Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan akan secara langsung mengendalikan hasil penjualan puluhan juta barel minyak Venezuela. Pernyataan tersebut disampaikan seiring klaim pemerintah AS bahwa Washington mengambil alih kendali “tanpa batas waktu” atas sektor energi negara Amerika Latin tersebut.
Dalam unggahan di media sosial pada Selasa malam waktu setempat, Trump menyebut bahwa otoritas sementara Venezuela akan menyerahkan antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak berkualitas tinggi yang sebelumnya dikenai sanksi kepada Amerika Serikat.
“Minyak tersebut akan dijual sesuai harga pasar dan hasilnya akan dikendalikan oleh saya, sebagai Presiden Amerika Serikat, untuk memastikan digunakan demi kepentingan rakyat Venezuela dan Amerika Serikat,” tulis Trump.
Jumlah minyak yang disebutkan Trump tergolong besar, setara dengan produksi Venezuela selama 30 hingga 50 hari. Saat ini, Venezuela memproduksi sekitar 800.000 barel minyak per hari, jauh menurun dibandingkan puncak produksinya sekitar tiga dekade lalu yang mencapai tiga juta barel per hari.
Departemen Energi AS pada Rabu mengindikasikan bahwa pengumuman Trump hanyalah langkah awal. Seluruh hasil penjualan minyak Venezuela, menurut departemen tersebut, akan disimpan di rekening yang dikendalikan AS pada bank-bank internasional yang diakui secara global.
“Kami telah melibatkan perusahaan pemasaran komoditas terkemuka dunia serta bank-bank utama untuk mengeksekusi dan mendukung secara finansial penjualan minyak mentah dan produk turunannya,” kata Departemen Energi AS.
Menanggapi pengumuman itu, harga minyak mentah Brent sebagai patokan global turun 1,37 persen menjadi 59,87 dollar AS per barel.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa Amerika Serikat akan menjual minyak Venezuela secara berkelanjutan. “Kami akan memasarkan minyak mentah yang berasal dari Venezuela, dimulai dari stok yang tertahan, dan selanjutnya secara indefinitif akan menjual produksi yang dihasilkan Venezuela ke pasar,” ujarnya dalam sebuah konferensi di Miami.
Menurut Wright, penguasaan atas penjualan minyak tersebut diperlukan sebagai alat tekanan untuk mendorong perubahan politik di Venezuela.
Minyak Venezuela yang berjenis berat dinilai sangat sesuai untuk kilang-kilang minyak AS di kawasan Teluk Meksiko, yang oleh Trump baru-baru ini dinamai ulang sebagai Teluk Amerika. Jika pasokan minyak Venezuela ke AS dapat dipertahankan, hal itu berpotensi menguntungkan kilang minyak AS dan menekan harga bahan bakar di tengah upaya Trump mengatasi inflasi dan persoalan daya beli masyarakat.
Trump sebelumnya memberlakukan blokade terhadap industri minyak Venezuela menjelang serangan AS ke negara tersebut serta penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Blokade itu memperparah kondisi industri minyak Venezuela yang telah lama tertekan oleh sanksi AS, salah urus, dan minimnya investasi.
Akibat blokade tersebut, jutaan barel minyak Venezuela tertahan di kapal dan fasilitas penyimpanan darat, sebagian di antaranya sedianya dikirim ke China dan Rusia.
Pada Rabu, AS juga menyita sebuah kapal tanker berbendera Rusia yang terkait dengan perdagangan minyak Venezuela di Samudra Atlantik. Operasi tersebut didukung Angkatan Udara Kerajaan Inggris dan menunjukkan kesiapan AS berhadapan dengan Rusia, meskipun kedua negara tengah bernegosiasi terkait perang di Ukraina.
Gedung Putih menegaskan bahwa penyitaan kapal tersebut tidak terkait langsung dengan Rusia. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyebut kapal itu sebagai bagian dari “armada bayangan Venezuela” yang mengangkut minyak bersanksi dan dinyatakan tidak memiliki kewarganegaraan setelah menggunakan bendera palsu.
Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, sekitar 17 persen dari total cadangan global. Langkah Trump menempatkan kekayaan minyak negara itu sebagai pusat kebijakan AS mengingatkan pada praktik “diplomasi kapal perang” Amerika Serikat di Amerika Latin pada awal abad ke-20.

