HomeBeritaKondisi Kesehatan Saif Abukeshek Memburuk di Tahanan Israel, GSF Desak Pembebasan Para...

Kondisi Kesehatan Saif Abukeshek Memburuk di Tahanan Israel, GSF Desak Pembebasan Para Tahanan

ASKALAN – Koalisi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) mendesak pembebasan segera terhadap aktivis pro Palestina berkewarganegaraan Spanyol-Swedia, Saif Abukeshek, yang mengalami penyiksaan psikologis, intimidasi, hingga memburuknya kondisi kesehatan selama berada dalam tahanan Shikma milik Israel.

Laporan terbaru, yang dirilis Kamis (7/5/2026) malam waktu setempat dari pejabat konsuler Swedia mengonfirmasi bahwa Saif bersama aktivis Brasil, Thiago Ávila, mengalami penahanan yang dinilai bermuatan politik dan melanggar hukum internasional. Keduanya dilaporkan menghadapi ancaman, perlakuan kasar, serta kondisi penahanan yang membahayakan keselamatan mereka.

Menurut laporan tersebut, selama proses interogasi yang berlangsung berjam-jam, aparat Israel berulang kali mengancam Saif. Ia disebut diberitahu bahwa dirinya akan “membusuk di penjara seumur hidup” dan tidak akan pernah bertemu keluarganya lagi. Bahkan, ancaman juga diarahkan kepada keluarganya, termasuk anaknya.

GSF mengatakan interogasi dilakukan dengan tekanan psikologis intens melalui bentakan, intimidasi, dan tuduhan berulang yang bertujuan melemahkan mental tahanan. Selain itu, Saif juga mengaku mengalami kekerasan saat dipindahkan antara pusat tahanan dan pengadilan. Ia disebut ditutup matanya setiap kali keluar sel, diperlakukan secara kasar, serta menerima penghinaan verbal secara terus-menerus.

Saif ditangkap oleh pasukan Israel di perairan internasional dekat Yunani saat mengikuti misi flotilla kemanusiaan non-kekerasan yang bertujuan membuka blokade Israel terhadap Gaza. Lebih dari 170 aktivis yang sempat ditahan, sebagian besar telah dibebaskan. Namun Saif dan Thiago masih ditahan tanpa dakwaan resmi. Pemerintah Spanyol dan Brasil sebelumnya telah menyatakan bahwa penahanan tersebut ilegal.

Situasi kesehatan Saif kini dilaporkan semakin kritis setelah ia meningkatkan aksi mogok makannya menjadi mogok makan dan minum, yakni menolak makanan sekaligus air sebagai bentuk protes terhadap penahanannya. Pejabat Kedutaan Swedia disebut telah memperingatkan otoritas Israel mengenai kebutuhan pemantauan medis secara intensif.

Dalam laporan itu disebutkan Saif mengalami gula darah rendah, tekanan darah tinggi, kelelahan berat, dan kondisi tubuh yang semakin melemah. Ia juga dilaporkan pernah dipaksa berada dalam posisi menyakitkan saat tangan dan tubuhnya diikat hingga membutuhkan bantuan oksigen, sebelum kembali dipaksa ke posisi serupa.

Selain itu, Saif mengaku mengalami isolasi berkepanjangan, pemindahan secara kasar, penutupan mata dalam waktu lama, serta pengawasan kamera selama 24 jam penuh di dalam tahanan.

Global Sumud Flotilla menyerukan kepada pemerintah Swedia untuk segera menuntut pembebasan Saif dan mengecam perlakuan terhadapnya secara terbuka. Organisasi tersebut juga meminta lembaga hak asasi manusia internasional, media global, dan masyarakat dunia untuk memberikan tekanan publik demi pembebasan Saif, Thiago, serta para tahanan politik Palestina lainnya.

Dalam pernyataannya, GSF menegaskan bahwa apa yang dialami Saif bukanlah kasus terpisah, melainkan bagian dari sistem penahanan dan persekusi politik yang telah lama diberlakukan terhadap rakyat Palestina. (CKY)

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler