Oleh: Murtaza Hussain [Al-Jazeera/dipublish tahun 2013]
Murtaza Hussain adalah penulis dan analis asal Toronto yang berfokus pada isu-isu politik Timur Tengah.
Narasi tentang “konflik Sunni-Syiah” paling banter merupakan kekeliruan, dan paling buruk merupakan narasi yang menyesatkan, menurut penulis.
Pada masa penjajahan Eropa di Rwanda, administrator kolonial Belgia berhasil melakukan sesuatu yang luar biasa dalam upaya mereka menundukkan penduduk setempat: menciptakan secara sengaja perpecahan etnis yang baru.
Dengan menyusun kategori etnis berdasarkan penilaian subjektif terhadap tinggi badan dan warna kulit orang Rwanda, Belgia berupaya membuat rakyat Rwanda saling bermusuhan sekaligus tetap tunduk kepada mereka. Sejarah dan silsilah yang sepenuhnya direkayasa diciptakan untuk kelompok “Hutu” dan “Tutsi”, meskipun istilah-istilah tersebut sebenarnya diambil dari sejarah lama Rwanda dan selama ratusan tahun hampir tidak lagi memiliki makna yang nyata.
Strategi pecah belah ini pada akhirnya berujung pada Genosida Rwanda tahun 1994, sebuah pertumpahan darah yang mengguncang hati nurani dunia dan merenggut sekitar 800.000 nyawa. Hutu dan Tutsi, yang sebenarnya merupakan identitas yang baru direkayasa, akhirnya mempercayai narasi palsu bahwa mereka telah bermusuhan sejak awal sejarah.
Saat ini, semakin sering terdengar narasi mengenai adanya “perang selama 1.400 tahun” antara Muslim Sunni dan Syiah. Dalam narasi tersebut, kekerasan sektarian yang terjadi sekarang dianggap sekadar kelanjutan dari konflik kuno yang berakar pada peristiwa abad ke-7. Meskipun sebagian umat Islam belakangan ikut mempercayai pandangan ini, keyakinan tersebut bukan hanya merupakan pembacaan sejarah yang keliru, melainkan juga pemalsuan sejarah secara menyeluruh. Memang terdapat perbedaan teologis antara Sunni dan Syiah, tetapi klaim bahwa kedua kelompok ini terus-menerus berada dalam keadaan perang dan permusuhan sepanjang sejarah merupakan kebohongan yang tidak masuk akal.
Konflik yang kini berkembang antara sejumlah faksi politik Sunni dan Syiah di Timur Tengah hampir tidak berkaitan dengan perbedaan agama. Konflik tersebut lebih berkaitan dengan politik identitas modern. Seperti yang terjadi di Rwanda, kekuatan-kekuatan Barat bersama sekutu lokal mereka berupaya memperbesar perpecahan-perpecahan buatan ini demi mempertahankan konflik dan menjaga Timur Tengah tetap terpecah sehingga tidak mampu membangun kekuatannya sendiri.
Kesinambungan Sejarah yang Palsu
Analisis mengenai akar konflik sektarian di Timur Tengah sering kali menjadikan perpecahan sejarah antara Sunni dan Syiah sebagai penyebab utama ketegangan masa kini. Dalam cara pandang ini, Pertempuran Karbala tahun 680 M, ketika keturunan Nabi Muhammad SAW (yang sangat dihormati oleh umat Syiah) terbunuh, dianggap sebagai pertempuran pertama dari konflik sektarian panjang yang kini berlangsung di Suriah, Lebanon, dan berbagai negara Timur Tengah lainnya.
Sebagaimana dijelaskan penulis Saudi Abdullah Hamiddadin, penjelasan tersebut sama absurdnya dengan mengatakan bahwa ketegangan modern antara Turki dan Uni Eropa berakar pada konflik kuno antara Raja Charles dan Kaisar Byzantium. Menganggap rivalitas politik masa kini dapat dijelaskan hanya melalui konflik abad ke-9 di Eropa jelas merupakan sesuatu yang tidak masuk akal. Namun logika semacam itu justru sering diterapkan pada konflik di dunia Islam.
Memang benar bahwa faksi-faksi politik modern sering menggunakan simbol dan retorika yang merujuk pada perbedaan teologis masa lampau. Akan tetapi, penggunaan simbol-simbol sejarah oleh para politisi oportunis sangat berbeda dengan klaim adanya kesinambungan nyata antara sejarah kuno dan konflik masa kini. Berkat upaya para tokoh agama yang didukung dana besar, baik karena ketidaktahuan terhadap sejarah maupun karena sengaja memanipulasinya, penjelasan yang keliru ini kini mulai dipercaya, bahkan oleh sebagian umat Islam sendiri.
Mengingat Sejarah Timur Tengah
Bagi mereka yang dengan sengaja memalsukan sejarah demi kepentingan politik, penting untuk mengingat beberapa fakta dasar mengenai hubungan antarkelompok agama di Timur Tengah. Selama lebih dari seribu tahun hidup berdampingan, berbagai komunitas agama di kawasan ini memang mengalami pasang surut hubungan, tetapi secara keseluruhan sejarah mereka lebih banyak diwarnai pluralisme, toleransi, dan saling menerima daripada konflik yang terus-menerus.
Selama berabad-abad, Sunni, Syiah, Kristen, Yahudi, dan kelompok agama lainnya hidup berdampingan dengan tingkat keterikatan yang hampir tidak memiliki tandingan di kawasan lain di dunia. Bahkan ketika mereka berada di bawah struktur politik yang berbeda, hal itu tidak otomatis berarti mereka selalu berkonflik. Kekaisaran Ottoman yang bermazhab Sunni dan Kekaisaran Safawi yang bermazhab Syiah memang pernah berperang, tetapi mereka juga hidup berdampingan secara damai selama ratusan tahun dan bahkan menganggap memerangi sesama kekuatan Muslim sebagai sesuatu yang memalukan.
Selain itu, terlepas dari klaim para fanatik, “sekte” dalam sejarah tidak pernah benar-benar menjadi entitas yang sepenuhnya terpisah. Ulama Sunni dan Syiah telah lama berdialog dan saling memengaruhi pemikiran keagamaan masing-masing selama berabad-abad, sehingga batas-batas di antara keduanya menjadi semakin kabur. Sebagai warisan dari proses tersebut, hingga kini lembaga pendidikan Islam Sunni terbesar di dunia juga mengajarkan teologi Syiah sebagai salah satu mazhab dalam tradisi keilmuan Islam.
Abad Kegelapan Modern
Kontras antara sejarah tersebut dengan perang-perang agama yang brutal di Eropa selama berabad-abad sangat mencolok. Ketika membahas konflik di Timur Tengah saat ini, banyak analis Barat—dan semakin banyak pula umat Islam—cenderung melihatnya melalui lensa sejarah Eropa yang memang dipenuhi konflik agama berkepanjangan. Bahkan, puncak kebencian agama di Eropa baru terjadi beberapa dekade lalu melalui Holocaust, yang menjadi salah satu tragedi terbesar terhadap komunitas Yahudi.
Untuk setiap kelompok teroris atau milisi sektarian, terdapat jauh lebih banyak Muslim Sunni dan Syiah biasa yang mempertaruhkan nyawa demi melindungi sesama Muslim maupun kelompok minoritas agama di lingkungan mereka.
Namun dalam beberapa dekade terakhir, keadaan justru berbalik. Eropa mengalami kemajuan besar dalam membangun toleransi, sementara pluralisme agama yang dahulu menjadi ciri khas Timur Tengah mengalami kemunduran hingga kelompok-kelompok yang hanya berbeda sedikit dalam mazhab kini sering kali terlibat konflik berdarah. Para pemimpin Eropa kini rutin mengingatkan negara-negara Timur Tengah mengenai pentingnya melindungi hak-hak minoritas, sesuatu yang mungkin diterima hari ini, tetapi akan dianggap ironis jika dilihat dari sebagian besar sejarah.
Walaupun masyarakat Muslim modern mengalami kemunduran sehingga kini orang Eropa dapat mengklaim memiliki otoritas moral untuk mengajari mereka tentang keberagaman agama, sejarah menunjukkan bahwa masa-masa dengan tingkat toleransi tertinggi dalam dunia Islam justru bertepatan dengan periode kejayaan politik kekaisaran-kekaisaran Muslim. Pelajaran ini sering diabaikan oleh banyak pemimpin politik maupun tokoh agama masa kini yang memandang rendah kelompok minoritas.
Mitos yang Berbahaya
Mereka yang meyakini bahwa kemajuan dapat dicapai melalui pemaksaan kemurnian ideologi seharusnya belajar dari sejarah dan menghindari chauvinisme agama. Konflik yang saat ini dianggap terjadi antara Sunni dan Syiah merupakan produk dari peristiwa-peristiwa global yang relatif baru, terutama dampak Revolusi Iran 1979 dan bangkitnya gerakan Wahabi yang didukung kekuatan petrodolar.
Konflik tersebut bukanlah kelanjutan dari “perang 1.400 tahun”, melainkan lebih dipengaruhi oleh politik identitas modern. Berbagai pihak telah menciptakan sejarah palsu, simbol, dan ritual demi kepentingan politik mereka. Selain itu, kekuatan militer Barat juga berupaya memperbesar perpecahan ini guna menciptakan konflik internal di masyarakat Muslim yang menguntungkan kepentingan mereka sendiri.
Sementara kalangan neokonservatif berharap umat Islam saling menghancurkan, di luar arena politik masyarakat biasa tetap mempertahankan tradisi toleransi yang selama berabad-abad menjadi ciri peradaban Islam. Untuk setiap kisah tentang kekerasan sektarian, terdapat banyak kisah lain mengenai Sunni dan Syiah yang saling melindungi. Seorang petani Pakistan berusia 80 tahun bahkan berkata, “Saya menyaksikan persaudaraan Sunni-Syiah sejak masa kecil saya, bahkan sejak saya lahir.”
Di Rwanda, masyarakat yang mempercayai sejarah palsu akhirnya terdorong menuju kegilaan dan kehancuran. Kini pemerintah Rwanda telah menghapus kategori buatan kolonial “Hutu” dan “Tutsi” dan mengakui seluruh rakyatnya sebagai satu bangsa. Demikian pula, umat Islam perlu menolak mitos kasar tentang perang sektarian selama 1.400 tahun dan menyadari bahaya keyakinan semacam itu.
Sesungguhnya, jika perang tersebut benar-benar ada, maka Sunni dan Syiah tidak mungkin terus menikah satu sama lain dan hidup bertetangga hingga abad ke-21. Demikian pula, jutaan umat dari kedua mazhab tidak akan terus berkumpul secara damai dalam ibadah haji setiap tahunnya selama berabad-abad. Jika Islam ingin tetap menjadi kekuatan sosial yang konstruktif, maka hubungan-hubungan tradisional tersebut tidak boleh dihancurkan oleh ideologi-ideologi modern yang menyamar sebagai kebenaran sejarah.

