengutuk serangan 7 Oktober 2023 dan menyatakan bahwa “tidak ada yang dapat membenarkan terorisme,” menyelaraskan diri dengan narasi Israel mengenai konflik tersebut.
Reuters melaporkan bahwa Modi menegaskan kembali solidaritas India dengan Israel serta “sikap tegas melawan terorisme,” sementara Netanyahu menyoroti apa yang ia sebut sebagai “aliansi yang luar biasa” antara kedua negara. Perdana Menteri Israel itu memuji India karena “berdiri bersama” Israel.
Modi juga menyebut dukungan terhadap inisiatif perdamaian Gaza yang didukung PBB serta berbicara tentang dialog dan stabilitas. Namun yang mencolok, tidak ada kritik publik yang tegas terhadap genosida Israel di Gaza.
Struktur pidato tersebut mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam kebijakan luar negeri India. Secara historis, India termasuk pendukung kuat penentuan nasib sendiri Palestina di Dunia Selatan. Hubungan diplomatik dengan Israel baru diformalkan pada 1992. Namun sejak Modi berkuasa pada 2014, hubungan tersebut bergerak dari pragmatisme yang hati-hati menuju penyelarasan strategis yang terbuka.
Di balik retorika terdapat substansi: persenjataan dan teknologi.
India telah menjadi salah satu pelanggan pertahanan terbesar Israel. Kerja sama mencakup sistem rudal, teknologi pengawasan, pertahanan udara, drone, dan platform keamanan siber. Para analis secara luas mengakui bahwa ekspor pertahanan Israel ke India meningkat tajam dalam dekade terakhir, sehingga menanamkan hubungan ini dalam infrastruktur militer yang konkret.
Kunjungan saat ini diperkirakan akan semakin memperluas kolaborasi dalam kecerdasan buatan, komputasi kuantum, keamanan siber, serta produksi pertahanan bersama. Netanyahu secara terbuka menggambarkan hubungan ini sebagai bagian dari poros inovasi dan keamanan yang lebih luas.
Bagi warga Palestina, ini bukan sekadar kerja sama abstrak. Teknologi militer Israel dikembangkan, disempurnakan, dan diuji di lapangan dalam konteks pendudukan dan perang berulang di Gaza. Sistem pengawasan, kemampuan drone, dan persenjataan berpemandu presisi tidak terpisahkan dari arsitektur kontrol yang diberlakukan terhadap rakyat Palestina.
Kunjungan Modi menuai kritik baik di dalam India maupun secara internasional. Partai Komunis India menyebut perjalanan tersebut sebagai bentuk legitimasi terhadap Netanyahu di tengah serangan genosidal di Gaza, dan menggambarkannya sebagai pengkhianatan terhadap warisan anti-kolonial India.
Kritik ini melampaui politik partisan. Bagi banyak pengamat, kunjungan ini melambangkan pergeseran dari dukungan historis India terhadap gerakan dekolonisasi menuju penyelarasan pragmatis dengan nasionalisme yang termiliterisasi.
Secara regional, kunjungan ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran dan pembahasan mengenai koridor ekonomi baru yang menghubungkan India ke Eropa melalui Timur Tengah. Kepemimpinan Israel melihat India sebagai simpul penting dalam arsitektur yang sedang berkembang ini.
Namun arsitektur tersebut kerap mengesampingkan Palestina. Koridor perdagangan, kemitraan AI, dan perjanjian pertahanan dinegosiasikan di tingkat tinggi, sementara penentuan nasib sendiri Palestina diperlakukan sebagai isu pinggiran.
Kunjungan Modi harus dipahami bukan sebagai peristiwa diplomatik yang berdiri sendiri, melainkan sebagai bagian dari kalibrasi geopolitik yang lebih luas.
Pertama, kunjungan ini memberikan penguatan diplomatik yang terlihat bagi Israel pada saat tuduhan genosida, pembersihan etnis, dan penargetan sistematis terhadap warga sipil mendominasi wacana internasional. Setiap kunjungan tingkat tinggi mengikis narasi tentang isolasi.
Kedua, hal ini mencerminkan prioritas strategis jangka panjang India: diversifikasi kemitraan pertahanan, kemajuan teknologi, dan posisi regional dalam dunia multipolar. Israel menawarkan teknologi militer canggih dan kerja sama intelijen yang sangat dihargai New Delhi.
Ketiga, kunjungan ini mengungkap rapuhnya diplomasi yang “seimbang.” Meskipun India terus menyuarakan dukungan teoretis terhadap solusi dua negara, penyelarasan materialnya menceritakan kisah yang berbeda. Transfer senjata, usaha patungan, dan dukungan tingkat tinggi di masa perang memiliki bobot lebih besar daripada pernyataan yang dirumuskan dengan hati-hati di Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Bagi warga Palestina, pesannya jelas dan berat. Kekuatan-kekuatan besar mungkin mengecam perluasan permukiman secara prinsip, tetapi kemitraan struktural yang memperkuat dominasi militer dan teknologi Israel tetap utuh.
Terakhir, konteks regional tidak dapat diabaikan. Dengan meningkatnya ketegangan AS-Iran, Israel ingin memperkuat aliansi di luar Washington. Pelukan India menandakan bahwa Tel Aviv masih memiliki sahabat kuat di Asia, bahkan ketika opini publik Eropa bergeser.
Dalam lingkungan seperti ini, hak-hak Palestina berisiko menjadi alat tawar dalam kalkulasi geopolitik yang lebih besar.


