HomeBeritaUNICEF Peringatkan Krisis Kemanusiaan Memburuk: Rencana Israel Kuasai 70 Persen Gaza Akan...

UNICEF Peringatkan Krisis Kemanusiaan Memburuk: Rencana Israel Kuasai 70 Persen Gaza Akan Memperparah Penderitaan Anak-anak

JENEWA / GAZA CITY — Badan anak-anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) memperingatkan bahwa rencana Israel untuk menguasai 70 persen wilayah Jalur Gaza akan secara dramatis memperburuk krisis kesehatan yang sudah dihadapi anak-anak di wilayah kantong tersebut. Peringatan tersebut disampaikan pada Jumat (29/5/2026) di tengah laporan terus berlanjutnya serangan udara Israel meskipun gencatan senjata Oktober 2025 secara resmi masih berlaku.

Juru bicara UNICEF, Salim Oweis, dalam pengarahan kepada wartawan di Jenewa yang dilakukan secara virtual langsung dari Gaza, menggambarkan kondisi di lapangan saat ini sebagai situasi yang nyaris tidak dapat dipertahankan. Ia menjelaskan warga Gaza saat ini telah berdesakan di sekitar 40 persen luas wilayah kantong tersebut akibat ekspansi kendali militer Israel yang terus meluas.

Berdesakan di Antara Reruntuhan dan Tumpukan Sampah

Oweis menggambarkan situasi tempat tinggal warga sebagai kondisi darurat kemanusiaan yang multidimensi. Warga terpaksa berlindung di antara bangunan-bangunan yang rusak, puing reruntuhan, dan tumpukan limbah padat yang terus meninggi tanpa sistem pengelolaan sampah yang berfungsi. Ia menegaskan praktis tidak ada lagi ruang yang dapat dibersihkan dari sampah di wilayah-wilayah pengungsian saat ini.

Kondisi tersebut diperburuk oleh kelangkaan akut bahan makanan, air bersih, dan kebutuhan kebersihan. Lembaga PBB sebelumnya melaporkan adanya peningkatan kasus penyakit kulit akibat parasit seperti kudis dan cacar air, ditambah meluasnya infestasi tikus di kawasan-kawasan pengungsian yang padat, terutama di Khan Younis.

Bagi anak-anak Gaza, akumulasi kondisi tersebut menciptakan ancaman kesehatan yang berlapis. Malnutrisi, dehidrasi, infeksi kulit, penyakit saluran pernapasan, hingga gangguan kesehatan mental berat tercatat meningkat signifikan dalam beberapa bulan terakhir.

Garis Kuning, Garis Oranye, dan Ekspansi Kendali Israel

Kekhawatiran UNICEF muncul tidak terlepas dari laporan bahwa militer Israel telah memperluas wilayah kendalinya sebesar 11 persen melampaui “Garis Kuning” yang menjadi batas dalam kesepakatan gencatan senjata Oktober 2025. Israel sebelumnya juga memperkenalkan apa yang disebut “Garis Oranye”—garis demarkasi baru yang dianggap pihak Palestina dan komunitas internasional sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Dengan penambahan kendali ini, militer Israel kini menguasai lebih dari 60 persen wilayah Jalur Gaza, sementara rencana yang dilaporkan akan menambah penguasaan hingga 70 persen akan semakin menyempitkan ruang hidup warga Palestina. Konsekuensinya bersifat langsung: lebih dari dua juta warga Gaza akan terjepit di kurang dari sepertiga wilayah asal mereka.

Uni Eropa sebelumnya telah menyatakan penolakan tegas terhadap setiap perubahan kontrol teritorial di Jalur Gaza, dan menekankan pentingnya penyatuan Gaza dengan Tepi Barat di bawah administrasi Otoritas Palestina sebagai bagian dari solusi politik yang berkelanjutan.

Serangan Israel Berlanjut, Korban Tewas Bertambah

Peringatan UNICEF datang hanya satu hari setelah serangan udara Israel di Gaza City utara menewaskan sedikitnya 10 orang, termasuk empat anak-anak. Serangan pada Rabu (27/5) malam tersebut menyasar sebuah bangunan tempat tinggal yang dihuni keluarga-keluarga pengungsi, dan melukai lebih dari 20 orang lainnya.

Sumber jurnalis di lapangan melaporkan beberapa anak sedang bermain di taman dekat lokasi saat serangan terjadi. Warga Palestina di sekitar lokasi disebut dalam keadaan tegang akibat ketakutan terhadap kemungkinan serangan susulan.

Data terbaru otoritas kesehatan Gaza menunjukkan total korban tewas sejak Oktober 2023 telah mencapai 72.819 jiwa, dengan 172.894 lainnya mengalami luka-luka. Mayoritas korban berasal dari kelompok perempuan dan anak-anak.

Sejak gencatan senjata diberlakukan pada 10 Oktober 2025, serangan-serangan Israel yang berlanjut telah menewaskan lebih dari 850 warga Palestina—angka yang menggambarkan bahwa gencatan senjata yang dijanjikan tidak pernah benar-benar menjadi gencatan dalam pengertian sesungguhnya.

Implementasi Rencana Perdamaian Tersendat

Di tingkat diplomatik, implementasi Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 yang mengesahkan rencana perdamaian 20 poin Presiden AS Donald Trump terus menghadapi kebuntuan. Perwakilan Tinggi Board of Peace untuk Gaza, Nickolay Mladenov, pekan lalu memperingatkan kepada Dewan Keamanan bahwa Gaza terancam terjebak dalam kondisi “limbo permanen” jika rencana transisi terus mengalami penundaan.

Sekitar 80 persen bangunan di Gaza dilaporkan dalam kondisi rusak atau hancur total, sementara hampir satu juta warga masih membutuhkan bantuan tempat tinggal darurat. Flash Appeal 2026 yang dikoordinasikan PBB—dengan target pendanaan lebih dari 4 miliar dolar AS—baru terdanai sekitar 13 persen, mengancam keberlanjutan program-program bantuan vital.

Suara dari Gaza City

Dari lokasi serangan di Gaza City, kerabat korban menyuarakan keputusasaan terhadap retorika “gencatan senjata” yang tidak berdampak di lapangan. Samer al-Atbash, paman dari tiga anak yang tewas dalam serangan udara sebelumnya, mempertanyakan tuduhan-tuduhan yang ditujukan pada anak-anak Gaza dan menggugat keberadaan gencatan senjata yang dinilainya hanya ada di atas kertas.

Bagi anak-anak Gaza yang menjadi fokus peringatan UNICEF, situasi hari ini bukan lagi soal masa depan—melainkan soal apakah mereka akan bertahan hidup hingga esok hari. Dengan ruang hidup yang menyempit, pasokan kebutuhan dasar yang terus menipis, dan ancaman serangan yang tidak pernah benar-benar berhenti, generasi termuda Gaza terus membayar harga paling mahal dari sebuah konflik yang seharusnya telah memasuki fase pemulihan.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler