GAZA – Warga Gaza berbondong-bondong menghadiri prosesi pemakaman 112 anggota keluarga Hassayna dan Abu Sharia yang gugur akibat serangan Israel pada tahun 2023. Jenazah mereka baru berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan dalam beberapa pekan terakhir, menurut Pertahanan Sipil Gaza (Gaza Civil Defense) dilansir dari Quds News Network, Selasa (4/8).
Di antara para korban terdapat 40 anak-anak, 38 perempuan, dan tujuh penyandang disabilitas.
Pada Sabtu lalu, Pertahanan Sipil Palestina mengonfirmasi tim penyelamat berhasil mengevakuasi jenazah 112 warga Palestina dari bawah puing-puing rumah keluarga Hassayna dan Abu Sharia di kawasan Sabra, selatan Kota Gaza.
Sekitar 300 anggota keluarga menjadi syahid ketika Israel membombardir rumah mereka pada masa awal genosida di Gaza. Serangan tersebut mengubur seluruh anggota keluarga hidup-hidup di tempat mereka berlindung.
Operasi evakuasi ini menjadi salah satu pengangkatan jenazah terbesar sejak gencatan senjata diberlakukan dan kembali memperlihatkan besarnya pembunuhan yang dilakukan Israel terhadap keluarga-keluarga Palestina di dalam rumah mereka sendiri.
Proses evakuasi berlangsung selama 136 jam tanpa henti. Tim penyelamat menggunakan tangan dan peralatan ringan untuk mengangkat bongkahan beton demi menjangkau jenazah yang telah tertimbun selama berbulan-bulan.
Banyak jasad telah membusuk hingga sulit dikenali. Tim penyelamat berupaya semaksimal mungkin menjaga sisa-sisa jenazah agar dapat diidentifikasi, sehingga keluarga dapat memakamkan kerabat mereka dengan nama, bukan sekadar sebagai korban tanpa identitas
Pertahanan Sipil juga menyatakan 157 jenazah lainnya masih belum ditemukan, hingga kini keberadaannya belum diketahui.
Operasi pencarian di kawasan Sabra telah berlangsung selama beberapa hari. Sekitar dua pekan sebelumnya, tim Pertahanan Sipil juga berhasil mengevakuasi 99 jenazah warga Palestina dari reruntuhan rumah keluarga Abu Sharia dan Al-Hassayna di lingkungan yang sama, yang menjadi salah satu lokasi dengan jumlah korban jiwa terbanyak.
Secara keseluruhan, ratusan warga Palestina di kawasan Sabra syahid di rumah mereka sendiri dan tetap terkubur selama berbulan-bulan karena Israel menghalangi masuknya alat berat yang diperlukan untuk proses evakuasi.
Di seluruh Jalur Gaza, Pertahanan Sipil kini mengintensifkan upaya pencarian dan evakuasi korban setelah intensitas pemboman mereda. Tim penyelamat menyisir kawasan-kawasan yang hancur total, tempat ribuan jenazah diperkirakan masih tertimbun di bawah reruntuhan.
Para petugas menggambarkan bagaimana mereka menemukan rumah-rumah yang seluruh penghuninya gugur bersama, dengan jasad orang tua dan anak-anak ditemukan berdampingan. Proses pencarian diperkirakan akan berlangsung selama berbulan-bulan mengingat luasnya kerusakan serta minimnya alat berat yang tersedia.
Pertahanan Sipil Gaza berulang kali menyerukan bantuan mendesak dari komunitas internasional untuk mendukung operasi tersebut. Mereka menyatakan kekurangan alat berat, bahan bakar, dan sumber daya yang dibutuhkan untuk mengangkat jutaan ton puing beton serta menjangkau ribuan keluarga Palestina yang masih terkubur di bawah rumah mereka.
Lembaga tersebut mendesak organisasi internasional segera bertindak dan tidak membiarkan para korban tetap berada di bawah reruntuhan. Menurut mereka, tanpa dukungan yang memadai, banyak keluarga Palestina tidak akan pernah memperoleh kepastian mengenai nasib maupun jenazah orang-orang yang mereka cintai.


