Lembaga kemanusiaan International Networking for Humanitarian (INH) menggelar talkshow dan public lecture bertajuk “This Ramadhan We Remember Al-Aqsa” pada Ahad (22/2) di Qoah Burj, Nadi Sikkah, Kairo, Mesir.
Acara tersebut menghadirkan Koordinator Penerangan Fungsi dan Budaya, Mohammad Nur Salim, Lc., M.Si., bersama 12 delegasi yang mewakili berbagai ittihad internasional. Antusiasme peserta terlihat tinggi, dengan jumlah pendaftar mencapai sekitar 520 orang, mayoritas merupakan mahasiswa Indonesia di Mesir.
Tema yang diangkat menekankan pentingnya kesadaran sejarah dan peran strategis generasi muda dalam memahami perjuangan umat secara kritis, sekaligus mendorong kontribusi nyata dalam upaya pembelaan dan pembebasan Masjidil Aqsa.
Al-Qur’an sebagai Sumber Ketangguhan Spiritual
Pada sesi talkshow, Ustazah Oki Setiana Dewi menekankan pentingnya membangun hubungan yang hidup dengan Al-Qur’an, sehingga kitab suci tersebut benar-benar hadir sebagai Asy-Syifa—penyembuh bagi jiwa manusia.
Ia mengingatkan bahwa setiap manusia akan menghadapi tiga ujian utama dalam kehidupan: ketakutan, kekurangan, dan kehilangan. Namun, Allah SWT menjanjikan kabar gembira bagi mereka yang bersabar dan tetap teguh dalam keimanan.
“Dari orang-orang tangguh di Gaza, kita belajar tentang makna ridha dan keteguhan dalam menghadapi ujian,” ujarnya di hadapan peserta.
Peradaban Dibangun oleh Gagasan, Bukan Sekadar Senjata
Sesi berikutnya diisi oleh Ustaz Muhammad Husein Gaza yang mengangkat refleksi sejarah perjuangan pembebasan Al-Quds melalui kisah monumental Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi.
“Jangan kalian kira aku membebaskan tanah ini dengan pedang dan senjata kalian. Hakikatnya, aku membebaskannya dengan pena dan pemikiran Al-Qadhi Al-Fadhil, guruku Syaikh Abdurrahim Al-Bisai,” kata Husein mengutip ucapan Shalahuddin.
Melalui kutipan itu, Ustaz Husein menegaskan bahwa kemenangan peradaban tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi terutama oleh kemerdekaan pemikiran umat. Persenjataan secanggih apa pun, menurutnya, tidak akan bermakna apabila pola pikir umat masih berada dalam penjajahan ideologis.
Ia juga mengingatkan para pemuda—khususnya mahasiswa Indonesia di Mesir—agar tidak mudah terjebak dalam arus propaganda dan permainan narasi global. Pemuda, katanya, dilahirkan untuk membawa gagasan dan nilai perjuangan ke ruang-ruang perubahan.
“Amarah terhadap ketidakadilan adalah hal yang manusiawi. Namun memahami konteks dan arah perjuangan adalah langkah paling penting sebelum bertindak,” tegasnya.


