spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Tuesday, February 24, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeBeritaRamadan di Gaza tanpa ratusan imam yang gugur dalam genosida

Ramadan di Gaza tanpa ratusan imam yang gugur dalam genosida

 

Ramadan tahun ini tiba di Jalur Gaza dalam suasana duka dan kehilangan. Ratusan imam, khatib, dan guru Al-Quran yang selama ini memimpin salat, menyampaikan khutbah Jumat, serta mengajar ilmu agama, telah gugur dalam perang Israel yang berlangsung dua tahun terakhir. Ratusan masjid pun hancur, mengubah wajah tradisi Ramadan yang selama ini melekat dalam kehidupan warga Palestina.

Warga Gaza kini menunaikan ibadah di tenda-tenda kayu dan plastik yang didirikan di atas atau di samping reruntuhan masjid. Sebagian lainnya salat di bangunan yang rusak dengan dinding retak dan atap yang nyaris roboh.

Menurut Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza, sebanyak 312 penceramah, imam, pengajar agama, dan guru Al-Quran tewas dalam perang. Dari total 1.275 masjid di Gaza, 1.050 dilaporkan hancur total dan 191 lainnya rusak sebagian.

Perang tersebut, menurut data otoritas Palestina, menewaskan lebih dari 72 ribu warga Palestina—sebagian besar perempuan dan anak-anak—serta melukai lebih dari 171 ribu orang. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza disebut mengalami kerusakan.

Meski gencatan senjata telah diumumkan, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat ratusan pelanggaran oleh pasukan Israel melalui penembakan dan serangan artileri, yang menewaskan 615 warga Palestina dan melukai 1.651 lainnya.

Identitas Keagamaan

Direktur Jenderal Kantor Media Pemerintah Gaza, Ismail Al-Thawabteh, mengatakan Israel menargetkan “simbol-simbol agama dan sosial yang berperan penting dalam dakwah, pembinaan, memperkuat perdamaian sosial, dan menanamkan nilai-nilai spiritual.”

“Ramadan ini, rakyat Palestina kehilangan puluhan suara yang dulu menghidupkan malam-malamnya dan memenuhi masjid dengan kekhusyukan dan iman,” ujarnya kepada kantor berita Anadolu.

Al-Thawabteh juga menyebut 20 anggota komunitas Kristen Gaza turut tewas setelah Israel menargetkan rumah-rumah ibadah Kristen di wilayah tersebut.

Ia memperkirakan kerugian langsung sektor keagamaan mencapai sekitar US$ 1 miliar. Pemakaman juga dilaporkan diratakan dan menjadi sasaran serangan.

“Meski mengalami kerugian besar, warga Palestina tetap menunaikan salat dan menjalankan ritual keagamaan di masjid yang tersisa, tempat penampungan, dan tenda-tenda. Ini menegaskan hak mereka untuk beribadah sebagaimana dijamin hukum humaniter internasional,” kata dia.

Menurut Al-Thawabteh, penargetan tokoh agama dan rumah ibadah merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional serta serangan terhadap perlindungan khusus bagi situs keagamaan.

Ia menambahkan, serangan terhadap infrastruktur keagamaan dan simbolik “tidak akan berhasil mematahkan kehendak rakyat Palestina atau menghapus identitas peradaban dan keagamaan mereka.”

Ulama Terkemuka yang Gugur

Kantor berita Anadolu mengidentifikasi sejumlah ulama terkemuka yang tewas dalam perang:

Yousef Salama
Salama dikenal sebagai salah satu ulama terkemuka Palestina. Ia memulai karier sebagai guru dan imam sebelum menduduki berbagai jabatan di Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Gaza, termasuk sebagai menteri pada 2005–2006.

Ia juga pernah menjadi khatib di Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur selama satu dekade, 1997–2007, serta menjabat wakil ketua Dewan Tertinggi Islam di Yerusalem.

Serangan udara Israel menghantam rumahnya di kamp pengungsi Maghazi, Gaza tengah, pada 31 Desember 2023, menewaskannya.

Wael Al-Zard
Al-Zard menjabat imam Masjid Agung Omari di Kota Gaza dan Masjid Al-Mahatta di kawasan Al-Daraj. Ia juga dosen di University College of Applied Sciences serta pernah mengajar di Al-Quds Open University dan Islamic University of Gaza.

Ia meraih gelar magister studi Hadis pada 2001 dan doktor dari Universitas Ain Shams, Mesir. Serangan Israel menargetkan rumahnya di Kota Gaza pada 13 Oktober 2023. Ia meninggal dua hari kemudian akibat luka-lukanya.

Walid Owaida
Owaida merupakan anggota cabang Palestina dari International Union of Muslim Scholars dan Direktur Jenderal Tahfiz Al-Quran di Kementerian Wakaf Gaza. Ia meraih gelar doktor di bidang Hadis dan Ilmu-Ilmunya.

Serangan Israel menghantam rumahnya di kawasan Sabra, Kota Gaza, pada 12 November 2024, menewaskannya.

Nael Masran
Masran dikenal melalui khutbah-khutbahnya yang menyerukan kesabaran dan keteguhan warga Palestina selama perang. Ia dan keluarganya tewas ketika serangan Israel menghantam tenda mereka di Khan Younis, Gaza selatan, pada 30 Mei 2025.

Masran awalnya meraih gelar sarjana teknik sipil sebelum mendalami hukum Islam dan kemudian memperoleh gelar doktor dalam bidang usul fikih.

Ramadan di Gaza tahun ini berlangsung di tengah reruntuhan—tanpa banyak sosok yang dahulu menjadi penopang kehidupan spiritual masyarakatnya.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler