Sedikitnya tujuh warga Palestina, termasuk seorang anggota polisi, tewas dan sejumlah lainnya terluka akibat serangan dan tembakan militer Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza pada Jumat, meski gencatan senjata telah berlaku sejak 10 Oktober, menurut sumber medis setempat.
Tiga warga Palestina dilaporkan tewas dan beberapa lainnya luka-luka dalam serangan udara yang terjadi pada dini hari, bertepatan dengan waktu sahur pada hari ke-10 Ramadhan. Serangan tersebut menargetkan kerumunan warga sipil di kawasan al-Mawasi, sebelah barat Khan Younis, Gaza selatan, sebagaimana dilaporkan kantor berita Anadolu mengutip sumber medis.
Dalam pernyataannya, Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza menyebut serangan Israel juga menyasar pos pemeriksaan polisi di Jalan Salah al-Din, pintu masuk kamp pengungsi Bureij, Gaza tengah. Serangan itu menewaskan seorang petugas polisi dan melukai satu lainnya dalam kondisi kritis.
Di lokasi terpisah, seorang pria Palestina bernama Ahmed Saad Ghabn (36) tewas akibat tembakan tentara Israel di dekat kawasan Aslan, Beit Lahia, Gaza utara. Sumber medis mengatakan korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Al-Shifa dengan luka tembak di bagian perut sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Serangan udara lainnya dilaporkan menghantam sebuah tenda di dalam area Sekolah Mustafa Hafez, dekat Rumah Sakit Nasser, di Khan Younis, Gaza selatan. Dalam insiden tersebut, Eyad al-Attal (37) tewas, sementara seorang perempuan dan seorang anak mengalami luka-luka.
Satu korban lainnya dilaporkan tewas akibat tembakan Israel di kawasan al-Atatra, Beit Lahia, Gaza utara.
Seluruh wilayah yang menjadi sasaran serangan dilaporkan berada di luar zona kendali atau penempatan militer Israel sebagaimana diatur dalam kesepakatan gencatan senjata.
Sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku, sekitar 618 warga Palestina dilaporkan tewas dan 1.663 lainnya luka-luka akibat dugaan pelanggaran berupa serangan udara dan tembakan yang terjadi hampir setiap hari.
Gencatan senjata tersebut menyusul perang yang dimulai pada 8 Oktober 2023. Konflik yang berlangsung selama dua tahun itu dilaporkan menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina dan melukai lebih dari 171.000 orang, mayoritas perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di wilayah tersebut.


