GAZA CITY — Warga Palestina pekan ini menandai 1.000 hari sejak perang Gaza pecah pada 7 Oktober 2023, dengan total korban tewas mencapai 73.066 jiwa per Selasa (30/6) menurut Kementerian Kesehatan Gaza. Meski gencatan senjata berlaku sejak 10 Oktober 2025, serangan Israel masih terjadi hampir setiap hari, sementara tahap lanjutan kesepakatan damai mandek pada isu pelucutan senjata Hamas.
Nasib lebih dari dua juta warga Gaza — yang sebagian besar terusir dari rumah dan hidup di antara reruntuhan — tetap tidak menentu.
Serangan Hampir Setiap Hari Meski Gencatan Senjata
Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 1.053 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata berlaku, termasuk lebih dari 350 perempuan dan anak-anak. Korban dalam beberapa hari terakhir termasuk seorang remaja perempuan yang tengah dalam perjalanan ke sekolah serta seorang ibu bersama putrinya yang berusia satu tahun. Kementerian yang sama mencatat lebih dari 3.400 orang terluka sejak gencatan senjata dimulai. PBSWashington Times
Militer Israel menyatakan serangan-serangannya menargetkan Hamas dan kelompok bersenjata lain, dan menuding Hamas menjadikan warga sipil sebagai tameng. Pasukan Israel menguasai lebih dari separuh wilayah Gaza berdasarkan garis gencatan senjata, dan pemerintah Israel menyatakan berencana memperluas kendali hingga 70 persen.
Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza dalam pernyataan Kamis (2/7) mengklaim pasukan Israel kini menguasai 80 persen wilayah dan lebih dari 90 persen Jalur Gaza telah hancur. Kantor itu juga menyebut lebih dari 21.500 anak termasuk di antara korban tewas, sementara sekitar 9.500 orang masih hilang dan diyakini banyak yang terkubur di bawah reruntuhan.
Pelucutan Senjata Hamas Jadi Ganjalan Utama
Nickolay Mladenov, diplomat tertinggi yang mengawasi implementasi gencatan senjata, menegaskan tahap berikutnya dari kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat terhenti pada isu pelucutan senjata Hamas. Pelucutan senjata menjadi syarat bagi langkah lanjutan, termasuk pembentukan administrasi baru Gaza dan penempatan pasukan stabilisasi internasional. PBS
Hamas tidak menolak mentah-mentah pelucutan senjata, tetapi mengindikasikan ingin mempertahankan sebagian persenjataan dan menuntut konsesi lebih lanjut dari Israel. Kebuntuan ini menjadi ujian bagi Board of Peace, badan pimpinan Presiden AS Donald Trump yang dibentuk melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Badan tersebut diluncurkan awal tahun ini dengan janji dana miliaran dolar, namun kini nyaris tak bersuara ke publik.
Krisis Kemanusiaan Belum Surut
PBB bulan lalu menyebut 17 rumah sakit di Gaza masih belum berfungsi. Direktur regional Komite Internasional Palang Merah (ICRC) Nicolas von Arx pekan ini mengatakan masih sangat banyak yang harus dilakukan agar kehidupan yang mendekati normal bisa kembali, dan kondisi saat ini masih jauh dari itu.
Bagi warga, dampaknya terasa sehari-hari. “Dulu kami punya segalanya sebelum perang. Sekarang kami hanya mendambakan sesuap makanan,” kata Mahmoud Ashour (33), pemilik toko di Khan Younis.
Wali Kota Gaza City Yahya al-Sarraj mengatakan kotanya kehilangan sekitar 85 hingga 90 persen sumber daya, bangunan, dan infrastruktur. Ia menyebut pemerintah kota telah menyiapkan cetak biru rekonstruksi bernama “Phoenix Plan”, dan warga akan langsung membangun kembali rumah mereka begitu perbatasan dibuka.

