spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
Friday, March 20, 2026
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
HomeBeritaMenlu Turki: Serangan Iran kepada negara Teluk strategi yang salah

Menlu Turki: Serangan Iran kepada negara Teluk strategi yang salah

Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan menilai serangan Iran terhadap negara-negara Teluk serta harapan agar negara-negara tersebut menekan Amerika Serikat merupakan langkah yang keliru, baik secara strategis maupun taktis.

Menurut Fidan, tindakan tersebut justru berpotensi membuka jalan bagi permusuhan jangka panjang antara Iran dan negara-negara Teluk.

Pernyataan itu disampaikan Fidan dalam pertemuan khusus dengan sejumlah jurnalis yang mendampinginya dalam kunjungan ke kawasan Teluk, termasuk koresponden Al Jazeera. Dalam kunjungan tersebut, ia menghadiri pertemuan menteri luar negeri negara-negara Arab dan Islam yang digelar di Riyadh atas undangan Arab Saudi, sebagai bagian dari lawatan regional yang juga mencakup Qatar dan Uni Emirat Arab.

Dalam pertemuan dengan koresponden Al Jazeera Net pada Kamis, Kamal Ozturk, Fidan sempat menerima peringatan darurat di telepon genggamnya yang berbunyi, “Lokasi Anda sedang diserang. Segera menuju tempat aman.”

Meski demikian, Fidan dan rombongannya tetap berada di lobi hotel. Sekitar 10 menit setelah wawancara berakhir, ia berangkat menghadiri pertemuan para menteri luar negeri. Dalam perjalanan menuju lokasi, terdengar dua ledakan keras.

Belakangan, Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengumumkan berhasil mencegat enam rudal balistik dan dua pesawat nirawak yang diluncurkan Iran. Serpihan rudal dilaporkan memicu kebakaran di sejumlah lokasi, namun tidak menimbulkan korban jiwa maupun luka.

Dalam wawancara tersebut, Fidan juga mengungkapkan sempat berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, sesaat sebelum pertemuan dimulai.

“Saya bertanya kepadanya, apakah Anda mengirimkan ‘rudal penyambutan’ kepada kami? Apa ini?” ujar Fidan.

Ia kembali menegaskan bahwa menempatkan negara-negara Teluk dalam posisi sulit tidak akan menguntungkan Iran. “Menyerang negara-negara Teluk dan berharap mereka menekan Amerika Serikat bukanlah langkah yang tepat, baik secara strategis maupun taktis,” katanya.

Terkait agenda pertemuan di Riyadh, Fidan menyebut fokus utama adalah membahas serangan intensif Iran terhadap wilayah negara-negara Teluk. Negara-negara tersebut mempertanyakan alasan mereka menjadi sasaran, meskipun tidak terlibat dalam konflik, dan menilai serangan tersebut sebagai tindakan yang tidak adil, serta menegaskan hak untuk membalas.

Meski pernyataan bersama hasil pertemuan mengecam keras Iran, Fidan menilai tidak ada pesan tegas yang ditujukan kepada Israel dan Amerika Serikat. Ia menegaskan Turki tetap konsisten menentang agresi Israel maupun langkah Iran yang berpotensi memperluas konflik di kawasan.

“Dalam pertemuan di Riyadh, kami juga menekankan peran Israel dalam pecahnya perang ini dan mengingatkan ancaman dari ekspansi Israel di kawasan,” ujarnya.

Fidan menambahkan, Turki terus menyampaikan kritik terhadap Israel di berbagai forum internasional dan melalui jalur diplomasi di berbagai tingkat.

Menanggapi potensi eskalasi militer, Fidan mengatakan negara-negara Teluk sejak awal telah menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah udara maupun pangkalan mereka digunakan untuk menyerang Iran, serta menegaskan tidak menjadi pihak dalam konflik.

Namun, ia menilai Iran secara sengaja menargetkan infrastruktur sipil dan objek ekonomi, tidak hanya fasilitas militer.

Fidan memperingatkan bahwa jika situasi terus berlanjut, negara-negara Teluk dapat mengambil langkah balasan. Ia menyebut peringatan terakhir terkait hal tersebut telah disampaikan dalam pertemuan di Riyadh, terutama setelah meningkatnya intensitas serangan baru-baru ini.

“Kami tidak ingin situasi ini berkembang menjadi perang berkepanjangan yang meluas ke seluruh kawasan,” kata Fidan.

Ia menegaskan Turki akan terus mengupayakan penyelesaian melalui jalur diplomasi, termasuk lewat inisiatif regional seperti pertemuan di Riyadh, guna mengakhiri konflik secepat mungkin.

Pizaro Idrus
Pizaro Idrus
Kandidat PhD bidang Hubungan Internasional Universitas Sains Malaysia. Peneliti Asia Middle East Center for Research and Dialogue
ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler