Hampir dua juta warga Palestina kini terjejal di kurang dari 36 persen wilayah Gaza. Yang tersisa di zona timur bukan populasi besar yang dibantai sekaligus — melainkan sekelompok kecil orang yang nekat kembali, dan sebagian dari mereka tidak pulang.
Pada 10 Desember 2025, Zaher Shamia, remaja 17 tahun, bermain bersama sepupu dan beberapa temannya di dekat tendanya di kamp pengungsi Jabaliya, Gaza utara — hanya 300 meter dari garis kuning. Dari rekaman video yang sempat ia ambil sebelum kejadian, terdengar tembakan, lalu rekaman terhenti. Tentara Israel yang mendekati garis dengan buldoser lapis baja menembaknya; jasadnya kemudian ditemukan tergilas kendaraan itu. Kakeknya, Kamal al-Beih, hanya bisa mengenali cucunya dari bagian kepala. Militer Israel mengakui mengetahui bahwa Zaher adalah warga sipil, dan menyatakan kasus itu sedang diselidiki.
Kisah Zaher bukan kasus tunggal. Ia mewakili pertanyaan yang lebih besar: setahun setelah gencatan senjata membagi Gaza menjadi dua — wilayah timur di bawah kendali militer Israel dan wilayah barat yang masih dihuni warga Palestina — apa sebenarnya yang terjadi pada orang-orang yang berada, atau pernah berada, di sisi timur garis itu? Apakah mereka semua berhasil mengungsi ke barat, ataukah sebagian tetap tertinggal dan menjadi korban dalam senyap?
Tesis artikel ini: berdasarkan data yang tersedia, jawabannya bukan salah satu dari dua ekstrem yang sering muncul di media sosial — bukan “semua orang berhasil pindah dengan selamat”, dan bukan pula “pembantaian massal dalam satu peristiwa”. Yang terjadi adalah proses pengusiran sistematis dan bertahap yang berhasil memindahkan mayoritas mutlak penduduk, dikombinasikan dengan pola kematian individual berulang terhadap kelompok kecil yang tertinggal atau nekat kembali. Kedua proses ini berjalan bersamaan, dan keduanya terdokumentasi — bukan spekulasi.
Dari Separuh Gaza Menjadi Kantong Sempit di Barat
Ketika gencatan senjata mulai berlaku 10 Oktober 2025, garis kuning menyisakan sekitar 47 persen wilayah Gaza untuk warga Palestina. Sepuluh bulan kemudian, ruang itu menyusut drastis. Menurut laporan Reuters yang dikutip CNBC Indonesia akhir Juli 2026, hampir seluruh dari sekitar dua juta penduduk Gaza kini bertahan di kawasan pesisir sempit yang masih dikuasai Hamas, dengan akses bantuan kemanusiaan sangat terbatas. Tribunnews mencatat pada akhir Juni 2026 area yang tersisa untuk dihuni tinggal sekitar 36 persen dari total luas Gaza — dan angka itu terus mengecil seiring garis terus bergeser ke barat.
Artinya, dari sisi jumlah manusia, mayoritas mutlak — kemungkinan lebih dari 95 persen populasi — sudah berpindah ke barat. Ini bukan perpindahan yang direncanakan atau sukarela, melainkan hasil akumulasi perintah evakuasi yang datang berulang-ulang. Warga Zeitoun, Assem Dawla, mengatakan kepada Reuters bahwa akhir Juli 2026 adalah kali ketujuh atau kedelapan keluarganya terpaksa pindah sejak perang dimulai.
Bagaimana Wilayah Timur Dikosongkan
Proses pengosongan berjalan lewat pola yang berulang di berbagai titik: Zeitoun, Tuffah, Shejaia, Deir al-Balah, Khan Younis, hingga Rafah utara. Militer Israel mengumumkan perintah evakuasi, sering lewat pengeras suara di drone quadcopter pada malam hari. Warga diberi waktu singkat untuk mengangkut barang. Setelah area dikosongkan, blok beton kuning didorong maju — kadang 300 hingga 350 meter dalam semalam — dan bangunan yang ditinggalkan kerap diratakan. OCHA mencatat pada 20 Juli 2026 perintah pengungsian di Zeitoun memaksa sedikitnya 30 keluarga meninggalkan tenda mereka, yang kemudian dihancurkan pasukan Israel.
Militer Israel menjelaskan langkah ini sebagai pembentukan zona keamanan untuk melindungi wilayah Israel dan mengurangi kontak langsung antara pasukan dan warga sipil — sebuah alasan operasional yang secara internal konsisten dengan doktrin keamanan Israel pasca-7 Oktober 2023, meski dampaknya di lapangan adalah pengusiran berulang bagi warga yang sama.
Setiap kali garis bergeser beberapa ratus meter, ribuan orang kehilangan tempat berlindung yang baru saja mereka bangun kembali dari puing sebelumnya.
Siapa yang Tersisa, dan Apa yang Terjadi pada Mereka
Pertanyaan paling relevan bukan lagi “berapa banyak yang masih di timur garis” — karena jawabannya, berdasarkan data yang ada, adalah sangat sedikit dari total populasi. Pertanyaan yang lebih tajam adalah: apa yang terjadi pada mereka yang tersisa, tertinggal, atau nekat kembali? Liputan investigatif AP mendokumentasikan sejumlah kasus konkret. Selain Zaher Shamia, seorang balita tiga tahun bernama Ahed al-Bayouk tewas terkena proyektil nyasar saat bermain di luar tenda keluarganya di dekat garis kuning di pesisir selatan Gaza — ibunya, Maram Atta, sedang memasak ketika mendengar suara pesawat lalu tembakan. Militer Israel membantah bertanggung jawab atas kematian itu.
Serambinews melaporkan kasus lain: seorang ibu Palestina masih mencari putranya yang hilang setelah nekat kembali ke rumah keluarga di Kota Gaza yang berada di luar garis kuning — wilayah yang menurut laporan itu berisiko sasaran tembak bagi siapa pun yang memasukinya. Menurut pejabat militer Israel yang dikutip AP secara anonim, prosedur standarnya adalah memberi peringatan suara lalu tembakan peringatan bila seseorang mendekati garis; banyak warga mundur setelah tembakan peringatan, tetapi pejabat itu sendiri mengakui sebagian tetap tewas.
Yang tersisa di balik garis kuning bukan populasi dalam jumlah besar — melainkan individu-individu yang masing-masing punya alasan untuk kembali: mencari anak yang hilang, memeriksa rumah, atau sekadar tidak sempat pergi tepat waktu.
Angka yang Bisa Diverifikasi, dan yang Tidak
Untuk kematian spesifik di wilayah timur atau di sekitar garis kuning, sumber paling otoritatif yang tersedia adalah kompilasi lembaga hak asasi Gisha berdasarkan data PBB: 224 warga Palestina, termasuk anak-anak, tewas di wilayah timur atau di dekat garis kuning antara 10 Oktober 2025 dan 27 Februari 2026. Ini adalah subset dari total korban sejak gencatan senjata yang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza, mencapai sedikitnya 601 orang per 15 Februari 2026 dan terus bertambah. Saya tidak menemukan pembaruan resmi dari OCHA untuk subset spesifik “korban di sekitar garis kuning” setelah Februari 2026 — sehingga angka 224 kemungkinan sudah menjadi angka minimum yang usang, bukan angka final untuk kondisi saat ini.
Penting dicatat: data Kementerian Kesehatan Gaza tidak membedakan status sipil dan kombatan, meski menurut laporan Haaretz pertengahan 2026, militer Israel sendiri akhirnya menerima keakuratan angka total kematian dari kementerian tersebut. Karena keterbatasan data resmi terkini, klaim bahwa “ratusan ribu” atau “seluruh warga yang tertinggal” telah dibantai tidak didukung bukti yang tersedia — yang terverifikasi adalah pola kematian individual berulang dalam jumlah puluhan hingga ratusan, bukan pembantaian massal dalam satu peristiwa.
Perbedaan ini penting bukan untuk meringankan apa yang terjadi, melainkan untuk menjaga akurasi. Menyamakan pola kematian individual berulang dengan pembantaian massal berisiko dua arah: bila kemudian terbukti angka sebenarnya lebih rendah dari klaim yang beredar, kredibilitas laporan tentang penderitaan warga Gaza secara keseluruhan ikut dipertanyakan — sesuatu yang justru merugikan advokasi jangka panjang bagi korban yang sudah terverifikasi.
Argumen Militer Israel, dan Batasnya
Israel menyatakan siapa pun yang melintasi garis kuning tanpa mengindahkan peringatan dianggap sebagai ancaman potensial terhadap pasukannya — kerangka aturan keterlibatan yang menurut pejabat militer diberlakukan konsisten di seluruh titik garis. Argumen ini punya dasar operasional yang nyata: garis tersebut memang tidak selalu ditandai jelas di lapangan, sehingga warga sipil bisa melintasinya tanpa sengaja, tapi pasukan Israel juga menghadapi risiko serangan mendadak dari kombatan yang menyamar sebagai warga sipil dalam konflik ini.
Namun batas argumen itu terlihat jelas dalam kasus-kasus yang telah diakui militer Israel sendiri sebagai kesalahan atau sedang diselidiki — termasuk kematian Zaher Shamia yang diketahui warga sipil. Ketika target adalah anak-anak yang sedang bermain, bukan orang bersenjata yang mendekat secara mencurigakan, argumen “ancaman terhadap pasukan” menjadi sulit dipertahankan secara proporsional, betapapun sahnya kekhawatiran keamanan Israel secara umum.
Respons Internasional: Kecaman Tanpa Daya Paksa
Kegagalan menandai batas garis dan pola penembakan warga sipil yang berulang telah memicu kecaman dari PBB, meski tanpa mekanisme penegakan yang jelas. Juru bicara PBB Stephane Dujarric menegaskan pada 29 Mei 2026 bahwa seratus persen Gaza semestinya menjadi milik rakyat Palestina, dan menyerukan Israel menarik pasukannya dari sepanjang garis kuning — pernyataan yang menurut catatan AFU.id disampaikan sebagai respons atas rencana Israel memperluas kendalinya hingga 70 persen wilayah. Namun seruan semacam ini, sejauh data yang tersedia, belum diikuti langkah konkret yang mengubah situasi di lapangan; garis kuning terus bergeser bahkan setelah pernyataan itu disampaikan.
Pejabat senior Hamas, Bassem Naim, secara terpisah menuduh Israel memanfaatkan gencatan senjata untuk memperluas pendudukan militer secara bertahap, sebuah tuduhan yang sejalan dengan data cakupan wilayah yang terus membesar dari waktu ke waktu. Israel, di sisi lain, tidak pernah secara resmi mengakui pelanggaran sistematis terhadap kesepakatan; setiap insiden ditangani sebagai kasus per kasus, dengan sebagian diselidiki dan sebagian dibantah begitu saja. Ketiadaan mekanisme investigasi independen bersama yang disepakati kedua pihak berarti versi kejadian di lapangan hampir selalu bergantung pada siapa yang bercerita lebih dulu.
Bukan Pembantaian Massal, Tapi Pola yang Tidak Kalah Serius
Menjawab pertanyaan awal secara langsung: hampir seluruh warga Gaza memang sudah berhasil dipindahkan ke wilayah barat yang dikuasai Hamas — bukan karena dibantai di tempat, melainkan karena proses pengusiran bertahap lewat kombinasi perintah evakuasi dan penghancuran rumah berhasil mendorong mereka pergi sebelum sempat menjadi korban langsung. Yang tersisa di wilayah timur adalah kelompok kecil: mereka yang nekat kembali untuk mencari kerabat yang hilang, memeriksa rumah, atau mengakses lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan mereka — dan kelompok kecil inilah yang menghadapi risiko kematian tertinggi, sebagaimana didokumentasikan dalam kasus Zaher Shamia dan Ahed al-Bayouk.
Menyebut ini sebagai “pembantaian massal dalam satu peristiwa” melebih-lebihkan data yang ada. Tetapi menyebutnya sebagai situasi yang aman atau selesai juga keliru: pola kematian individual yang berulang, ditambah ketidakjelasan batas garis yang membuat warga sipil sulit tahu kapan mereka sudah “melanggar”, menciptakan kondisi berisiko tinggi yang terus berlangsung — bukan insiden tunggal yang sudah berakhir.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
- Dukung verifikasi data independen, bukan angka viral tanpa sumber. Karena subset data korban di sekitar garis kuning (224 orang per Februari 2026) belum diperbarui secara resmi, ikuti pembaruan berkala OCHA dan Gisha, dan hindari menyebarkan klaim jumlah korban tanpa atribusi sumber yang jelas.
- Salurkan bantuan lewat jalur yang menjangkau kelompok paling berisiko. Kelompok yang paling rentan bukan hanya pengungsi di barat, tapi juga warga yang masih mencoba kembali ke timur untuk mencari kerabat atau lahan — dukung lembaga seperti MER-C, Sahabat Al-Aqsha, dan Adara Foundation yang punya jaringan koordinasi untuk kasus pencarian dan evakuasi individual semacam ini.
- Dorong transparansi aturan keterlibatan di sekitar garis kuning. Karena militer Israel sendiri mengakui garis sering tidak ditandai jelas di lapangan, dukung seruan PBB — termasuk pernyataan juru bicara Stephane Dujarric Mei 2026 — untuk penandaan yang jelas dan mekanisme investigasi independen atas kasus-kasus penembakan warga sipil di sekitar garis tersebut.
Penutup: Kekosongan yang Bukan Berarti Aman
Wilayah timur garis kuning hari ini sebagian besar sunyi — bukan karena damai, tapi karena hampir tidak ada lagi orang yang tersisa untuk didengar suaranya. Kesunyian itu sendiri adalah hasil dari proses yang keras: rumah demi rumah dikosongkan, keluarga demi keluarga dipaksa pindah, hingga yang tersisa hanya reruntuhan dan blok beton kuning yang terus bergerak maju.
Bagi kakek Zaher Shamia, bagi ibu yang masih mencari putranya di Kota Gaza, kekosongan itu bukan statistik — itu adalah pertanyaan yang belum terjawab tentang orang yang mereka cintai. Kita tidak bisa menyebut apa yang terjadi di sana sebagai pembantaian massal tunggal tanpa melebih-lebihkan data yang ada. Tapi kita juga tidak bisa menutup mata bahwa setiap orang yang masih mencoba melintasi garis itu — untuk alasan sesederhana mencari anggota keluarga — melakukannya dengan risiko nyawa yang nyata dan berulang.
Pertanyaan yang tersisa, dan jujurnya belum terjawab: berapa banyak lagi kasus seperti Zaher dan Ahed yang belum terdokumentasi media internasional, di wilayah yang menurut definisinya sendiri sulit diakses jurnalis dan lembaga kemanusiaan independen?


