GAZAMEDIA.NET – Raja Abdullah II dari Yordania pada Kamis (5/11) menegaskan bahwa Israel tidak boleh dibiarkan terus melancarkan serangan terhadap Al-Quds, Jalur Gaza, dan Tepi Barat yang diduduki, maupun melanggar kedaulatan negara-negara Arab.
Pernyataan itu disampaikannya dalam pembicaraan dengan Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev di ibu kota Astana, sebagaimana dikutip dari pernyataan resmi Istana Kerajaan Yordania.
Raja Abdullah menyatakan bahwa kedua negara sepakat solusi dua negara merupakan satu-satunya jalan untuk mewujudkan perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Ia menekankan bahwa Israel tidak boleh dibiarkan melanjutkan serangannya terhadap Al-Quds, Gaza, dan Tepi Barat, ataupun upayanya melanggar kedaulatan negara-negara Arab.
Raja Abdullah juga mendesak komunitas internasional untuk memikul tanggung jawabnya dan menghentikan eskalasi. Ia menegaskan bahwa Yordania terus bekerja sama dengan para mitranya, termasuk Kazakhstan, untuk mencapai tujuan tersebut.
Pernyataan ini muncul di tengah berlanjutnya serangan Israel di Jalur Gaza dan Tepi Barat yang diduduki, termasuk Yerusalem Timur, serta pelanggaran terhadap kedaulatan Lebanon dan Suriah.
Di Gaza, Israel terus melanggar perjanjian gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025, setelah perang genosida yang dilancarkannya sejak Oktober 2023. Perang tersebut telah menewaskan dan melukai puluhan ribu orang serta menimbulkan kehancuran yang meluas.
Di Tepi Barat, operasi militer Israel dan kekerasan oleh pemukim terus berlangsung, termasuk pembunuhan, penangkapan, pembongkaran rumah, dan perluasan permukiman.
Israel juga terus menyerang Lebanon meski telah ada kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada November 2024, sembari melancarkan serangan udara dan penyusupan ke wilayah Suriah.
*Sumber: Middle East Monitor (lisensi Creative Commons BY-NC-SA 4.0 — boleh diterjemahkan dan disebarkan ulang untuk tujuan nonkomersial dengan mencantumkan sumber).


