BEIRUT — Serangan udara dan drone Israel kembali mengguncang wilayah Lebanon selatan dan timur pada Rabu (6/5/2026) malam waktu setempat, menewaskan sedikitnya 16 orang dan melukai 21 lainnya, meskipun kesepakatan gencatan senjata masih berlaku. Serangan terbaru ini juga menyebabkan kerusakan pada sebuah sekolah dan melukai sejumlah tenaga medis.
Menurut laporan kantor berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA), serangan drone Israel menghantam kota Mefdoun dan menewaskan dua orang. Serangan lain menyasar area antara Zawtar al-Sharqiya dan Zawtar al-Gharbiya di Lebanon selatan.
Di wilayah Bekaa Barat, empat orang dilaporkan tewas setelah serangan udara menghantam rumah kepala dewan kota di Zellaya. Tim penyelamat masih terus melakukan pencarian di lokasi reruntuhan.
Sementara itu, sebuah kendaraan yang melintas di antara Zawtar al-Sharqiya dan Mifdoun juga menjadi sasaran serangan Israel, menyebabkan dua korban jiwa. Serangan lainnya di kota Aadchit, distrik Nabatieh, menewaskan satu orang.
Kekerasan juga menyasar petugas kemanusiaan. Drone Israel dilaporkan menyerang paramedis yang berafiliasi dengan Islamic Health Authority di kota Deir Kifa. Tiga tenaga medis mengalami luka-luka dan langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan.
Di kawasan Saksakiyeh, wilayah Zahrani, serangan udara Israel menewaskan lima orang dan melukai sedikitnya 15 lainnya. Selain korban manusia, serangan juga merusak sebuah sekolah di Lebanon selatan, memperdalam kekhawatiran terhadap keselamatan warga sipil di tengah konflik yang terus berlanjut.
Gelombang serangan terbaru ini dinilai sebagai pelanggaran terhadap gencatan senjata sementara yang dimulai pada pertengahan April lalu. Kesepakatan tersebut sebelumnya dimediasi Amerika Serikat untuk meredakan konflik antara Israel dan Hizbullah yang telah memicu krisis kemanusiaan besar di Lebanon.
Meski gencatan senjata telah diperpanjang hingga pertengahan Mei, laporan berbagai media internasional menyebutkan serangan udara dan bentrokan bersenjata masih terus terjadi hampir setiap hari di wilayah Lebanon selatan.
Konflik yang kembali memanas sejak awal Maret itu telah menewaskan ribuan orang dan memaksa lebih dari satu juta warga Lebanon mengungsi dari rumah mereka. Situasi tersebut memperburuk kondisi kemanusiaan di negara yang tengah menghadapi krisis ekonomi berkepanjangan.


