GAZA CITY — Sedikitnya tujuh warga Palestina, termasuk seorang anak perempuan berusia delapan tahun, tewas dalam serangan Israel di sejumlah wilayah Jalur Gaza pada Sabtu (10/10/2026). Korban jatuh tepat setahun setelah gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober 2025, menurut sumber medis.
Shahd Abdul-Razzaq al-Najjar (8) tewas akibat serangan drone quadcopter di kawasan al-Jawazat, Gaza City bagian barat, kata sumber di layanan ambulans dan gawat darurat kepada Al Jazeera. Rumah Sakit al-Shifa melaporkan empat orang tewas dan beberapa lainnya luka dalam serangan bom terpisah di dekat bundaran Haider Abdel Shafi, di wilayah yang sama.
Satu orang lagi tewas akibat serangan drone di lingkungan Tuffah, Gaza City timur laut, menurut rumah sakit yang sama. Di Khan Younis, Gaza selatan, seorang perempuan meninggal akibat luka serangan Israel yang terjadi pada hari yang sama.
Hingga naskah ini ditulis, belum ditemukan pernyataan militer Israel mengenai insiden hari ini. Pada Juni 2026, militer Israel menyatakan terus beroperasi melawan pejuang Hamas dan kelompok sekutunya di Gaza. Kedua pihak saling menuduh melanggar gencatan senjata.
Data Kementerian Kesehatan Gaza
Kementerian Kesehatan Gaza pada Sabtu menyatakan sedikitnya 1.481 warga Palestina tewas dan 5.254 lainnya terluka sejak gencatan senjata berlaku. Sejak 7 Oktober 2023, total korban tewas mencapai sedikitnya 74.370 jiwa dan korban luka 175.371 orang.
Dalam 24 jam terakhir, kementerian mencatat sedikitnya sembilan orang tewas dan 65 terluka. Kementerian tidak membedakan korban sipil dan kombatan dalam penghitungannya.
Kondisi Kemanusiaan
Human Rights Watch (HRW) dalam rilis Sabtu menyebut 94 persen penduduk Gaza tidak memiliki tempat bernaung yang memadai, berdasarkan survei Palestine Shelter Cluster terhadap hampir 2.000 rumah tangga. Lebih dari separuh rumah tangga yang disurvei tinggal di tenda.
Organisasi pemantau ketahanan pangan IPC memperkirakan 67 persen penduduk, atau lebih dari 1,4 juta orang, menghadapi kerawanan pangan akut tingkat krisis atau lebih buruk pada Juli–Desember 2026, menurut HRW.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 56 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Gaza pada Januari–Agustus 2026. Hanya 35 dari 57 rumah sakit dan rumah sakit lapangan yang berfungsi sebagian, dan tidak satu pun beroperasi penuh.
“Tidak ada yang normal dari hidup di tenda di bawah pengeboman,” kata Sarah Sanbar, peneliti sementara HRW untuk Israel dan Palestina, dalam rilis tersebut.
Rekonstruksi Belum Dimulai
Board of Peace, badan yang dibentuk berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803, memaparkan “Program Pemulihan Gaza 6 Bulan” pada 23 September. Program itu disebut siap berjalan begitu pendanaan dan akses memungkinkan. Menurut HRW, hingga kini belum ada upaya pemulihan yang dimulai.
Kebutuhan pemulihan dan rekonstruksi Gaza diperkirakan mencapai US$71,4 miliar dalam sepuluh tahun, menurut estimasi Uni Eropa dan PBB yang dikutip HRW. HRW juga menyebut area di dalam “Yellow Line”, batas kehadiran pasukan darat Israel menurut kesepakatan gencatan senjata, kini mencakup sekitar 64 persen Jalur Gaza.
Pada Jumat (9/10), lebih dari 100 organisasi kemanusiaan dan hak asasi, termasuk Amnesty International, Oxfam, dan Save the Children, menyatakan gencatan senjata itu hanya ada “di atas nama”.


