Friday, August 29, 2025
HomeBeritaDelapan pasien sindrom Guillain-Barré di Gaza meninggal akibat kelaparan

Delapan pasien sindrom Guillain-Barré di Gaza meninggal akibat kelaparan

Krisis kelaparan yang dipicu blokade Israel di Jalur Gaza telah menelan korban baru.

Kementerian Kesehatan di Gaza pada Kamis (29/8/2025) mengumumkan, delapan pasien penderita sindrom Guillain-Barré (GBS) meninggal dunia akibat tidak adanya akses terhadap pengobatan penting dan kondisi gizi yang kian memburuk.

Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Gaza, Munir al-Bursh, menuturkan melalui unggahan di platform X bahwa sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengumumkan status kelaparan di Gaza, jumlah penderita GBS meningkat tajam.

“Kini puluhan pasien membutuhkan ventilator agar tetap hidup,” ujarnya.

Menurut data kementerian, delapan kematian itu setara 10,6 persen dari total penderita GBS di Gaza.

Sisanya berada dalam ancaman kematian perlahan di tengah runtuhnya layanan kesehatan.

Bursh menjelaskan, kelangkaan pangan, air tercemar, serta ketiadaan nutrisi yang layak akibat kebijakan kelaparan Israel memperburuk kondisi pasien.

Selain itu, ketiadaan obat-obatan vital seperti immunoglobulin maupun layanan plasmaferesis membuat pasien kehilangan kesempatan untuk pulih.

Sindrom Guillain-Barré merupakan penyakit langka yang biasanya berawal dari kelemahan pada tungkai bawah, lalu menjalar ke sistem saraf pusat dan bisa menyerang saraf pernapasan. Tanpa terapi tepat, pasien berisiko meninggal dunia.

Seruan kemanusiaan

Kondisi ini terjadi seiring makin meluasnya dampak kelaparan di Gaza. Anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena daya tahan tubuh mereka melemah, sehingga mudah terserang penyakit langka.

“Di Gaza, penyakit tidak lagi memilih korban. Seluruh tanah ini telah berubah menjadi lahan subur bagi penderitaan. Air yang kotor, makanan yang langka, dan gizi buruk kini menjadi musuh tak kasat mata yang lebih mematikan daripada rudal,” kata Bursh.

Ia menyerukan dunia untuk tidak berhenti pada pernyataan, melainkan segera mengirimkan obat-obatan darurat agar nyawa pasien bisa diselamatkan.

Sistem kesehatan Gaza nyaris lumpuh total. Rumah sakit kekurangan obat, alat diagnostik, dan perangkat medis.

Semua ini diperburuk oleh kebijakan Israel menutup rapat seluruh jalur masuk ke Gaza sejak 2 Maret 2025, sehingga bantuan kemanusiaan tidak bisa masuk meskipun ribuan truk menumpuk di perbatasan.

Menurut data Pemerintah Gaza, hanya 2.654 truk bantuan yang berhasil masuk sepanjang 30 hari terakhir, jauh di bawah kebutuhan riil yang mencapai 18.000 truk.

Sebagian kecil bantuan yang diizinkan masuk pun kerap dijarah oleh kelompok bersenjata yang mendapat perlindungan tentara Israel.

Rabu lalu, Kementerian Kesehatan Gaza juga mencatat total korban jiwa akibat kebijakan kelaparan Israel telah mencapai 313 orang, termasuk 119 anak-anak, sejak 7 Oktober 2023.

Jumlah itu di luar puluhan ribu korban meninggal akibat bombardemen dan serangan darat.

Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) pada Selasa memperingatkan bahwa kelaparan di Gaza kian parah dan meluas dengan cepat.

“Situasi bergerak menuju titik kritis,” kata juru bicaranya, Olga Cherevko.

Sejak 7 Oktober 2023, Israel dituduh melakukan kejahatan genosida di Gaza, yang mencakup pembunuhan massal, penghancuran, pengusiran paksa, dan kelaparan sistematis.

Data terakhir mencatat sedikitnya 62.895 warga Palestina meninggal, lebih dari 158.927 orang terluka, serta ribuan orang hilang dan ratusan ribu lainnya mengungsi.

Dalam kondisi demikian, sindrom langka seperti GBS yang sebelumnya bisa ditangani medis, kini berubah menjadi vonis mati akibat kelaparan yang disengaja.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Most Popular