GAZA — Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan keprihatinan mendalam atas terus jatuhnya korban sipil di Jalur Gaza, menyusul berlanjutnya serangan udara dan operasi militer Israel yang dinilai berulang kali melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB, Stéphane Dujarric, mengatakan keselamatan warga sipil menjadi perhatian serius organisasi internasional tersebut. Pernyataan itu disampaikan dalam konferensi pers pada Senin, 31 Agustus 2026.
“Kami terus sangat prihatin terhadap dampaknya kepada warga sipil akibat serangan udara Israel yang terus berlangsung,” kata Dujarric kepada wartawan seperti dikutip dari middleeeastmonitor.com.
Dujarric juga menyoroti laporan mengenai korban anak-anak dalam serangan terbaru. Salah satu serangan dilaporkan menyebabkan kerusakan pada kompleks Rumah Sakit Al-Aqsa di Deir al-Balah, Gaza tengah.
Sumber medis setempat menyebut seorang anak berusia tiga tahun dan seorang pemuda tewas pada akhir pekan setelah pasukan Israel menembaki sekelompok warga sipil.
PBB menegaskan bahwa warga sipil serta fasilitas sipil harus senantiasa mendapatkan perlindungan sesuai dengan hukum humaniter internasional.
“Warga sipil dan infrastruktur sipil harus selalu dilindungi,” tegas Dujarric.
Selain korban jiwa akibat serangan, PBB juga memperingatkan persoalan kemanusiaan lain yang semakin mendesak di Gaza menjelang musim hujan.
Pemerintah daerah setempat telah memetakan wilayah yang berisiko mengalami banjir di ratusan lokasi. Namun, upaya mitigasi menghadapi kendala serius, terutama karena keterbatasan pendanaan dan pembatasan jumlah bantuan yang dapat masuk ke Gaza.
Dujarric mengatakan kekurangan bahan bakar seperti oli mesin, alat berat, serta suku cadang turut menghambat pekerjaan kemanusiaan dan persiapan menghadapi musim hujan.
Situasi semakin sulit karena organisasi kemanusiaan juga menghadapi keterbatasan akses untuk membangun tempat-tempat penampungan di wilayah yang relatif lebih aman dari ancaman banjir.
Sebagian besar wilayah Gaza masih sulit diakses, sehingga upaya menyiapkan perlindungan bagi warga yang terdampak menjadi semakin kompleks.
Ribuan Korban Akibat Pelanggaran Gencatan Senjata
Kesepakatan gencatan senjata yang didukung Amerika Serikat mulai berlaku di Jalur Gaza pada Oktober tahun lalu. Namun, menurut laporan yang dikutip Middle East Monitor dari Anadolu Agency, berbagai pelanggaran terhadap gencatan senjata terus terjadi.
Sejak kesepakatan tersebut berlaku, sedikitnya 1.318 warga Palestina dilaporkan tewas dan lebih dari 4.300 lainnya terluka akibat pelanggaran gencatan senjata di berbagai wilayah Gaza. Ratusan jenazah juga telah ditemukan dari balik reruntuhan bangunan dan infrastruktur yang hancur.
Sementara itu, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa jumlah warga Palestina yang tewas sejak dimulainya perang pada Oktober 2023 telah melampaui 73.000 orang.
Angka tersebut menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata telah diberlakukan, krisis kemanusiaan di Gaza belum berakhir. Ancaman terhadap warga sipil, kerusakan infrastruktur, keterbatasan bantuan, serta persoalan akses kemanusiaan masih menjadi tantangan besar.
PBB kembali menempatkan perlindungan warga sipil sebagai prioritas utama dan mendesak agar kebutuhan kemanusiaan masyarakat Gaza dapat dipenuhi di tengah kondisi yang semakin berat. (cky)


