HomeBaitul MaqdisKelas di Bawah Terpal

Kelas di Bawah Terpal

#CerpenJumat — Edisi 6: Suara dari Gaza


Ustadzah Khadija berdiri lama di depan bangunan setengah runtuh itu sebelum akhirnya melangkah masuk—dulu ini ruang kelas empat, dengan dinding biru muda dan peta dunia yang tergantung di sisi papan tulis. Sekarang, separuh atapnya sudah tak ada, digantikan langit yang mulai mendung, dan sisa temboknya penuh retak memanjang seperti sungai kering.

Ia membawa satu tas kain berisi kapur, beberapa lembar kertas bekas yang sudah dilipat rapi jadi buku catatan darurat, dan sebuah buku tulis lain yang lebih tua, sampulnya sudah lecek—buku itu bukan miliknya, meski tulisan di dalamnya sangat ia kenal.

Itu buku rencana mengajar putrinya, Lina. Guru muda yang dulu mengajar kelas dua di sekolah yang sama, sebelum bangunan ini—dan bagian hidupnya yang lain—runtuh bersamaan delapan bulan lalu.

Khadija belum pernah membuka buku itu sejak hari itu.


Ia memasang terpal biru di atas kerangka bambu yang dibantu dua pemuda kamp memasangnya semalam, menutupi sebagian ruangan yang tak beratap, cukup untuk melindungi dari gerimis yang mulai turun sejak pagi. Bangku-bangku diganti balok beton dan papan kayu bekas, disusun setengah lingkaran menghadap papan tulis yang masih menempel di dinding, retak di sudut kanan bawah tapi masih bisa dipakai.

Ia sudah menyebarkan kabar seminggu lalu lewat mulut ke mulut—kelas darurat, gratis, untuk anak-anak usia enam sampai dua belas tahun, dimulai hari ini setelah zuhur.

Yang datang hanya tujuh anak.


Umm Bilal mengantar Rana yang sudah sembuh demamnya, meski masih terlihat agak kurus dan lelah. Bilal sendiri ikut, lebih karena penasaran daripada niat belajar—dan di belakangnya, Widad datang sambil menggenggam pensil pendek yang ia temukan entah dari mana, matanya menyapu ruangan dengan hati-hati, seperti menilai apakah tempat ini aman.

“Kenapa cuma sedikit yang datang?” tanya Bilal pelan pada ibunya.

“Sebagian orang tua takut,” jawab Umm Bilal, suaranya rendah. “Bangunan ini pernah runtuh sebagian. Mereka pikir bisa runtuh lagi.”

Khadija mendengar percakapan itu, tapi tidak menanggapinya langsung. Ia justru menoleh ke arah pintu, ke seorang anak laki-laki berusia sekitar sembilan tahun yang berdiri di ambang, tidak masuk, hanya menatap ke dalam ruangan dengan wajah tegang.

“Kau mau masuk?” tanya Khadija lembut.

Anak itu—namanya Samir, seperti yang kemudian Khadija tahu dari anak-anak lain—menggeleng cepat, lalu mundur beberapa langkah, matanya terpaku pada retakan besar di langit-langit yang tersisa.


Kelas dimulai dengan canggung. Khadija menulis huruf-huruf Arab di papan tulis dengan kapur yang nyaris habis, suaranya berusaha terdengar ceria meski tangannya sedikit gemetar setiap kali ia menoleh ke arah sudut ruangan tempat dulu meja Lina biasa berdiri, memeriksa pekerjaan murid-muridnya sendiri di sela mengajar kelas dua.

“Siapa yang masih ingat huruf ba?” tanyanya, dan tujuh tangan naik dengan semangat yang mengejutkan, seolah pertanyaan sederhana itu adalah sesuatu yang sudah lama mereka rindukan untuk dijawab.

Widad menjawab paling cepat, suaranya tegas dan sedikit menantang, seolah ingin membuktikan sesuatu—mungkin pada dirinya sendiri, mungkin pada dunia yang selama ini memaksanya berpikir soal kertas dan sabun, bukan huruf dan angka. Rana, di sisi lain, menjawab pelan, nyaris berbisik, menyembunyikan senyum kecil di balik telapak tangannya setiap kali jawabannya benar.

Dari luar, Samir masih berdiri di ambang pintu, tidak masuk, tapi juga tidak pergi.


Hujan mulai turun lebih deras menjelang sore, menghantam terpal biru di atas mereka dengan suara berdebum yang awalnya membuat beberapa anak terlonjak. Air mulai menetes di satu sudut, tepat di atas balok beton kosong yang untungnya tak ada yang duduk di sana.

Khadija berhenti sejenak, menatap ke atas, mendengarkan suara hujan yang memukul terpal itu—bunyi yang mengingatkannya pada suara lain, suara yang jauh lebih keras, dari delapan bulan lalu, yang tak pernah benar-benar hilang dari kepalanya meski ia berusaha menguburnya dalam-dalam.

Anak-anak menoleh padanya, menunggu, sedikit gelisah melihat gurunya diam terlalu lama.

Khadija menarik napas, lalu membuka tas kainnya, mengeluarkan buku tulis lecek milik Lina. Tangannya berhenti sebentar di atas sampul, jarinya menelusuri tulisan nama putrinya yang tertulis rapi di pojok kanan atas.

“Ibu punya cerita,” katanya akhirnya, suaranya sedikit serak, “yang ditulis oleh guru lain, guru yang sangat pintar mengajar anak-anak seusia kalian. Boleh Ibu bacakan?”

Tujuh kepala mengangguk serempak.


Ia membaca perlahan, satu paragraf demi paragraf—bukan pelajaran matematika atau bahasa, melainkan sebuah dongeng pendek yang ditulis Lina di sela-sela rencana mengajarnya, tentang seekor burung yang kehilangan sarangnya tapi tetap belajar terbang lebih jauh dari sebelumnya untuk mencari tempat baru.

Suara Khadija bergetar di beberapa bagian, tapi ia tidak berhenti. Bau terpal basah bercampur debu yang terangkat oleh hujan memenuhi ruangan, dan di tengah suara hujan yang mulai mereda, tujuh anak duduk diam, mendengarkan dengan mata berbinar yang sudah lama tidak Khadija lihat pada wajah anak-anak di kamp ini.

Ketika ia selesai membaca, ia mendongak, dan mendapati Samir sudah berdiri tidak lagi di ambang pintu, melainkan dua langkah di dalam ruangan, berdiri kaku dekat dinding, tapi mendengarkan.

Khadija tidak memaksanya duduk. Ia hanya tersenyum kecil ke arahnya, lalu melanjutkan cerita, membiarkan Samir memilih sendiri seberapa dekat ia siap untuk melangkah.


Kelas berakhir ketika azan Asar terdengar, dan anak-anak berhamburan keluar dengan wajah yang entah bagaimana terlihat lebih ringan dari saat mereka datang. Umm Bilal menjemput Rana dan Bilal, menyempatkan diri menyalami tangan Khadija.

“Terima kasih, Ustadzah,” katanya. “Rana belum secerah ini sejak lama.”

Khadija mengangguk, lalu berdiri sendirian di ruangan yang kembali sepi, menatap buku tulis Lina yang masih terbuka di halaman terakhir cerita tadi. Ia menutupnya pelan-pelan, memeluknya sebentar ke dada, lalu memasukkannya kembali ke tas kain—kali ini, ia tahu, ia akan membukanya lagi minggu depan.

Di luar, hujan sudah reda, menyisakan bau tanah basah yang entah kenapa terasa seperti awal, bukan akhir.


Minggu depan, Samir akan akhirnya melangkah sepenuhnya ke dalam kelas—tapi hanya setelah seseorang mengetahui alasan sesungguhnya kenapa reruntuhan bangunan sekolah begitu menakutkan baginya.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini