Raja Yordania, Abdullah II, pada hari Kamis menyatakan bahwa pengusiran warga Palestina dari Tepi Barat yang diduduki dan Jalur Gaza merupakan ancaman bagi stabilitas seluruh kawasan.
Dalam konferensi pers bersama Kanselir Jerman, Olaf Scholz di Berlin, Raja Abdullah II menekankan perlunya segera menghentikan perang Israel di Gaza.
Ia juga menyerukan kepada komunitas internasional untuk mengambil langkah-langkah segera guna mengurangi krisis kemanusiaan.
Ia juga mendesak agar gencatan senjata diberlakukan kembali dan bantuan kemanusiaan dapat kembali masuk ke Gaza.
Raja Abdullah menambahkan bahwa serangan terhadap tempat-tempat suci Islam dan Kristen di Yerusalem hanya akan meningkatkan ketegangan dan merusak peluang perdamaian.
Ia menegaskan bahwa satu-satunya jalan menuju perdamaian di kawasan ini adalah melalui solusi dua negara yang menjamin keamanan dan perdamaian bagi semua pihak.
Sementara itu, Kanselir Jerman Olaf Scholz menekankan pentingnya penghentian perang di Gaza dan memastikan masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.
Scholz juga menyerukan “pembebasan sandera” serta kembalinya gencatan senjata di Gaza. Ia menekankan bahwa fokus utama saat ini adalah mengakhiri perang, memulai proses politik, dan terlibat dalam rekonstruksi Gaza.
Pernyataan ini muncul di tengah agresi Israel yang terus berlangsung sejak 7 Oktober 2023. Serangan ini telah menyebabkan lebih dari 165.000 warga Palestina gugur atau terluka, mayoritas di antaranya adalah anak-anak dan perempuan.
Selain itu, lebih dari 11.000 orang masih hilang, sementara kehancuran besar dan kelaparan yang semakin parah terus mencekik Gaza yang telah lama terkepung.