HomeBeritaUtusan PBB Peringatkan Dewan Keamanan: Gaza Hadapi Musim Dingin Tanpa Tempat Berlindung...

Utusan PBB Peringatkan Dewan Keamanan: Gaza Hadapi Musim Dingin Tanpa Tempat Berlindung Memadai

NEW YORK — Penjabat Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, memperingatkan Dewan Keamanan pada Kamis (15/10/2026) bahwa situasi di Jalur Gaza dan Tepi Barat sangat rapuh dan kembalinya perang harus dihindari dengan segala cara. Peringatan itu disampaikan dalam debat terbuka triwulanan Dewan Keamanan di New York, lima hari setelah peringatan satu tahun gencatan senjata Gaza yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.

Debat tersebut digelar atas permintaan Negara Palestina, yang meminta tindakan segera dan langkah praktis untuk perlindungan internasional bagi warga Palestina, menurut kantor berita Palestina WAFA.

Tenda Usang dan Kebutuhan Tempat Berlindung

Alakbarov menggambarkan keluarga di Gaza yang masih tinggal di tenda yang sudah usang, lokasi pengungsian yang padat, dan bangunan yang rusak parah, dengan sistem air dan sanitasi yang hancur. “Sebagian besar Gaza masih hidup dalam kegelapan,” kata Alakbarov dalam sidang itu, seperti dilaporkan kantor berita Anadolu.

Ia menegaskan bahwa warga Gaza tidak boleh dipaksa melewati satu musim dingin lagi tanpa tempat berlindung yang aman dan layanan dasar. Alakbarov mengunjungi Gaza pada 11–12 Oktober, menurut Security Council Report.

Berita PBB melaporkan bahwa hampir seluruh dari 2,1 juta penduduk Gaza masih membutuhkan bantuan tempat berlindung seiring datangnya musim dingin. Badan Migrasi PBB (IOM) memperingatkan bahwa pasokan yang ada baru memenuhi sekitar 17 persen kebutuhan.

Korban Jiwa Berlanjut di Tengah Gencatan Senjata

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 1.493 orang tewas dan 5.299 lainnya luka-luka akibat serangan Israel sejak gencatan senjata berlaku, per 12 Oktober. Pada tanggal yang sama, jumlah kumulatif korban tewas sejak Oktober 2023 mencapai 74.382 jiwa, menurut data kementerian yang dikutip Al Jazeera.

Pada 9 Oktober, lebih dari 100 organisasi kemanusiaan dan hak asasi manusia menyatakan gencatan senjata itu hanya berlaku dalam nama. Amnesty International, yang ikut menerbitkan pernyataan tersebut, mencatat Israel terus melancarkan serangan udara beberapa kali dalam sepekan dengan alasan ancaman dari Hamas.

Militer Israel menyatakan pada Jumat (16/10) bahwa pihaknya menewaskan seorang komandan Hamas, Maher Walid Omar al-Husseini, dalam serangan di Gaza selatan pada Rabu (14/10). Menurut militer Israel, al-Husseini terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023 ke pangkalan militer Re’im.

Seruan Pelucutan Senjata dan Penarikan Pasukan

Dalam pernyataannya di forum yang sama, Duta Besar Uni Eropa untuk PBB, Stavros Lambrinidis, menyatakan keprihatinan atas pelaksanaan gencatan senjata yang belum memadai. Ia juga menyoroti minimnya kemajuan pada ketentuan lain Resolusi Dewan Keamanan 2803, yang disahkan pada 17 November 2025 dan mendukung rencana perdamaian itu.

Lambrinidis menyerukan pelucutan senjata permanen Hamas dan kelompok bersenjata non-negara lainnya, penarikan penuh pasukan Israel dari Jalur Gaza, serta penempatan Pasukan Stabilisasi Internasional sementara sebagaimana diatur dalam rencana tersebut.

Untuk Tepi Barat, Alakbarov menyebut situasi terus memburuk akibat operasi militer Israel, pembatasan pergerakan, pengungsian, dan serangan warga Palestina.

Sumber: UN News (15/10/2026); Anadolu, dikutip On A Quiet Day (16/10/2026); Security Council Report, What’s In Blue (14/10/2026); Al Jazeera, Palestine Weekly (13/10/2026); Amnesty International (9/10/2026); WAFA (15/10/2026); Delegasi Uni Eropa untuk PBB (15/10/2026); The Jerusalem Post (16/10/2026).

ARTIKEL TERKAIT

Terkini