Gelombang protes di Iran memasuki hari kedelapan berturut-turut dan telah menyebar ke sedikitnya 222 lokasi di 78 kota, dipicu oleh memburuknya kondisi ekonomi. Hal tersebut disampaikan Human Rights Activists News Agency (HRANA), Minggu.
Menurut laporan rinci lembaga yang didirikan pada 2009 oleh para aktivis hak asasi manusia Iran itu, aksi demonstrasi terjadi di 26 provinsi dan mencakup unjuk rasa jalanan, pemogokan buruh, serta aksi yang dipimpin kalangan universitas.
Sedikitnya 17 universitas terlibat dalam gelombang protes tersebut, yang terus berlangsung meski aparat keamanan meningkatkan penjagaan dan berupaya membubarkan massa.
HRANA melaporkan, sedikitnya 20 orang tewas dalam kerusuhan tersebut, termasuk seorang anggota aparat keamanan. Selain itu, sedikitnya 51 orang lainnya mengalami luka-luka, sebagian besar akibat tembakan peluru karet dan peluru plastik oleh pasukan keamanan.
Korban tewas berasal dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, buruh, hingga warga sipil, dengan rentang usia antara 16 hingga 45 tahun.
HRANA juga mengonfirmasi pemukulan terhadap seorang pengacara, Nasser Rezaei Ahangarany, oleh aparat keamanan saat aksi protes di Khorramabad pada 3 Januari.
Secara terpisah, kantor berita Kurdpa melaporkan sedikitnya 30 orang terluka dalam demonstrasi di Malekshahi.
Sejak protes dimulai, sedikitnya 990 orang ditangkap, meski HRANA menilai jumlah sebenarnya kemungkinan lebih besar. Di antara para tahanan terdapat mahasiswa, aktivis masyarakat sipil, serta lebih dari selusin anak di bawah umur berusia 15 hingga 17 tahun.
Penangkapan terjadi di berbagai kota, baik terhadap individu maupun kelompok. Penahanan massal dilaporkan berlangsung di sejumlah kota, antara lain Yazd, Isfahan, Kermanshah, Shiraz, dan Behbahan, dengan banyak tahanan dipindahkan ke penjara-penjara setempat.
Sebagian penangkapan dikaitkan dengan aktivitas di media sosial, sementara lainnya terjadi saat bentrokan di jalanan.
Gelombang protes ini dipicu oleh lonjakan inflasi, melemahnya daya beli masyarakat, gejolak pasar, serta meluasnya ketidakpastian kerja. HRANA mencatat, slogan-slogan demonstran umumnya menyoroti kesulitan ekonomi, kritik terhadap tata kelola pemerintahan, serta tuntutan kebebasan sipil.
“Protes tidak hanya terjadi di pusat-pusat kota besar,” demikian laporan HRANA, seraya menekankan partisipasi warga dari kota-kota kecil dan berbagai lapisan masyarakat.
Respons Internasional
Eskalasi protes tersebut menuai perhatian internasional. Layanan Aksi Eksternal Uni Eropa menyatakan keprihatinan atas “laporan mengenai korban tewas dan luka-luka” serta mendesak otoritas Iran untuk “menahan diri secara maksimal” dan menyelesaikan keluhan publik melalui dialog.
Amnesty International Australia menyerukan “penghentian segera kekerasan”, pembebasan tahanan politik, serta diakhirinya penggunaan kekuatan mematikan terhadap demonstran.
Asosiasi Keluarga Korban Penerbangan PS752 juga menyatakan solidaritas terhadap para pengunjuk rasa.
Sementara itu, Kepala Kepolisian Iran Ahmadreza Radan mengatakan bahwa “penangkapan terarah terhadap para pemimpin protes” telah dimulai. Ia menuduh para tahanan melakukan provokasi dan menerima dana asing.
Pejabat lain, termasuk sejumlah anggota parlemen senior, turut menyalahkan campur tangan asing sebagai penyebab kerusuhan.
Namun, sebagian kalangan masyarakat sipil menyuarakan pandangan berbeda. Rumah Buruh Iran menyatakan bahwa warga “memiliki hak untuk memprotes kondisi ekonomi dan penghidupan mereka”, yang disebut sebagai hak “sah dan legal”.
Sejumlah asosiasi guru dan kelompok advokat juga menyatakan dukungan serupa, dengan menilai inflasi dan kegagalan kebijakan sebagai akar persoalan.
HRANA menegaskan akan terus menghimpun dan memverifikasi data serta menyampaikan pembaruan lanjutan jika protes terus meluas.

