Sumber-sumber lokal Suriah mengatakan kepada Al Jazeera bahwa demonstran turun ke jalan di kota Al-Qardaha, di pedesaan Latakia. Mereka menuntut penarikan pasukan keamanan umum dari kota tersebut.
Demonstrasi ini terjadi setelah Direktorat Keamanan Dalam Negeri yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri mendirikan pos pemeriksaan baru di tengah kota.
Sumber tersebut menambahkan bahwa para demonstran di Al-Qardaha – kota kelahiran mantan presiden Bashar al-Assad – menuntut agar pasukan keamanan umum segera ditarik dari wilayah mereka.
Sementara itu, kantor berita resmi Suriah “SANA” mengatakan bahwa pendirian pos pemeriksaan baru tersebut adalah bagian dari upaya berkelanjutan untuk menjaga keamanan di provinsi tersebut. Pernyataan itu dikutip dari pernyataan Direktur Keamanan Dalam Negeri di Latakia yang
“Kelompok-kelompok yang merasa dirugikan oleh upaya penegakan keamanan mencoba menghalangi pos pemeriksaan, menciptakan kekacauan, dan menyerang kantor polisi kota. Saat ini, pasukan keamanan tengah mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan keamanan dan stabilitas,” kata Pejabat keamanan tersebut.
Al-Qardaha – yang dihuni oleh banyak warga dari komunitas Alawi – mengalami ketegangan keamanan dalam beberapa jam terakhir.
Kelompok bersenjata yang disebut sebagai “sisa-sisa rezim Assad” dilaporkan muncul di beberapa wilayah kota.
Mereka menembaki kantor polisi secara intensif, menyebabkan kerusakan properti dan toko-toko, serta meneriakkan slogan-slogan sektarian.
Serangan berulang
Pada Desember lalu, 4 anggota Direktorat Operasi Militer yang berafiliasi dengan pemerintah transisi tewas. Sementara itu, beberapa lainnya terluka dalam 2 serangan terpisah yang dilakukan oleh elemen-elemen loyalis Assad.
Serangan itu dilakukan terhadap pos pemeriksaan keamanan di daerah Jableh, pedesaan Latakia, di barat Suriah.
Setelah jatuhnya rezim Assad pada 8 Desember 2024, pasukan pemerintah transisi Suriah mengalami serangkaian serangan di wilayah pesisir.
Sejauh ini, insiden paling mematikan terjadi di pedesaan Tartus, di mana 14 anggota Kementerian Dalam Negeri terbunuh.
Untuk mengatasi ancaman ini, pasukan keamanan Suriah melancarkan operasi di pedesaan Latakia. Akibatnya, sejumlah milisi pro-rezim lama tewas dan penangkapan beberapa lainnya.
Pada 8 Desember 2024, faksi-faksi Suriah berhasil menguasai ibu kota Damaskus setelah merebut beberapa kota lainnya.
Hal itu menunjukkan berakhirnya 61 tahun kekuasaan partai Ba’ath yang penuh kekerasan dan 53 tahun pemerintahan keluarga Assad.
Dua hari kemudian, delegasi yang terdiri dari anggota Hai’at Tahrir al-Sham (HTS) dan Tentara Pembebasan Suriah bertemu dengan para pemuka suku di wilayah Al-Qardaha dan mendapatkan dukungan mereka.
Penduduk setempat mengatakan bahwa langkah ini merupakan tanda positif dari sikap toleran pemerintah baru.
Sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh komunitas Alawi setelah pertemuan tersebut menekankan pentingnya keberagaman agama dan budaya di Suriah.
Mereka juga menyerukan pemulihan layanan kepolisian dan administrasi pemerintah secepat mungkin di bawah kepemimpinan baru.
Mereka juga menyatakan kesediaan untuk menyerahkan senjata yang masih berada di tangan penduduk Al-Qardaha.
Selain itu, warga Al-Qardaha telah menurunkan patung mantan Presiden Suriah, Hafez al-Assad, yang berdiri di kota tersebut.
Komunitas Alawi di Suriah mencakup sekitar 10% dari populasi negara dan terutama tinggal di Provinsi Latakia, dekat Laut Mediterania dan perbatasan Turki.