Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi menegaskan komitmen negaranya untuk memperkuat kerja sama “konstruktif” dengan Turkiye. Pernyataan tersebut disampaikan Sisi pada Rabu dalam konferensi pers bersama Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan di Kairo.
Sisi mengatakan kedua pemimpin menekankan “pentingnya melanjutkan pengembangan dan penguatan kerja sama konstruktif” antara Kairo dan Ankara guna “mencapai solusi politik berkelanjutan yang menyentuh akar persoalan krisis” di kawasan.
“Kami juga menegaskan perlunya meningkatkan volume perdagangan bilateral hingga 15 miliar dollar AS serta menghilangkan berbagai hambatan yang dapat mengganggu pencapaian target tersebut,” ujar Sisi.
Presiden Mesir itu menyerukan peningkatan koordinasi dan pendalaman kerja sama antarnegara di kawasan demi menjamin keamanan dan stabilitas regional.
“Kami sangat menghargai hubungan dengan Turkiye, yang sebagian sejarahnya beririsan dengan Mesir,” kata Sisi. Ia menambahkan bahwa Mesir merupakan mitra dagang terbesar Turkiye di Afrika, sementara Turkiye termasuk tujuan utama ekspor Mesir.
Sisi juga mengungkapkan bahwa kedua negara menandatangani sejumlah nota kesepahaman di berbagai bidang.
Terkait isu regional, Sisi mengatakan pembicaraannya dengan Erdogan mencakup perkembangan situasi di Gaza.
“Kami menegaskan pentingnya penerapan perjanjian gencatan senjata serta menolak segala bentuk penghambatan atau upaya menghindari rencana perdamaian,” ujarnya.
Mengenai konflik di Sudan, Sisi menyatakan bahwa ia dan Presiden Erdogan sepakat mengenai pentingnya mencapai gencatan senjata kemanusiaan yang dapat mengarah pada “perjanjian damai yang komprehensif”.
Sisi juga menegaskan dukungan Mesir terhadap persatuan dan kedaulatan Suriah serta perlunya peningkatan stabilitas di negara Arab tersebut.
Selain itu, kedua pihak menekankan pentingnya menjaga persatuan dan kedaulatan Somalia serta menolak segala upaya yang bertujuan memecah belah negara itu.
Dalam pertemuan tersebut, Sisi dan Erdogan juga membahas kerja sama untuk mendorong stabilitas di Libya. Keduanya sepakat mendukung proses politik yang dipimpin Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), solusi yang dipimpin oleh rakyat Libya, serta penghormatan terhadap institusi nasional.
Sisi menambahkan bahwa pembahasan juga mencakup upaya “meredakan ketegangan di kawasan, mendorong solusi diplomatik, dan mencegah pecahnya perang”, baik terkait isu nuklir Iran maupun situasi regional secara umum.
“Kami menekankan pentingnya menjaga ketahanan pangan global dan keamanan energi internasional,” kata Sisi. Ia menambahkan bahwa Mesir menantikan penyelenggaraan pertemuan ketiga Dewan Kerja Sama Strategis Tingkat Tinggi Mesir–Turkiye yang direncanakan berlangsung di Ankara pada 2028.

