Monday, January 12, 2026
HomeBeritaTrump klaim Iran ingin negosiasi dengan AS di tengah protes mematikan

Trump klaim Iran ingin negosiasi dengan AS di tengah protes mematikan

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa pemerintah Iran telah menghubunginya untuk membuka jalur negosiasi, di tengah gelombang protes besar yang terus mengguncang negara tersebut dan menelan banyak korban jiwa.

Pernyataan itu disampaikan Trump pada Minggu (11/1/2026) waktu setempat, di tengah meningkatnya tekanan internasional terhadap Teheran terkait penanganan demonstrasi yang berlangsung selama hampir dua pekan terakhir.

“Para pemimpin Iran menelepon. Mereka ingin bernegosiasi. Sebuah pertemuan sedang disiapkan,” ujar Trump kepada wartawan di atas pesawat Air Force One, seperti dikutip media Turki Hurriyet Daily News, Senin (12/1/2026).

Meski demikian, Trump juga mengisyaratkan bahwa Washington tidak menutup kemungkinan langkah lain. “Kami mungkin harus bertindak sebelum pertemuan itu,” katanya, tanpa menjelaskan lebih lanjut bentuk tindakan yang dimaksud.

Iran saat ini menghadapi protes luas yang awalnya dipicu oleh melonjaknya biaya hidup dan memburuknya kondisi ekonomi. Seiring waktu, demonstrasi tersebut berkembang menjadi tantangan terbuka terhadap sistem pemerintahan Republik Islam yang telah berkuasa sejak Revolusi 1979.

Aksi protes terus berlangsung meskipun aparat keamanan melakukan penindakan keras. Pemerintah Iran juga sempat memberlakukan pemadaman internet nasional, namun informasi dan rekaman video dari berbagai kota tetap beredar melalui jaringan alternatif.

Kelompok hak asasi manusia memperingatkan bahwa situasi di lapangan semakin memburuk. Pusat Hak Asasi Manusia di Iran (Center for Human Rights in Iran/CHRI) yang berbasis di Amerika Serikat menyatakan telah menerima kesaksian saksi mata dan laporan kredibel yang menunjukkan ratusan pengunjuk rasa tewas selama pemadaman internet.

“Sebuah pembantaian sedang berlangsung,” kata CHRI dalam pernyataannya.

Sementara itu, organisasi Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia melaporkan sedikitnya 192 orang tewas akibat penindakan aparat. Namun, IHR memperkirakan jumlah korban sebenarnya jauh lebih tinggi.

“Laporan yang belum diverifikasi menyebutkan korban jiwa bisa mencapai ratusan, bahkan menurut beberapa sumber lebih dari 2.000 orang,” ujar IHR.

Selain korban tewas, lebih dari 2.600 orang dilaporkan telah ditangkap oleh aparat keamanan Iran.

Sebuah video yang beredar pada Minggu (11/1/2026) memperlihatkan puluhan jenazah tergeletak di luar sebuah kamar jenazah di wilayah Kahrizak, selatan Teheran. Rekaman yang dilokalisasi oleh kantor berita AFP itu menunjukkan jenazah terbungkus kantong hitam, sementara sejumlah orang diduga tengah mencari anggota keluarga mereka yang hilang.

Hingga kini, pemerintah Iran belum merilis data resmi mengenai jumlah korban tewas maupun penangkapan, dan menegaskan bahwa aparat keamanan bertindak untuk menjaga ketertiban dan stabilitas nasional.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler