Friday, February 28, 2025
HomeBeritaSitus Italia: Khawatir AS tarik pasukan dari Suriah, Israel tingkatkan serangan di...

Situs Italia: Khawatir AS tarik pasukan dari Suriah, Israel tingkatkan serangan di beberapa front

Penulis Claudia Carbinella, dalam laporannya yang diterbitkan di situs “Inside Over” Italia, mengatakan bahwa Israel terus meningkatkan ketegangan di kawasan pada tiga front dengan berbagai alasan. Hal ini bersamaan dengan gencatan senjata yang rapuh di Gaza.

Pada saat yang sama, kemungkinan penarikan pasukan Amerika Serikat (AS) dari timur Suriah menimbulkan kekhawatiran besar di Tel Aviv.

Penulis menegaskan bahwa Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, semakin memperburuk ketegangan di front Suriah setelah menyatakan pada hari Minggu lalu bahwa Israel tidak akan mundur dari wilayah yang telah dimasukinya dalam beberapa waktu terakhir.

Israel juga tidak akan mengizinkan rezim baru untuk menyebar ke selatan ibu kota Damaskus.

Israel telah masuk jauh ke dalam wilayah Suriah setelah jatuhnya rezim Bashar al-Assad pada Desember lalu. Mereka menduduki zona penyangga antara kedua negara, dan menguasai Gunung Hermon.

Penulis menambahkan bahwa pernyataan Israel ini bertepatan dengan laporan yang mengonfirmasi niat Presiden AS, Donald Trump, untuk menarik ribuan tentara Amerika dari Suriah. Menurutnya, ini adalah sebuah keputusan yang telah didorong sejak masa jabatan pertamanya.

Pernyataan Trump

Penulis mengutip laporan dari saluran Israel “Kan” yang menyebutkan bahwa pernyataan para pejabat tinggi di Gedung Putih tentang rencana Trump di Suriah menimbulkan kekhawatiran besar di Israel. Hal itu disebabkan karena takut rencana itu akan benar-benar terlaksana.

Pejabat Israel menyatakan bahwa keberadaan militer Israel akan tetap bertahan hingga kedalaman 15 kilometer di sepanjang perbatasan dengan Suriah.

Tetapi wilayah pengaruhnya akan diperluas hingga 60 kilometer ke dalam wilayah Suriah untuk waktu yang tidak ditentukan. Hal itu, kata penulis, merupakan pelanggaran terhadap kedaulatan Suriah.

Lebanon

Penulis juga menegaskan bahwa eskalasi di Suriah selatan bukan satu-satunya pelanggaran yang dilakukan Israel.

Menurut perjanjian gencatan senjata dengan pihak Lebanon, tentara Israel seharusnya mundur sepenuhnya dari Lebanon selatan pada 26 Januari lalu.

Namun, setelah tenggat waktu ini diperpanjang hingga 18 Februari, tentara Israel minggu lalu menarik diri dari kota-kota di Lebanon Selatan. Perpanjangan itu karena penolakan Tel Aviv untuk mematuhi ketentuan perjanjian,

Namun, Israel tetap mempertahankan kehadiran militernya di lima pos terdepan di sepanjang perbatasan.

Penulis menganggap bahwa Komite Pemantauan Gencatan Senjata, yang terdiri dari AS, Prancis, dan pasukan UNIFIL, gagal menegakkan salah satu ketentuan utama yang mengharuskan Israel menarik pasukannya dari Lebanon secara penuh.

Tentara Israel masih menguasai lima bukit, yaitu: Hammamis, Labouna, Jabal Balat, Al-Aziyah, dan Jabal Al-Deir.

Menurut penulis, penguasaan Israel atas lokasi-lokasi ini lebih bertujuan untuk meningkatkan moral opini publik dan tentara Israel daripada strategi militer untuk mengawasi pergerakan Hizbullah di perbatasan.

Hal ini karena pemantauan saat ini dilakukan dengan teknologi pengawasan canggih tanpa perlu menempatkan pasukan di lokasi tinggi.

Penulis juga menyoroti bahwa sikap pemerintah Lebanon jelas dalam menolak keberadaan musuh di dalam wilayah Lebanon.

Mereka juga menuntut Israel untuk mundur sesuai dengan hukum internasional dan sebagaimana yang diatur dalam Resolusi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 1701.

Tepi barat

Penulis mencatat bahwa Israel juga terus menyerang Tepi Barat, yang dimulai tak lama setelah perjanjian gencatan senjata dengan Hamas di Gaza mulai berlaku.

Serangan ini telah memaksa 40.000 warga Palestina mengungsi dari kamp-kamp pengungsi di utara.

“Pasukan Israel akan tetap berada di kamp-kamp pengungsi di Tepi Barat hingga tahun depan,” kata Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz.

Ia menambahkan bahwa pengungsi dari Jenin, Tulkarm, dan Tubas tidak akan diizinkan kembali ke rumah mereka.

Penulis menambahkan bahwa tentara Israel telah mengerahkan tank-tanknya di Tepi Barat untuk pertama kalinya dalam lebih dari 20 tahun.

Aksi itu berdasarkan perintah Netanyahu untuk meningkatkan operasi di wilayah pendudukan setelah serangan yang menargetkan bus kosong di kota Bat Yam.

Penulis menyebutkan bahwa pihak berwenang Israel menuduh warga Palestina melakukan serangan tersebut, tetapi surat kabar “Times of Israel” mengungkapkan bahwa dua orang Yahudi Israel telah ditangkap karena dicurigai terlibat dalam pemboman tersebut.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular