– Pemerintah Iran dilaporkan terkejut dengan serangan yang dilancarkan pada Sabtu (28/2/2026) pagi, berbeda dari pola sebelumnya yang umumnya dilakukan pada malam hari.
Menurut laporan lembaga penyiaran Israel, serangan kali ini dilakukan pada siang hari dalam langkah yang tidak lazim dibanding operasi militer sebelumnya.
Pakar militer dan strategi, Brigadir Jenderal Elias Hanna, menilai unsur kejutan secara geopolitik dan militer sebenarnya tidak sepenuhnya ada, mengingat besarnya mobilisasi dan sistem pertahanan yang telah disiapkan. Namun, kata dia, kejutan muncul pada tingkat operasional dan taktis, terutama dalam jenis dan lokasi sasaran yang dipilih.
Hanna menjelaskan, serangan tidak berfokus pada sistem pertahanan udara seperti lazimnya, melainkan menargetkan langsung sistem militer Iran secara presisi, dengan penekanan pada ibu kota Teheran dan sejumlah lokasi strategis lain. Langkah ini disebut sebagai upaya mengurangi kesiapan militer dan keamanan Iran.
Ia menambahkan, keberhasilan serangan sangat bergantung pada akurasi intelijen. Jika berhasil, operasi tersebut dapat berdampak pada kesiapan militer Iran, meskipun Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya telah menunjuk pejabat pengganti di sejumlah posisi sensitif guna menjamin kesinambungan komando pasca-konflik dan gelombang demonstrasi terakhir.
Surat kabar Israel Maariv melaporkan militer Israel mengerahkan Divisi ke-91 di perbatasan Lebanon serta memanggil pasukan cadangan untuk memperkuat keamanan dalam negeri, mengantisipasi potensi eskalasi sebagai respons atas serangan udara tersebut.
Mengapa Dilakukan pada Sabtu?
Pengamat isu Israel, Ali al-Awar, mengatakan pemilihan hari Sabtu sebagai waktu pelaksanaan serangan dilakukan secara strategis. Pada hari tersebut, aktivitas sipil relatif rendah dan publik Israel berada dalam kondisi yang lebih tenang, sehingga dinilai dapat meminimalkan dampak jika terjadi serangan balasan Iran, termasuk kemungkinan penggunaan rudal balistik atau hipersonik.
Ia menambahkan, otoritas pertahanan sipil Israel telah menyelesaikan instruksi darurat, sementara Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan negara itu berada dalam status siaga maksimum. Katz juga menyebut operasi preventif dilakukan dengan koordinasi penuh bersama Amerika Serikat.
Media Israel serta pernyataan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengindikasikan bahwa tujuan serangan bukan sekadar menyasar fasilitas militer, melainkan juga mendorong perubahan rezim di Iran. Netanyahu disebut menyatakan bahwa “tidak ada alternatif selain menjatuhkan rezim” sebagai bagian dari tujuan operasi tersebut.


