RAMALLAH — Sejumlah pelajar Palestina dilaporkan mengalami sesak napas akibat paparan gas air mata yang ditembakkan pasukan Israel dalam sebuah operasi militer di wilayah Al-Mughayyir, timur Ramallah, Kamis (7/5/2026) kemarin waktu setempat.
Menurut laporan media lokal dan saksi mata, pasukan Israel yang didukung kendaraan militer serta buldoser menyerbu desa tersebut dan melepaskan granat kejut serta gas air mata ke arah Sekolah Putra Al-Mughayyir saat para siswa masih berada di dalam ruang kelas. Akibatnya, sejumlah pelajar mengalami gangguan pernapasan dan harus mendapatkan penanganan medis.
Dalam operasi itu, militer Israel juga mendirikan pos pemeriksaan di pintu masuk desa sehingga menghambat mobilitas warga keluar dan masuk kawasan. Gas air mata turut ditembakkan ke arah permukiman warga di sekitar lokasi penggerebekan.
Peristiwa tersebut menambah daftar panjang ketegangan dan operasi militer Israel di wilayah Tepi Barat yang diduduki. Dalam beberapa pekan terakhir, serangan terhadap sekolah, pelajar, dan warga sipil Palestina dilaporkan terus meningkat di sejumlah wilayah.
Di wilayah selatan Tepi Barat, kelompok pemukim Israel juga dilaporkan merusak lahan pertanian dan pohon zaitun milik warga Palestina di kawasan Masafer Yatta, selatan Hebron. Aktivis lokal menyebut para pemukim melepaskan ternak mereka ke area pertanian warga sehingga merusak tanaman dan bibit pohon zaitun.
Sementara itu, kantor berita Palestina WAFA melaporkan pasukan Israel turut menghancurkan sejumlah fasilitas pertanian di wilayah Za’tara, timur Bethlehem, serta kawasan Lembah Yordan utara. Infrastruktur yang dihancurkan meliputi rumah kaca pertanian dan tangki air milik warga Palestina.
Situasi di Tepi Barat terus memanas sejak pecahnya perang di Gaza pada Oktober 2023. Data Palestina menunjukkan lebih dari seribu warga Palestina tewas dan ribuan lainnya terluka akibat operasi militer, penembakan, serta kekerasan pemukim Israel di wilayah pendudukan tersebut.
Berbagai organisasi internasional sebelumnya juga telah memperingatkan meningkatnya ancaman terhadap akses pendidikan anak-anak Palestina akibat serangan militer, pembatasan pergerakan, dan kekerasan yang terus terjadi di Tepi Barat. (CKY)


