BEIRUT – Badan Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mengungkapkan sedikitnya 200 anak tewas di Lebanon akibat serangan Israel yang terus berlangsung sejak 2 Maret 2026. Selain korban jiwa, ratusan anak lainnya mengalami luka-luka dan trauma psikologis akibat eskalasi konflik yang belum mereda meski gencatan senjata telah diumumkan.
Dalam pernyataannya, UNICEF menyebut anak-anak di Lebanon masih berada di garis depan kekerasan, pengungsian, dan paparan peristiwa traumatis setiap hari. Organisasi tersebut menilai situasi kemanusiaan bagi anak-anak semakin memburuk di tengah serangan yang terus terjadi di berbagai wilayah Lebanon.
“Anak-anak di Lebanon terus menjadi pihak yang paling terdampak oleh kekerasan yang berlangsung, pengungsian, dan pengalaman traumatis,” demikian pernyataan UNICEF dikutip dari middleeastmonitor.com, Jumat (15/5/2026).
UNICEF melaporkan bahwa dalam sepekan terakhir saja, sedikitnya 59 anak tewas atau terluka meskipun gencatan senjata telah berlaku sejak 17 April 2026. Data Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan sebanyak 23 anak meninggal dunia dan 93 lainnya terluka sejak kesepakatan gencatan senjata diberlakukan.
Secara keseluruhan, jumlah korban anak sejak konflik kembali memanas pada awal Maret mencapai 200 anak meninggal dan 806 lainnya terluka. UNICEF menyebut angka tersebut setara dengan hampir 14 anak menjadi korban setiap hari.
Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder, mengatakan anak-anak seharusnya dapat kembali bersekolah dan menjalani kehidupan normal, bukan hidup dalam ancaman serangan bersenjata.
“Anak-anak terbunuh dan terluka ketika seharusnya mereka kembali ke ruang kelas, bermain bersama teman-teman, dan pulih dari berbulan-bulan ketakutan,” ujar Beigbeder.
UNICEF juga memperingatkan dampak psikologis yang dialami anak-anak Lebanon semakin mengkhawatirkan. Lebih dari 770 ribu anak dilaporkan mengalami tekanan mental serius akibat paparan kekerasan berulang, pengungsian, serta kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggal. Gejala yang muncul meliputi rasa takut berkepanjangan, kecemasan, mimpi buruk, insomnia, hingga keputusasaan.
Sementara itu, serangan udara Israel dilaporkan terus berlangsung di sejumlah wilayah Lebanon selatan dan tengah menjelang pembicaraan yang dimediasi Amerika Serikat antara Lebanon dan Israel di Washington. Menurut laporan Reuters, lebih dari 2.800 orang telah tewas di Lebanon sejak konflik kembali meningkat pada Maret lalu dan lebih dari 1,2 juta warga terpaksa mengungsi.
Komunitas internasional dan lembaga kemanusiaan kini terus mendesak penghentian kekerasan serta perlindungan terhadap warga sipil, terutama anak-anak, yang menjadi kelompok paling rentan dalam konflik berkepanjangan di kawasan tersebut. (cky)


