HomeBeritaKrisis Internal Militer Israel: Laporan Pelecehan Seksual Terus Bertambah

Krisis Internal Militer Israel: Laporan Pelecehan Seksual Terus Bertambah

Data militer Israel menunjukkan peningkatan jumlah laporan pelecehan dan kekerasan seksual di lingkungan militer sepanjang 2025. Temuan tersebut memicu kekhawatiran sejumlah anggota parlemen yang menyebut angkanya sebagai sesuatu yang “sangat mengkhawatirkan”.

Menurut laporan media Israel yang terbit Selasa (19/5), sebanyak 2.420 pengaduan terkait kekerasan seksual diajukan pada tahun lalu. Angka itu meningkat sekitar 350 kasus dibandingkan tahun sebelumnya.

Data tersebut dirilis oleh Unit Penasihat Urusan Gender Kepala Staf Militer Israel, yang bertanggung jawab menangani isu-isu terkait personel perempuan di militer.

Unit tersebut menyebutkan bahwa dari ribuan laporan yang masuk, hanya 42 kasus yang berujung pada dakwaan hukum, sementara 21 kasus lainnya diselesaikan melalui tindakan disipliner internal.

Dalam lebih dari 700 kasus, militer menggelar apa yang disebut sebagai “diskusi tingkat komando”, di mana terlapor diberikan peringatan atau teguran oleh atasan mereka.

Parlemen Soroti Angka yang Mengkhawatirkan

Anggota parlemen dari partai oposisi Yesh Atid, Meirav Ben Ari, yang menginisiasi sidang khusus mengenai isu tersebut di Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan Knesset, mengatakan angka yang muncul dalam laporan itu sangat memprihatinkan.

“Data ini sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.

Ben Ari menegaskan bahwa militer harus menggunakan seluruh instrumen yang tersedia untuk menekan kasus pelecehan seksual, mencegah terjadinya pelanggaran, serta memberikan dukungan kepada korban selama masa dinas mereka.

Militer Klaim Sistem Pelaporan Lebih Dipercaya

Pihak militer Israel menyatakan peningkatan laporan dalam satu dekade terakhir mencerminkan meningkatnya kepercayaan personel terhadap sistem pelaporan internal serta bertambahnya kesediaan korban untuk melapor.

Militer juga menegaskan bahwa mereka menerapkan kebijakan “nol toleransi” terhadap segala bentuk pelecehan dan kekerasan seksual.

Dalam keterangannya, militer menyatakan akan terus berupaya menciptakan lingkungan dinas yang aman bagi seluruh personel.

“Perlindungan terhadap para prajurit merupakan syarat dasar bagi kesiapan operasional, kepercayaan terhadap komando, dan ketahanan militer,” demikian pernyataan militer Israel.

Meningkat Sejak Perang Gaza

Data terbaru tersebut muncul hanya sepekan setelah seorang perwira senior militer Israel diskors menyusul tuduhan melakukan pelecehan seksual terhadap seorang prajurit perempuan yang berada di bawah komandonya.

Surat kabar Israel Hayom melaporkan bahwa jumlah pengaduan kekerasan seksual di lingkungan militer terus meningkat sejak pecahnya perang Gaza pada Oktober 2023.

Peningkatan itu disebut dipengaruhi oleh bertambahnya kesadaran mengenai kekerasan seksual di kalangan militer serta melonjaknya jumlah personel setelah ratusan ribu pasukan cadangan dimobilisasi untuk mendukung operasi militer.

Kekerasan Seksual di Israel Juga Meningkat

Peningkatan kasus tidak hanya terjadi di lingkungan militer. Data dari Association of Rape Crisis Centres in Israel, organisasi yang menangani korban kekerasan seksual, menunjukkan tren serupa di masyarakat Israel secara umum.

Organisasi tersebut menerima lebih dari 16.000 panggilan bantuan sepanjang 2024, dengan perempuan mencakup lebih dari 85 persen dari seluruh pelapor.

Pada 2023, pusat-pusat layanan mereka menerima lebih dari 17.000 laporan, meningkat sekitar 26 persen dibandingkan 2018.

Tuduhan Kekerasan Seksual terhadap Tahanan Palestina

Di tengah pembahasan mengenai peningkatan kasus pelecehan seksual di militer Israel, laporan tersebut mencatat bahwa Komite Urusan Luar Negeri dan Pertahanan tidak membahas tuduhan kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina yang dilakukan oleh personel militer maupun aparat keamanan Israel.

Pekan lalu, The New York Times menerbitkan investigasi yang menyebut adanya praktik kekerasan seksual sistematis terhadap warga Palestina oleh aparat keamanan Israel. Laporan itu memicu kontroversi di Israel.

Kementerian Luar Negeri Israel menyatakan bahwa Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar telah menginstruksikan langkah hukum terhadap surat kabar tersebut atas dugaan pencemaran nama baik.

Sementara itu, berbagai organisasi hak asasi manusia, media internasional, serta laporan investigasi independen sebelumnya telah mendokumentasikan tuduhan kekerasan seksual terhadap tahanan Palestina sejak Oktober 2023.

Pada Desember tahun lalu, dua tahanan Palestina yang diwawancarai Middle East Eye mengaku mengalami pemerkosaan saat berada dalam tahanan Israel. Salah satu korban mengklaim mengalami kekerasan seksual yang melibatkan anjing militer, sementara korban lainnya mengaku diperkosa menggunakan benda tajam dalam kondisi mata tertutup.

Sebuah komisi penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun lalu juga menuduh Israel menggunakan penyiksaan seksual dan pemerkosaan sebagai bagian dari metode perang untuk menekan dan menghancurkan masyarakat Palestina. Israel membantah berbagai tuduhan tersebut.

ARTIKEL TERKAIT
- Advertisment -spot_img

Terpopuler