ABU DHABI – Uni Emirat Arab (UEA) dan Israel dilaporkan telah membentuk dana bersama untuk mengakuisisi serta mengembangkan sistem persenjataan baru. Langkah tersebut disebut menjadi indikator semakin eratnya kerja sama pertahanan kedua negara di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
Laporan Middle East Eye (MEE) yang terbit pada 18 Mei 2026 mengutip seorang pejabat aktif dan mantan pejabat Amerika Serikat yang mengetahui perkembangan tersebut. Menurut mereka, kedua negara akan menjalankan program pengadaan bersama (joint acquisition) berbagai sistem senjata dalam kerangka kemitraan pertahanan yang baru dibentuk.
Seorang pejabat AS mengatakan UEA juga berpotensi mendanai pengembangan teknologi dalam sistem pertahanan udara Israel. Kesepakatan itu disebut semakin menguat setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melakukan kunjungan ke UEA selama berlangsungnya perang AS-Israel melawan Iran.
Menurut sumber tersebut, fokus awal kerja sama mencakup pengembangan dan pengadaan sistem anti-pesawat nirawak (Counter-Unmanned Aircraft Systems/C-UAS) serta berbagai sistem pertahanan udara lainnya.
Mantan pejabat AS yang diwawancarai MEE menyebut dana tersebut telah menerima alokasi dana dalam jumlah besar dan kemungkinan tidak hanya digunakan untuk sektor pertahanan udara.
“Hubungan UEA-Israel saat ini berada pada titik terbaik sepanjang sejarah. Ini merupakan kerja sama paling dekat yang pernah dimiliki Israel dengan negara Arab,” kata Yoel Guzansky, peneliti senior Institute for National Security Studies (INSS) yang berbasis di Tel Aviv.
Dampak Perang Iran
Kerja sama tersebut berkembang setelah konflik antara Iran dan koalisi AS-Israel. Dalam perang yang berlangsung pada Februari lalu, Iran meluncurkan ribuan rudal dan drone ke berbagai wilayah Teluk.
UEA disebut menjadi salah satu negara yang paling terdampak, dengan hampir 3.000 rudal dan drone Iran dilaporkan menargetkan wilayah negara tersebut.
Pada Mei lalu, Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee mengonfirmasi bahwa Israel mengirimkan baterai pertahanan udara Iron Dome beserta personel untuk membantu pengoperasiannya di UEA selama konflik berlangsung.
Guzansky menilai pembentukan dana bersama merupakan langkah logis berikutnya dalam hubungan kedua negara.
“Israel membutuhkan dana UEA. Kami memiliki teknologi, tetapi kekurangan sumber daya. UEA memiliki sumber daya, tetapi tidak memiliki teknologi yang sama,” ujarnya.
Diversifikasi Sumber Pendanaan Israel
Kerja sama ini juga dinilai memiliki dimensi strategis bagi Israel yang selama puluhan tahun menjadi penerima utama bantuan militer Amerika Serikat.
Selain menerima sekitar 3 miliar dolar AS per tahun dalam bantuan militer, Amerika Serikat juga menggelontorkan tambahan sekitar 21 miliar dolar AS untuk mendukung pertahanan Israel hingga September 2025, menurut data Costs of War Project Universitas Brown.
Pakar Timur Tengah dari Universitas Princeton, Bernard Haykel, mengatakan Israel memiliki alasan untuk mencari sumber pendanaan alternatif di tengah menurunnya dukungan publik Amerika terhadap negara tersebut.
“UEA memiliki uang. Ketika pendanaan dari AS menghadapi tekanan, masuk akal bagi Israel untuk melakukan diversifikasi,” kata Haykel.
Investasi Pertahanan Semakin Dalam
Kerja sama pertahanan yang lebih erat antara UEA dan Israel merupakan salah satu tujuan utama yang diusung dalam Perjanjian Abraham (Abraham Accords) yang ditandatangani pada 2020 dan menormalisasi hubungan kedua negara.
Pada Juni 2025, perusahaan pertahanan UEA Edge Group mengakuisisi 30 persen saham perusahaan teknologi pertahanan Israel Thirdeye Systems, yang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk drone.
Bloomberg juga melaporkan bahwa Putra Mahkota Abu Dhabi Khaled bin Mohammed Al-Nahyan telah menggelar pembicaraan mengenai pembentukan instrumen investasi yang berfokus pada sektor pertahanan.
Berbeda dengan Negara Teluk Lain
Pendekatan UEA terhadap Israel dinilai berbeda dibandingkan negara-negara Teluk lainnya, termasuk Arab Saudi.
Meski sama-sama menentang perang AS terhadap Iran, Riyadh disebut lebih memilih memperkuat hubungan keamanan dengan Pakistan, Turki, dan Mesir. Sementara Abu Dhabi justru memperdalam kerja sama strategis dengan Israel.
Direktur Timur Tengah dan Afrika Utara Eurasia Group, Firas Maksad, menilai kedekatan UEA dengan Israel merupakan bagian dari strategi menghadapi ancaman Iran.
“Semakin tegang hubungan dengan Iran, semakin erat pula hubungan UEA dengan Israel dan semakin dalam kerja sama keamanan di antara keduanya,” ujarnya.
Menurut Maksad, hubungan strategis dengan Israel kini menjadi salah satu instrumen utama Abu Dhabi dalam menjaga posisi tawarnya terhadap Teheran di tengah dinamika keamanan kawasan yang terus berubah.


