Upaya militer Israel untuk menembus jantung Kota Gaza kembali menemui jalan buntu.
Setelah delapan hari berturut-turut melakukan operasi darat di Al-Zaytoun—wilayah terluas di Kota Gaza—pasukan pendudukan tidak mampu merebut kendali.
Yang terjadi justru sebaliknya: kekuatan tempur Israel terus terkikis oleh perlawanan Palestina yang kian terlatih dalam memanfaatkan lanskap kota yang hancur.
Al-Zaytoun berubah menjadi ajang perang stamina, di mana pasukan Israel berusaha menghindari kontak langsung, sementara kelompok perlawanan Palestina menegakkan garis pertahanan berlapis.
Analis militer dan strategi, Kolonel (Purn) Nidal Abu Zaid, menilai dua brigade utama Israel yang terjun ke kawasan ini—Brigade Nahal dan Brigade Lapis Baja 179—gagal mencapai kemajuan berarti.
Menurutnya, data yang beredar menunjukkan kemampuan tinggi kelompok perlawanan, khususnya sayap militer Hamas, untuk beradaptasi dengan kondisi medan tempur yang sudah luluh lantak.
Perlawanan Palestina membangun sistem pertahanan berlapis yang penuh jebakan ranjau, bahan peledak, dan bom rakitan.
“Inilah faktor utama yang paling ditakuti Israel,” kata Abu Zaid.
Karena alasan itu pula, unit pasukan elite Israel tampak tidak dilibatkan langsung dalam pertempuran.
Abu Zaid menambahkan, pasukan Israel menghadapi masalah ganda: menurunnya kesiapan personel dan menurunnya kinerja alat tempur.
Kondisi itu memaksa militer Israel mengubah taktik, dengan mengandalkan keunggulan teknologi ketimbang jumlah pasukan di garis depan.
Taktik baru
Pergeseran taktik terlihat dari penggunaan tembakan artileri dan serangan udara besar-besaran di Al-Zaytoun dan kawasan tetangganya, Al-Sabra.
Israel lebih banyak mengandalkan “massa api” ketimbang adu tembak langsung, demi menutup kelemahan di sisi personel.
Selain itu, sejumlah teknologi baru diterjunkan: robot peledak, drone bersenjata, hingga kotak berisi bahan peledak yang dijatuhkan di area padat penduduk.
Cara ini dipilih untuk mengurangi potensi korban di pihak Israel, meskipun jelas meningkatkan risiko bagi warga sipil Palestina.
Yang menarik, unit zeni—yang lazimnya menjadi tulang punggung operasi peledakan—tidak ikut serta dalam pertempuran kali ini.
Hal itu, menurut Abu Zaid, menandakan betapa berat ancaman jebakan pertahanan yang dipasang perlawanan di dalam kota.
Di sisi lain, Kepala Staf Militer Israel, Jenderal Eyal Zamir, berada dalam dilema. Ia diminta pemimpin politik untuk mencapai target maksimal, sementara kemampuan militer yang tersedia terbatas.
“Zamir terjebak di antara tuntutan politik dan kapasitas lapangan,” ujar Abu Zaid.
Harian Yedioth Ahronoth bahkan melaporkan bahwa pekan lalu seorang wakil komandan batalion Israel terluka dalam serangan di Al-Zaytoun, sebuah peristiwa yang dianggap sebagai pukulan telak.
Media itu menulis, pasukan Israel terkejut menghadapi keterampilan tempur Hamas yang jauh di luar perkiraan.
Situasi ini berlangsung ketika perang genosida di Gaza telah memasuki hari ke-693. Pada saat bersamaan, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich kembali menyerukan pengusiran massal warga Gaza.
Ia menyebut langkah itu sebagai cara untuk “melenyapkan kejahatan absolut” yang menurutnya dilakukan terhadap Israel pada 7 Oktober 2023.
Namun realitas di medan tempur memperlihatkan sesuatu yang berbeda. Perlawanan yang terorganisasi di jantung Kota Gaza menjelma menjadi perang panjang, penuh jebakan, dan sarat pengurasan tenaga.
Sebuah perang stamina yang jelas belum dimenangkan oleh pasukan Israel.