GAZA CITY — Sejarah militer Gaza dalam Perang Dunia I biasanya diceritakan lewat tiga pertempuran besar antara Inggris dan Ottoman sepanjang 1917. Namun di balik garis pertahanan dan peta pergerakan pasukan, ada kisah lain: bagaimana penduduk sipil Gaza — petani, pedagang, buruh, keluarga — menjalani empat tahun perang yang mengubah kota pelabuhan ini dari pusat perdagangan barley yang makmur menjadi kota kosong dan runtuh pada akhir 1917.
Periode ini, oleh penduduk Syam secara luas, dikenang sebagai era Seferberlik — kata Turki Ottoman untuk “mobilisasi umum”, yang dalam bahasa Arab disebut an-nafir al-‘amm. Istilah itu menjadi simbol kolektif atas wajib militer paksa, kerja rodi, dan kelaparan yang melanda Syam raya, termasuk Palestina, selama Perang Dunia I.
Gaza Sebelum Perang: Kota Barley dan Jelai
Pada 1912, tak lama sebelum perang pecah, Gaza tercatat berpenduduk sekitar 40.000 jiwa dan menjadi pusat perdagangan pertanian yang signifikan di Palestina selatan. Kota ini memiliki penggilingan uap buatan Jerman, gudang penyimpanan gandum dan barley, serta kebun zaitun, anggur, dan jeruk yang luas. Barley dari wilayah Gaza-Negev diekspor ke Inggris untuk keperluan pembuatan bir, sementara pedagang Gaza mengimpor benang senilai sekitar £10.000 dari Manchester setiap tahunnya.
Ekonomi ini bergantung pada jalur dagang laut dan darat yang stabil — kondisi yang runtuh total begitu Ottoman memasuki perang pada akhir 1914 dan memutus jalur pasokan ke Palestina.
Wajib Militer dan Kerja Paksa
Begitu mobilisasi umum diberlakukan, laki-laki Gaza usia produktif — termasuk banyak yang sebelumnya bekerja di ladang dan pasar — ditarik ke dalam dinas militer atau batalion kerja paksa (amele taburları) yang menopang logistik Angkatan Darat Keempat Ottoman. Sebagian dikirim jauh ke front lain di Anatolia, sementara sebagian dipekerjakan membangun jalur kereta dan benteng pertahanan di sekitar Gaza sendiri.
Wilayah Syam, termasuk Palestina, berada di bawah kekuasaan militer Ahmed Djemal Pasha, gubernur Suriah yang juga menjabat panglima front selatan. Pemerintahannya dikenal keras: penyitaan bahan pangan dan ternak untuk kebutuhan perang, sensor ketat, dan kebijakan darurat yang membatasi kebebasan sipil menjadi ciri masa itu di seluruh wilayah kekuasaannya.
Wabah Belalang dan Bencana Pangan 1915–1916
Antara Maret dan Oktober 1915, gelombang belalang menyerbu Palestina, Gunung Lebanon, dan Suriah, menghabiskan hampir seluruh vegetasi di jalurnya. Serangan ini memperparah kondisi pangan yang sudah menipis akibat blokade dan penyitaan militer. Sejarawan Zachary J. Foster mencatat bahwa serangan ini merusak 10–15 persen panen gandum-barley musim dingin, dan menghancurkan 60–100 persen panen buah serta sayur musim panas dan gugur, tergantung jenis tanamannya.
Djemal Pasha membentuk Komite Pusat Pemberantasan Belalang, yang mewajibkan setiap laki-laki berusia 15–60 tahun menyerahkan 20 kilogram telur belalang atau membayar pajak — satu pound Ottoman bagi golongan kaya, tiga puluh piaster bagi golongan miskin. Harga pangan melonjak drastis di seluruh Syam; laporan New York Times pada April 1915 mencatat harga tepung naik enam kali lipat di beberapa wilayah.
Dampak gabungan belalang, blokade, dan penyitaan militer ini memicu bencana kelaparan besar di Syam raya sepanjang 1915–1918, dengan angka kematian akibat kelaparan dan penyakit terkait diperkirakan mencapai ratusan ribu jiwa di seluruh kawasan — meskipun data kematian yang spesifik untuk Gaza sendiri tidak terdokumentasi secara terpisah dan sulit diverifikasi.
Kebun Zaitun yang Ditebang untuk Bahan Bakar Kereta
Salah satu dampak perang yang jarang dibahas adalah penebangan hutan dan kebun zaitun Palestina untuk memasok bahan bakar lokomotif militer. Terhentinya pasokan batu bara akibat perang memaksa Ottoman mencari bahan bakar alternatif, dan kebun zaitun yang telah ditanam turun-temurun menjadi korbannya. Sejarawan mencatat bahwa Angkatan Darat Ottoman “menghancurkan kebun-kebun zaitun luas di Palestina” untuk kebutuhan ini — sebuah kerugian yang membutuhkan puluhan tahun untuk pulih, mengingat pohon zaitun baru berbuah signifikan setelah bertahun-tahun ditanam.
Bagi Gaza, yang sebagian ekonominya bertumpu pada kebun zaitun dan jeruk, kebijakan ini berarti hilangnya aset produktif jangka panjang di tengah krisis pangan yang sudah berat.
Pengosongan Paksa dan Kota yang Hancur
Menjelang serangan Inggris pertama pada Maret 1917, Djemal Pasha memerintahkan pengosongan penduduk sipil Gaza. Penelitian akademik yang menganalisis telegram sandi Ottoman sepanjang 17 halaman menyimpulkan bahwa perintah evakuasi Gaza dan Jaffa pada musim semi 1917 didorong oleh pertimbangan militer mendesak, bukan motif politik seperti balas dendam terhadap penduduk. Karena pengosongan ini dilakukan sebelum pertempuran dimulai, korban sipil akibat kontak senjata relatif minim dibandingkan skala kehancuran fisik kota.
Setelah tiga pertempuran — Maret, April, dan November 1917 — Gaza yang direbut pasukan Inggris pada 7 November ditemukan kosong dan sebagian besar bangunannya rusak berat atau hancur, akibat kombinasi pengeboman artileri Inggris dan taktik bumi hangus pasukan Ottoman yang mundur. Baik Ottoman maupun Inggris tidak menjadikan warga sipil sebagai sasaran langsung serangan, tetapi kota yang mereka tinggalkan adalah kota yang nyaris tak berpenghuni dan porak-poranda selama bertahun-tahun setelahnya.
Gema di Masa Kini
Pola yang muncul dari catatan Perang Dunia I — evakuasi massal penduduk, penghancuran lahan pertanian, dan keruntuhan ekonomi lokal sebagai efek samping konflik militer — memiliki gaung tersendiri bila dibandingkan dengan kondisi Gaza pasca-2023, meski skalanya jauh berbeda. Menurut data terkini, lebih dari 1,9 juta dari 2,4 juta penduduk Gaza terusir dari rumah mereka sejak Oktober 2023, dan lebih dari 80 persen bangunan di Jalur Gaza rusak atau hancur — sebuah devastasi yang jauh melampaui kerusakan 1917, namun berbagi pola dasar yang sama: warga sipil menanggung beban terberat dari konflik yang keputusannya dibuat jauh di luar jangkauan mereka.


