Sunday, January 11, 2026
HomeBeritaTurki lobi bergabung dengan pakta pertahanan Arab Saudi–Pakistan

Turki lobi bergabung dengan pakta pertahanan Arab Saudi–Pakistan

Turki tengah melobi untuk bergabung dalam pakta pertahanan antara Arab Saudi dan Pakistan—sebuah langkah yang berpotensi membentuk blok militer baru di Timur Tengah di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk dan dengan Iran.

Bloomberg melaporkan pada Jumat bahwa pembicaraan antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan telah memasuki tahap lanjutan dan kesepakatan dinilai sangat mungkin tercapai, mengutip sejumlah sumber yang mengetahui proses tersebut.

Tanda semakin eratnya hubungan Islamabad dengan Ankara dan Riyadh juga terlihat dari laporan Reuters pada Jumat yang menyebutkan Pakistan berada di ambang penyelesaian kesepakatan penjualan senjata senilai 1,5 miliar dollar AS kepada militer Sudan. Militer Sudan didukung Arab Saudi dan Turki dalam konflik melawan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF) yang didukung Uni Emirat Arab (UEA).

Pakistan disebut akan menjual 10 pesawat serang ringan Karakorum-8, lebih dari 200 drone untuk misi pengintaian dan serangan bunuh diri, serta sistem pertahanan udara canggih kepada militer Sudan yang dipimpin Abdel Fattah al-Burhan. Hal tersebut dilaporkan Reuters.

Aamir Masood, mantan marsekal udara Pakistan, mengatakan kepada Reuters bahwa penjualan tersebut merupakan “kesepakatan yang sudah final” dan berpotensi mencakup pesawat tempur JF-17.

Potensi Blok Militer Baru

Jika Pakistan, Turki, dan Arab Saudi menandatangani pakta pertahanan trilateral, aliansi tersebut akan menghubungkan tiga negara besar dengan keunggulan strategis masing-masing.

Arab Saudi merupakan satu-satunya ekonomi G-20 di dunia Arab dan menjadi lokasi dua kota suci umat Islam, Mekkah dan Madinah. Pakistan adalah satu-satunya negara mayoritas Muslim yang memiliki senjata nuklir. Sementara Turki, yang membentang di Asia dan Eropa, memiliki kekuatan militer terbesar kedua di NATO.

Pakistan dan Turki juga tengah berkembang sebagai produsen serta pengekspor persenjataan utama. Turki, misalnya, telah memasok drone ke Ukraina untuk digunakan melawan Rusia, menjadi pendukung militer utama di Suriah, serta menempatkan pasukan di Libya.

Di sisi lain, Pakistan yang tengah menghadapi tekanan ekonomi berupaya memonetisasi kemampuan militernya. Pada Desember lalu, Islamabad menandatangani kesepakatan senilai 4 miliar dollar AS untuk menjual peralatan militer, termasuk 16 pesawat tempur JF-17, kepada Tentara Nasional Libya pimpinan Jenderal Khalifa Haftar.

Reuters sebelumnya melaporkan Pakistan dan Arab Saudi juga tengah bernegosiasi untuk mengonversi sekitar 2 miliar dollar AS pinjaman Saudi menjadi kesepakatan pembelian pesawat JF-17, yang diproduksi bersama oleh China dan Pakistan.

Dinamika Aliansi Regional

Secara historis, Pakistan memiliki hubungan erat dengan Arab Saudi dan Turki, meski kedua negara tersebut tidak selalu sejalan. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pernah mendukung gelombang protes Arab Spring yang dipandang Riyadh sebagai ancaman terhadap sistem monarki.

Satu dekade lalu, Arab Saudi dan UEA bahkan bekerja sama untuk menandingi pengaruh Turki di Libya serta mendukung Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi—tokoh yang sempat dikecam Erdogan.

Namun, peta aliansi kawasan terus berubah. Erdogan dan Sisi kini menunjukkan pendekatan baru, didorong kekhawatiran bersama atas perang Israel di Gaza serta eskalasi konflik di Lebanon, Suriah, dan Iran. Hubungan Arab Saudi dan Turki juga mulai membaik sejak sekitar 2021.

Belakangan, kedua negara semakin sejalan di sejumlah titik konflik, termasuk Suriah dan Sudan. Turki dan Arab Saudi juga mendukung pihak yang sama dalam perang saudara Sudan, berseberangan dengan UEA yang mendukung RSF.

Sementara itu, kemitraan Arab Saudi–UEA mengalami keretakan signifikan. Arab Saudi dilaporkan melancarkan serangan terhadap sekutu UEA di Yaman, Dewan Transisi Selatan (STC), dan pasukan pro-Riyadh berhasil mengusir STC serta pengaruh UEA dari wilayah tersebut.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler