Presiden wilayah pecahan Somaliland, Abdirahman Mohamed Abdullahi, mengatakan Jumat (7/2) bahwa partainya “tidak menutup kemungkinan memberikan pelabuhan kepada perusahaan Israel” di wilayahnya.
Abdullahi menekankan posisi strategis wilayahnya yang penting bagi keamanan maritim, terutama setelah serangan Houthi terhadap kapal-kapal terkait Israel di Laut Merah yang mengganggu sekitar 12% perdagangan global.
Di sela-sela World Government Summit di Dubai, Abdullahi mengatakan kepada sebuah surat kabar Israel bahwa dirinya menyambut baik investasi Israel di wilayah tersebut.
“Somaliland kaya akan sumber daya, dan kami menyambut investasi. Wilayah ini penting bagi perdagangan maritim, dan oleh karena itu hubungan dengan Israel juga penting,” kata Abdullahi.
Abdullahi menjelaskan bahwa Somaliland memiliki cadangan mineral, minyak, dan gas yang melimpah, serta populasi ternak besar dan lahan pertanian yang luas. Sumber daya ini, menurutnya, dapat berkontribusi pada peningkatan ketahanan pangan dunia, termasuk bagi Israel.
“Saya mendorong para pebisnis Israel untuk datang dan menanamkan investasi di bidang energi, pariwisata, pertanian, peternakan, penerbangan, dan keuangan,” tambahnya.
Pada Januari lalu, seorang pejabat Somaliland menyatakan wilayah pecahan itu dapat menjadi lokasi pangkalan militer Israel, beberapa minggu setelah Israel menjadi negara pertama yang secara resmi mengakui Somaliland sebagai negara merdeka.
Setelah keputusan itu, pihak berwenang Somaliland secara resmi membantah tuduhan dari Somalia bahwa wilayahnya akan menerima pengungsi Palestina yang dipaksa keluar dari Gaza, atau menjadi pangkalan militer Israel.
Berita Channel 12 Israel mengutip Deqa Qasim, pejabat Kementerian Luar Negeri Hargeisa, mengatakan bahwa rencana pangkalan militer memang sedang dibahas, namun bergantung pada kesepakatan antara kedua pihak setelah pembukaan kedutaan masing-masing.
Somaliland memiliki pelabuhan strategis Berbera di pesisir Teluk Aden.
Pada awal Januari, kapal yang membawa Aidarous al-Zubaidi, pemimpin separatis selatan Yaman yang didukung UEA, bersandar di Berbera.
Saudi Arabia kemudian menuduh UEA—yang tengah berseteru dengannya—memindahkan Zubaidi keluar dari Yaman ke Abu Dhabi melalui pelabuhan Somaliland.
Saudi Arabia mendukung Presidential Leadership Council (PLC) di Yaman, sementara UEA mendukung kelompok separatis. Situasi di Yaman selatan berubah drastis bulan lalu ketika Saudi Arabia mendukung permintaan PLC agar pasukan UEA menarik diri, setelah STC secara sepihak merebut wilayah yang mereka kuasai.
UEA mengumumkan penarikan pasukannya menyusul serangan udara Saudi yang menargetkan pengiriman senjata untuk separatis. Pasukan Saudi kemudian bergerak cepat menggantikan posisi UEA di wilayah yang dikendalikan PLC, termasuk Aden, Lahj, Hadhramaut, dan pesisir barat, menyingkirkan STC.
Hubungan UEA dengan Somaliland dimulai pada 2017, ketika pemerintah Somaliland menerima tawaran UEA untuk membangun pangkalan militer di Berbera, dengan harapan hubungan itu memperkuat klaim kemandirian wilayah.
Analisis citra satelit oleh MEE menunjukkan pangkalan angkatan laut UEA yang awalnya terhenti kini hampir rampung, dengan infrastruktur maju termasuk pelabuhan militer modern, dermaga dalam, landasan pacu dengan hanggar, dan fasilitas pendukung.
Pelabuhan Berbera menjadi bagian dari rangkaian pangkalan UEA di sekitar Teluk Aden dan Laut Merah, jalur yang dilalui sepertiga perdagangan maritim dunia.
Pangkalan tersebut dibangun dengan dukungan AS dan Israel, yang juga sedang meninjau kemungkinan memperluas kehadirannya di Berbera.
Landasan pacu Berbera memiliki panjang 4 km—salah satu yang terpanjang di Afrika—karena dulunya pernah disewa NASA sebagai jalur pendaratan darurat Space Shuttle. Hal ini memungkinkan penerimaan pesawat angkut berat dan jet tempur.
Pelabuhan Berbera, yang diperluas sejak 2022, dimiliki bersama oleh DP World (perusahaan logistik maritim UEA), pemerintah Somaliland, dan pemerintah Inggris.

