Ada masa ketika manusia dipaksa berhenti sejenak dari kesibukan dunia. Api yang membakar hutan, bumi yang berguncang, dan darah rakyat sipil yang direnggut dengan kejam.
Di Indonesia, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur, disusul ribuan gempa susulan. Pada saat yang sama, kebakaran hutan dan lahan kembali menjadi perhatian di tengah musim kemarau. BMKG mengingatkan meningkatnya risiko kekeringan dan karhutla, sementara BNPB masih mencatat kejadian kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah.
Di belahan dunia lain, Gaza terus menghadapi penindasan yang belum berakhir. Per Agustus 2026, laporan resmi dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat jumlah korban jiwa warga Palestina mencapai lebih dari 73.400 orang sejak genosida Israel bermula pada 8 Oktober 2023. Namun, studi kesehatan masyarakat independen dan berbagai organisasi internasional memperkirakan jumlah korban jiwa jauh lebih tinggi.
Tiga peristiwa tersebut tentu memiliki sebab dan mekanisme yang berbeda. Kebakaran hutan dapat dipicu faktor alam maupun ulah manusia. Gempa bumi merupakan fenomena geologis. Sedangkan kehancuran di Gaza merupakan kezaliman ulah satu entitas bernama Israel dengan keputusan politik serta militer serba canggihnya membantai pihak yang lemah.
Namun bagi seorang Muslim, setiap peristiwa dapat menjadi ruang untuk melakukan muhasabah.
Bukan berarti setiap bencana alam boleh langsung disebut sebagai hukuman Tuhan. Sikap seperti itu justru dapat menghilangkan empati terhadap korban. Bencana adalah ujian bagi mereka yang terdampak, tetapi sekaligus dapat menjadi peringatan bagi mereka yang menyaksikan dan memiliki kemampuan untuk bertindak.
Di sinilah para pemimpin Muslim memiliki tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Ketika Api Menguji Amanah
Kebakaran hutan bukan sekadar persoalan asap dan rusaknya lingkungan. Ia menyentuh kehidupan masyarakat, kesehatan, ekonomi, sumber air, serta masa depan generasi berikutnya.
Karena itu, pertanyaan pentingnya bukan hanya: siapa yang harus memadamkan api?
Tetapi juga: mengapa api bisa muncul, siapa yang bertanggung jawab mencegahnya, dan apakah kebijakan kita selama ini benar-benar melindungi rakyat dan lingkungan?
Kepemimpinan adalah amanah. Kekayaan alam bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi titipan yang harus dikelola dengan keadilan.
Ketika hutan rusak, masyarakat kecil kehilangan ruang hidup. Ketika udara tercemar, yang paling dahulu merasakan dampaknya sering kali adalah mereka yang paling lemah.
Maka pemimpin tidak cukup hanya hadir ketika bencana terjadi. Pemimpin harus hadir sebelum bencana terjadi—melalui kebijakan, pengawasan, penegakan hukum, mitigasi, dan perlindungan terhadap lingkungan.
Ketika Bumi Berguncang
Gempa NTT kembali mengingatkan bahwa manusia pada akhirnya adalah makhluk yang sangat lemah.
Dalam hitungan detik, bangunan yang selama bertahun-tahun dibangun dapat runtuh. Kehidupan yang berjalan normal dapat berubah menjadi kepanikan. Keluarga dapat kehilangan rumah, harta benda, bahkan orang yang mereka cintai.
BMKG mencatat ribuan gempa susulan pascagempa utama M7,7. Ini bukan sekadar angka statistik. Di balik angka tersebut terdapat masyarakat yang masih hidup dalam ketakutan dan membutuhkan perlindungan serta bantuan.
Bagi para pemimpin, bencana semacam ini seharusnya menjadi pengingat bahwa kekuasaan tidak membuat manusia kebal terhadap kehendak Allah.
Jabatan tidak membuat seseorang lebih tinggi di hadapan-Nya.
Justru semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin besar pula pertanggungjawabannya.
Dan Gaza Menguji Keberpihakan
Jika gempa menguji kesabaran manusia dan kebakaran menguji tanggung jawab manusia terhadap alam, maka Gaza menguji sesuatu yang jauh lebih dalam: keberpihakan nurani umat manusia.
Sudah terlalu lama dunia menyaksikan kekejaman Israel terhadap rakyat Palestina.
Di Gaza, anak-anak masih menjadi korban. Fasilitas kesehatan mengalami serangan dan gangguan. Warga sipil hidup dalam kondisi yang sangat sulit. Bahkan setelah adanya kesepakatan gencatan senjata, korban jiwa dan penderitaan kemanusiaan belum sepenuhnya berhenti. UNICEF melaporkan sedikitnya 300 anak Palestina dibunuh oleh Israel dalam 300 hari setelah pengumuman gencatan senjata pada Oktober 2025.
Pertanyaannya kemudian menjadi semakin berat bagi para pemimpin Muslim:
Apa yang akan kita katakan ketika suatu hari nanti ditanya tentang Gaza?
Apakah cukup mengatakan bahwa kita prihatin?
Apakah cukup mengeluarkan pernyataan kecaman?
Apakah cukup mengibarkan bendera Palestina?
Atau sudahkah kekuatan politik, diplomasi, ekonomi, media, bantuan kemanusiaan, dan seluruh instrumen yang dimiliki negara-negara Muslim digunakan secara maksimal untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina?
Inilah pertanyaan yang tidak mudah dijawab.
Peringatan untuk Pemimpin, Bukan Vonis bagi Korban
Kita harus berhati-hati dalam memaknai bencana.
Jangan sampai korban gempa dianggap sedang menerima hukuman. Jangan pula korban kebakaran disalahkan atas musibah yang menimpa mereka.
Mereka adalah manusia yang membutuhkan pertolongan.
Sebaliknya, peristiwa-peristiwa tersebut seharusnya menjadi peringatan bagi mereka yang memiliki kekuasaan tetapi memilih lalai.
Allah mengingatkan dalam Al-Qur’an:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”
(QS. An-Nisa: 58)
Kekuasaan dalam Islam bukanlah kemewahan.
Kekuasaan adalah amanah.
Dan amanah akan dipertanggungjawabkan.
Jangan Sampai Kita Terbiasa dengan Penderitaan
Salah satu bahaya terbesar zaman ini bukan hanya perang, bencana, atau kemiskinan.
Tetapi hilangnya kepekaan manusia terhadap penderitaan.
Hari ini kita melihat rumah terbakar.
Besok kita melihat gempa.
Lusa kita melihat anak-anak Gaza tertimbun reruntuhan.
Kemudian kita menggulir layar, berpindah ke berita lain, dan melanjutkan kehidupan seolah semuanya biasa saja.
Jika penderitaan sudah menjadi tontonan rutin tanpa mampu menggerakkan hati dan tindakan, maka ada sesuatu yang perlu kita pertanyakan dalam diri kita.
Bagi umat Islam, kepedulian kepada korban bencana dan Palestina tidak boleh berhenti pada emosi sesaat.
Ia harus menjadi amal.
Menolong korban gempa adalah amal.
Menjaga hutan adalah amanah.
Menyelamatkan lingkungan adalah tanggung jawab.
Membela keadilan Palestina adalah bagian dari keberpihakan kepada manusia yang dizalimi.
Dan bagi para pemimpin Muslim, tanggung jawab tersebut jauh lebih besar karena mereka memiliki kewenangan yang tidak dimiliki rakyat biasa.
Saatnya Kepemimpinan Muslim Berbenah
Barangkali rangkaian peristiwa ini harus dibaca sebagai momentum untuk bertanya kembali:
Untuk apa umat Islam memiliki begitu banyak negara, sumber daya, kekayaan, dan pengaruh jika semua itu tidak mampu digunakan untuk melindungi manusia yang tertindas?
Pertanyaan ini bukan ajakan untuk menyalahkan semata.
Ini adalah panggilan untuk berbenah.
Pemimpin Muslim harus memperkuat sistem mitigasi bencana, memperbaiki tata kelola lingkungan, melindungi masyarakat rentan, memperkuat kerja sama kemanusiaan, dan membangun keberanian politik dalam menghadapi ketidakadilan global.
Gaza membutuhkan lebih dari sekadar doa.
Gaza membutuhkan tindakan.
Korban gempa membutuhkan lebih dari sekadar simpati.
Mereka membutuhkan rumah, makanan, layanan kesehatan, keamanan, dan masa depan.
Hutan yang terbakar membutuhkan lebih dari sekadar pemadaman.
Ia membutuhkan kebijakan yang mencegah kerusakan berulang.
Peringatan Sebelum Pertanggungjawaban
Api yang membakar hutan mungkin akan padam.
Gempa pada akhirnya akan berhenti.
Reruntuhan mungkin suatu hari dapat dibangun kembali.
Namun pertanggungjawaban manusia kepada Allah tidak akan pernah padam.
Bagi rakyat biasa, bencana adalah panggilan untuk bersabar, saling membantu, dan memperkuat solidaritas.
Bagi para pemimpin, ia adalah panggilan yang lebih berat:
Gunakan kEkuasaan untuk melindungi, bukan sekadar menguasai.
Jangan menunggu sampai sejarah menulis bahwa ketika rumah-rumah rakyat terbakar, para pemimpin sibuk menjaga kepentingannya sendiri.
Jangan menunggu sampai anak-anak Gaza menjadi sekadar angka dalam laporan kemanusiaan.
Dan jangan menunggu sampai kita berdiri di hadapan Allah tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sebab pada akhirnya, yang akan ditanyakan bukan seberapa tinggi jabatan kita, seberapa besar kekuasaan kita, atau seberapa banyak kekayaan yang kita miliki.
Tetapi:
apa yang kita lakukan dengan amanah itu ketika manusia membutuhkan pertolongan?
Mungkin inilah saatnya kita berhenti hanya bertanya, “Mengapa bencana ini terjadi?”
Dan mulai bertanya:
“Apa yang Allah ingin kita perbaiki setelah menyaksikannya?”


