HomeSejarah Indonesia-PalestinaSejarah PalestinaGaza dan Baitul Maqdis: Sejarah Dua Kota yang Selalu Jatuh Bersama

Gaza dan Baitul Maqdis: Sejarah Dua Kota yang Selalu Jatuh Bersama

GAZA CITY — Dalam peta militer dan politik kawasan ini selama lebih dari tiga ribu tahun, Gaza dan Baitul Maqdis (Yerusalem) jarang berdiri sendiri-sendiri. Siapa pun yang menguasai Gaza — gerbang selatan menuju dataran tinggi Palestina — pada akhirnya menentukan siapa yang akan menguasai kota suci di utaranya.

Jarak kedua kota itu sekitar 75 kilometer garis lurus, atau sekitar 96 kilometer lewat jalan darat modern dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam. Namun jarak fisik yang relatif pendek ini menyembunyikan pola sejarah yang berulang: hampir setiap kekuatan besar yang ingin merebut Yerusalem terlebih dahulu harus melewati, menaklukkan, atau menguasai Gaza.

Gerbang di Ujung Via Maris

Secara geografis, Gaza duduk di ujung selatan jalur pesisir kuno yang oleh orang Latin disebut Via Maris — “jalan laut” — rute perdagangan kuno sejak awal Zaman Perunggu yang menghubungkan Mesir dengan kerajaan-kerajaan di utara: Suriah, Anatolia, dan Mesopotamia, mengikuti garis pantai Mediterania. Rute ini kadang disebut juga “Jalan Bangsa Filistin”.

Dari Gaza, jalur ini bercabang ke arah pedalaman menuju dataran tinggi Yudea tempat Yerusalem berdiri. Artinya, pasukan mana pun yang bergerak dari Mesir menuju Yerusalem — baik untuk berdagang, berziarah, maupun berperang — nyaris selalu singgah di Gaza lebih dulu. Posisi ini membuat Gaza berfungsi sebagai titik kontrol strategis: siapa yang memegang Gaza, memegang kunci menuju Baitul Maqdis dari arah selatan.

Satu Provinsi di Bawah Islam Awal

Pola strategis ini menjadi administratif ketika Islam memasuki Palestina pada abad ketujuh. Setelah penaklukan Muslim atas Syam, wilayah ini diorganisasi menjadi distrik militer yang disebut jund. Jund Filastin — salah satu distrik militer Kekhalifahan Umayyah dan Abbasiyah di bawah provinsi Bilad al-Sham — dibentuk segera setelah penaklukan Muslim atas Levant pada dekade 630-an.

Menurut sejarawan al-Baladhuri, kota-kota utama distrik ini setelah penaklukan oleh Kekhalifahan Rasyidin adalah Gaza, Sebastia, Nablus, Kaisarea, Ludd, Yibna, Imwas, Jaffa, Rafah, dan Bayt Jibrin. Yerusalem sendiri, meski memiliki kedudukan keagamaan istimewa, awalnya bukan ibu kota administratif — ibu kota distrik mula-mula adalah Ludd, sebelum Khalifah Sulaiman ibn Abdul Malik memindahkannya ke kota baru bernama Ramla yang ia dirikan di dekatnya. Gaza dan Yerusalem, dengan kata lain, berada dalam satu unit administratif yang sama sejak awal era Islam.

Kesatuan ini tampak jelas dalam penaklukan itu sendiri. Panglima Amr ibn al-As — yang menurut catatan sejarawan menaklukkan Gaza pada musim panas 637 — adalah salah satu komandan yang turut mengepung Yerusalem bersama Khalid ibn al-Walid pada tahun yang sama, sebelum Khalifah Umar ibn al-Khattab datang secara langsung dari Madinah untuk menerima penyerahan kota tersebut. Umar tiba di Palestina lewat Jabiyah, disambut oleh Abu Ubaidah, Khalid, dan Yazid, sementara Amr ditinggalkan sebagai komandan pasukan pengepung. Gaza dan Yerusalem jatuh ke tangan Muslim dalam rentang waktu yang nyaris bersamaan, oleh jaringan komandan yang sama.

Ribat di Ujung Selatan

Dalam tradisi keagamaan awal Islam, kawasan selatan Palestina — termasuk Gaza dan tetangganya Asqalan — dikenal sebagai wilayah ribat, yakni penjagaan perbatasan dari serangan musuh. Sejumlah hadis yang diriwayatkan sejumlah perawi, salah satunya lewat jalur Ibnu Abbas, menyebut keutamaan berjaga di kawasan ini. Perlu dicatat, sebagian ulama hadis mempertanyakan tingkat keabsahan riwayat spesifik tersebut, dan literatur klasik sendiri berbeda pendapat soal batas persis wilayah yang dimaksud.

Terlepas dari perdebatan sanad, tradisi ini menunjukkan bagaimana Gaza secara historis dipandang sebagai perisai selatan bagi Baitul Maqdis — sebuah peran yang berulang kali terbukti secara militer pada abad-abad berikutnya.

Jatuh Berantai di Musim Panas 1187

Pola “Gaza dulu, baru Yerusalem” paling dramatis terlihat pada 1187. Setelah kemenangan telak Salahuddin al-Ayyubi atas pasukan Salib di Hattin pada Juli tahun itu, kota-kota Kerajaan Yerusalem tumbang satu demi satu. Gaza — yang saat itu dipegang Ksatria Templar — diserahkan sebagai bagian dari kesepakatan pembebasan Gerard de Ridefort, Grand Master Templar yang tertawan di Hattin.

Tak lama setelah itu, Ascalon, pelabuhan dan benteng penting, menyerah pada akhir Agustus 1187 setelah negosiasi, menandai hilangnya hampir seluruh pertahanan pesisir selatan dan menyusutkan wilayah kerajaan menjadi kantong-kantong yang terpisah. Baru setelah jalur selatan ini sepenuhnya diamankan, Salahuddin bergerak ke utara. Pada 20 September 1187 ia tiba di depan Yerusalem dan mengepung kota; setelah serangkaian pertempuran dan negosiasi, kota itu resmi menyerah pada 2 Oktober 1187. Urutan ini bukan kebetulan geografis — melainkan pengulangan pola yang sama sejak era penaklukan Islam awal: Gaza selalu jatuh, atau menyerah, sebelum Yerusalem.

Gerbang Menuju Yerusalem, 1917

Pola yang sama muncul kembali tujuh abad kemudian, dalam konteks yang sepenuhnya berbeda. Setelah dua kali gagal merebut Gaza pada awal 1917, Jenderal Edmund Allenby melancarkan Pertempuran Ketiga Gaza pada 1 November 1917, menaklukkan Beersheba lebih dulu untuk mengepung pertahanan Ottoman dari belakang. Pasukannya memasuki Gaza pada 7 November.

Jatuhnya Gaza ini membuka jalan menuju Yerusalem, yang direbut pada Desember 1917. Perintah dari Perdana Menteri David Lloyd George kepada Allenby adalah merebut Yerusalem sebelum Natal — dan itu tercapai lewat kemasukan tanpa kekerasan pada 11 Desember 1917. Allenby memasuki Yerusalem dengan berjalan kaki, sebagai kontras yang disengaja terhadap masuknya Kaisar Wilhelm II Jerman dengan menunggang kuda pada 1898. Sekali lagi, penguasaan Gaza menjadi prasyarat langsung bagi jatuhnya Baitul Maqdis.

Dipisahkan oleh Politik, Bukan oleh Geografi

Ikatan historis Gaza-Yerusalem baru benar-benar terputus secara administratif pada era modern. Ketika Perjanjian Oslo ditandatangani pada 1993, kedua pihak menegaskan memandang Tepi Barat dan Jalur Gaza sebagai satu unit teritorial tunggal yang keutuhannya harus dijaga selama masa transisi. Yerusalem sendiri dikecualikan dari kesepakatan itu — statusnya disisihkan untuk perundingan status permanen yang tak kunjung terlaksana.

Dalam Perjanjian Oslo, Israel berkomitmen membangun jalur aman antara Jalur Gaza dan Tepi Barat, sebagai konsekuensi dari pengakuan kedua kawasan itu sebagai “satu unit teritorial”. Namun komitmen ini tidak pernah dipenuhi sepenuhnya, merugikan hubungan keluarga, ekonomi, dan pendidikan warga Palestina di kedua wilayah. Setelah blokade Gaza dimulai pada 2007, keterputusan ini menjadi hampir total: warga Gaza membutuhkan izin khusus dan nyaris mustahil didapat untuk sekadar menginjakkan kaki di Baitul Maqdis yang berjarak kurang dari 100 kilometer dari rumah mereka.

Ironi sejarahnya tajam. Selama lebih dari seribu tahun — dari era Rasyidin hingga Ottoman — Gaza dan Yerusalem berada dalam satu wilayah administratif, satu jalur ziarah, satu front pertahanan yang sama. Perang yang berlangsung sejak Oktober 2023, dengan 1,9 juta dari 2,4 juta warga Gaza terusir dari rumah mereka, menjadikan jarak yang dulunya bisa ditempuh dalam sehari perjalanan itu kini menjadi salah satu batas paling sulit ditembus di dunia.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini