Sepuluh hari setelah pecahnya perang antara Amerika Serikat–Israel dan Iran, sejumlah laporan mulai mengungkap kerugian yang dialami militer Amerika di kawasan, baik dari sisi korban personel maupun kehilangan peralatan militer bernilai tinggi.
Dilaporkan Al Jazeera pada Rabu (10/3), Pentagon dan Komando Pusat AS (CENTCOM) mengakui setidaknya delapan tentara Amerika tewas sejak konflik dimulai pada 28 Februari lalu.
Enam di antaranya tewas dalam serangan yang menghantam Pelabuhan Shuaiba di Kuwait, yaitu Mayor Jeffrey O’Brien (45), Kapten Cody Khourk (35), Sersan Satu Noah Titgens (42), Sersan Satu Nicole Amour (39), Sersan Declan Cody (20), dan perwira Robert Marzan (54).
Seorang tentara lainnya, Sersan Benjamin N. Pennington (26), meninggal pada 8 Maret akibat luka yang dideritanya dalam serangan drone di Pangkalan Pangeran Sultan, Arab Saudi.
Sementara satu anggota Garda Nasional AS dilaporkan meninggal di Kuwait pada 6 Maret akibat kondisi medis darurat yang masih dalam penyelidikan.
Selain korban tewas, laporan media Amerika juga menyebut setidaknya sembilan tentara AS mengalami luka serius akibat serangan Iran.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan kemungkinan jumlah korban dapat bertambah seiring berlanjutnya konflik.
Di sisi lain, militer Amerika juga mengalami kerugian material yang signifikan, terutama pada sistem udara tak berawak.
Sejumlah pejabat AS mengakui bahwa sejak awal perang, 11 drone MQ-9 Reaper telah hilang atau ditembak jatuh. Nilai kerugian dari drone-drone tersebut diperkirakan melampaui 330 juta dolar AS.
Para analis militer menilai tingginya kehilangan drone disebabkan karena MQ-9 Reaper tidak dirancang untuk menghadapi sistem pertahanan udara canggih seperti yang dimiliki Iran.
Selain itu, tiga pesawat tempur F-15E Strike Eagle juga jatuh di wilayah Kuwait pada 1 Maret. Insiden tersebut dilaporkan terjadi akibat tembakan kawan sendiri (friendly fire) dari sistem pertahanan udara Kuwait di tengah situasi pertempuran udara yang kompleks.
Enam pilot yang berada di dalam pesawat berhasil menyelamatkan diri dan dilaporkan dalam kondisi stabil.
Sementara itu, Iran mengklaim kerugian militer Amerika jauh lebih besar. Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ali Mohammad Naeini, mengatakan serangan rudal Iran telah menyebabkan lebih dari 650 tentara Amerika tewas atau terluka dalam dua hari pertama Operasi “Janji Sejati 4”.
Ia juga mengklaim serangan Iran menghantam Markas Armada Kelima AS di Bahrain, merusak kapal logistik militer Amerika, serta menargetkan kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab.
Namun Komando Pusat AS membantah klaim tersebut dan menegaskan kapal induk Amerika masih menjalankan operasi normal.
Sejak 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran yang menewaskan ratusan orang, termasuk pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei serta sejumlah pejabat militer senior.
Sebagai balasan, Teheran menembakkan rudal dan drone ke arah Israel serta menargetkan kepentingan Amerika di sejumlah negara Teluk.
Konflik yang terus berlangsung tersebut memicu “perang informasi”, di mana masing-masing pihak saling membesar-besarkan kerugian lawan sambil membatasi publikasi kerugian mereka sendiri.


