Domino’s Pizza Enterprises, perusahaan waralaba asal Australia yang mengoperasikan jaringan restoran Domino’s di berbagai negara, mencatat kerugian tahunan untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade terakhir. Kerugian ini terutama disebabkan oleh penutupan gerai di sejumlah negara Asia akibat aksi boikot yang dipicu oleh konflik di Gaza.
Dalam laporan keuangan yang dirilis Rabu (27/8/2025), perusahaan mencatat kerugian sebesar 3,7 juta dolar Australia (setara sekitar Rp37,4 miliar) untuk tahun buku yang berakhir pada Juni 2025. Padahal, pada tahun sebelumnya, perusahaan mencatat laba sebesar 62,5 juta dolar Australia.
Dengan demikian, laba perusahaan anjlok 104 persen secara tahunan.
Merespons laporan keuangan tersebut, saham perusahaan langsung merosot tajam hingga 23 persen dalam dua hari terakhir.
Dua pasar utama Domino’s—Prancis dan Jepang—mengalami kinerja yang terus melemah. Di Jepang, penutupan ratusan gerai berdampak signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.
Permintaan yang menurun pascapandemi dan kenaikan harga bahan baku turut menekan laba di pasar Jepang. Sepanjang tahun ini, perusahaan menutup sebanyak 233 gerai yang mengalami kerugian di negara tersebut.
Aksi boikot terhadap sejumlah perusahaan Barat yang diduga memiliki keterkaitan atau memberikan dukungan kepada Israel terus meningkat di tengah agresi militer negara tersebut terhadap Jalur Gaza.
Hingga kini, agresi Israel telah menewaskan hampir 63.000 warga Palestina, menyebabkan kelaparan massal, serta menghancurkan infrastruktur di wilayah pesisir tersebut.
Israel juga tengah menghadapi gugatan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) atas tindakannya di Gaza.