GAZA CITY — Hubungan Saladin dengan Gaza berlangsung selama dua puluh tiga tahun — dari serangan pertamanya pada 1170 hingga kematiannya pada 1193. Dalam dua puluh tiga tahun itu, ia datang ke Gaza setidaknya empat kali, dengan niat yang berbeda-beda: sebagai penyerang, sebagai penakluk, sebagai pembangun, dan akhirnya sebagai penghancur benteng yang baru saja ia rebut.
Gaza bagi Saladin bukan sekadar kota — ia adalah kunci. Siapa yang menguasai Gaza menguasai jalan antara Mesir dan Palestina. Siapa yang kehilangan Gaza kehilangan kemampuan untuk bergerak bebas antara dua jantung kekuasaannya.
1170: Gaza Sebagai Pengalih Perhatian
Pertama kali Saladin menyentuh Gaza, ia bukan datang untuk merebut kota itu. Serangan Saladin ke kawasan Gaza pada Desember 1170 adalah serangan pengalih perhatian — tujuan sesungguhnya adalah merebut Ayla di ujung Teluk Aqaba, yang selama ini memblokir jalur ziarah dari Mesir ke Mekkah.
Strateginya sederhana tapi efektif. Pada 10 Desember, ia menyerang Darum dan mengepungnya selama dua hari. Ketika Raja Amalric dari Jerusalem bergerak menuju Darum, Saladin meninggalkan pengepungan, menyerang Gaza, lalu mundur — sehingga pasukan Tentara Salib tertarik ke pantai Mediterania. Sementara perhatian Tentara Salib terfokus ke barat, pasukan Saladin yang sesungguhnya bergerak ke timur menuju Ayla.
Saladin berhasil merebut kota Gaza dan menjarahnya, tapi tidak mampu merebut benteng Templar yang berdiri di atas bukit. Kastil Templar dengan tembok tebalnya bertahan. Tapi kota di sekitarnya — kawasan faubourg dengan penduduk sipilnya — tidak.
Ayla jatuh ke tangan Saladin pada 31 Desember 1170. Operasi itu, dengan Gaza sebagai pengalihnya, berhasil. Jalur ziarah dari Mesir ke Mekkah kembali terbuka. Nama Saladin mulai diperhitungkan di seluruh dunia Muslim.
1177: Pertempuran yang Hampir Mengubah Segalanya
Tujuh tahun kemudian, Saladin kembali. Kali ini dengan ambisi yang lebih besar: merebut seluruh kawasan selatan Palestina dan membuka jalan ke utara.
Pada November 1177, puluhan ribu pasukannya menyebar di kawasan antara Gaza dan Ascalon, mengambil perbekalan dari daerah sekitar. Strategi itu terlihat berhasil — Tentara Salib tampak tidak mampu merespons dengan kekuatan yang sebanding.
Namun sesuatu yang tidak diprediksi terjadi: para ksatria Templar keluar dari Kastil Gaza dan menyerang pasukan Saladin yang sedang tersebar dan tidak bersiaga. Dalam pertempuran yang berlangsung di Montgisard, salah seorang ksatria Templar hampir berhasil mencapai Saladin sendiri sebelum ditumbangkan oleh pengawal sang sultan. Saladin, terguncang, melarikan diri dari medan pertempuran.
Kekalahan di Montgisard meninggalkan luka yang dalam pada Saladin — bukan luka fisik, melainkan luka pada reputasi yang selama ini ia bangun dengan hati-hati. Ia menghabiskan tahun-tahun berikutnya mempersiapkan pembalasan yang lebih terencana.
Agustus 1187: Gaza Jatuh Tanpa Pertempuran
Setelah kemenangan menentukan di Pertempuran Hattin pada 4 Juli 1187, Saladin bergerak cepat. Pada Agustus 1187, pasukan Ayyubiyah merebut Ramla, Darum, Gaza, Bayt Jibrin, dan Latrun. Ascalon jatuh pada 4 September.
Gaza direbut bukan melalui pertempuran. Para Templar di Gaza menyerahkan kastil mereka kepada Saladin dengan imbalan pembebasan Grand Master mereka, Gerard de Ridefort, yang ditangkap di Hattin. Sebuah benteng yang tidak pernah berhasil ditembus selama empat puluh tahun diserahkan begitu saja sebagai tebusan satu orang.
Setelah Gaza jatuh, Saladin menghadapi keputusan yang tidak mudah: apa yang harus dilakukan dengan kota itu? Membiarkan tembok Templar yang kuat berdiri berarti mengizinkan kota itu menjadi basis pertahanan yang bisa digunakan melawan dirinya sendiri di kemudian hari. Menghancurkannya berarti merobohkan infrastruktur yang susah payah dibangun.
Ia memilih pilihan ketiga: mengubah fungsinya. Katedral Santo Yohanes — yang selama empat puluh tahun menjadi gereja Tentara Salib — dihancurkan oleh Ayyubiyah pada 1187, kemudian dibangun kembali sebagai masjid oleh Mamluk pada awal abad ke-13.
Krisis Ketiga Perang Salib: Gaza sebagai Kartu Tawar
Ketenangan itu tidak bertahan lama. Pada 1189, Tentara Salib Ketiga tiba di bawah pimpinan tiga raja Eropa: Richard I dari Inggris, Philip II dari Prancis, dan Frederick Barbarossa dari Kekaisaran Romawi Suci. Penaklukan kembali Jerusalem pada 1187 mendorong Paus Gregorius VIII mengorganisasi Perang Salib Ketiga.
Perang Salib Ketiga berlangsung dari 1189 hingga 1192 dan menjadi ujian paling berat bagi Saladin. Dari 1189 hingga 1192, Saladin kehilangan Acre dan Jaffa dan dikalahkan di lapangan terbuka di Arsuf. Gaza kembali menjadi titik perhatian strategis — terletak di antara kekuatan Saladin di selatan dan posisi Tentara Salib yang kembali menguat di utara.
Saladin memerintahkan penghancuran fortifikasi Gaza pada September 1191. Keputusan itu mencerminkan logika pertahanan yang murni: jika Gaza tidak bisa dipertahankan dengan cukup pasukan, lebih baik tidak ada tembok yang bisa digunakan musuh sebagai basis.
Meski demikian, pada 1192 Richard I merebut kembali kota itu dan membangun kembali temboknya. Saladin merespons dengan cara yang sama: ketika perjanjian damai akhirnya disepakati, tembok itu harus dihancurkan lagi.
Perjanjian Jaffa 1192: Gaza Akhirnya Ditinggalkan Tembok
Pada 2 September 1192, Richard dan Saladin menandatangani perjanjian damai tiga tahun. Di bawah ketentuannya, pesisir dari Jaffa ke utara tetap di tangan Kristen, namun Ascalon dikembalikan kepada Saladin setelah fortifikasinya dihancurkan oleh pasukan Richard.
Gaza masuk dalam wilayah yang kembali ke tangan Ayyubiyah. Tapi kota itu kini berdiri tanpa tembok yang berarti — dihancurkan dua kali dalam setahun oleh dua pihak yang berbeda, masing-masing dengan alasan strategis yang berbeda pula.
Saladin tidak sempat menyaksikan Gaza yang damai. Ia meninggal di Damaskus pada 4 Maret 1193 — tujuh bulan setelah perjanjian ditandatangani, kelelahan setelah dua dekade perang yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Apa yang Saladin Tinggalkan di Gaza
Setelah Saladin meninggal, Gaza menjadi bagian dari wilayah yang diperebutkan oleh anak-anaknya. Setelah kematian Saladin, wilayahnya terbagi di antara anak-anaknya yang banyak: putra keduanya al-Aziz Uthman mengambil Mesir, sementara putra tertuanya al-Afdal mengambil Damaskus, dan putra ketiganya az-Zahir mengambil Aleppo. Gaza dan Palestina selatan berada dalam zona abu-abu di antara kepentingan Mesir dan Damaskus.
Apa yang Saladin tinggalkan di Gaza bukan berupa bangunan megah atau sistem administrasi yang terorganisasi. Warisannya di Gaza lebih bersifat simbolik dan strategis: ia membuktikan bahwa Palestina selatan bisa disatukan kembali di bawah satu kekuasaan Muslim setelah hampir satu abad di bawah Tentara Salib, dan bahwa Gaza — dengan semua kerumitan geografis dan strategisnya — adalah kunci yang tidak bisa diabaikan oleh siapapun yang ingin menguasai kawasan antara Nil dan Yordan.
Masjid Agung Gaza yang dibangun kembali dari reruntuhan katedral Tentara Salib adalah satu-satunya jejak fisik era Ayyubiyah yang bertahan — meski kemudian dibangun ulang oleh Mamluk setelah Mongol menghancurkannya pada 1260, dan terus berganti rupa hingga ia akhirnya runtuh di bawah serangan udara pada Desember 2023.
Saladin tidak membangun Gaza. Ia merebutnya, menghancurkan sebagian temboknya, lalu meninggalkannya kepada penerus-penerusnya untuk diurus. Kota itu terlalu penting untuk diabaikan, tapi terlalu berisiko untuk ditinggalkan utuh di tangan musuh. Itulah dilema Gaza yang terus berulang, jauh melampaui era Saladin.


