GAZA CITY — Muhammad ibn Idris al-Syafi’i lahir di Gaza pada 150 H (767 M), ketika wilayah itu berada di bawah Kekhalifahan Abbasiyah. Ayahnya wafat saat ia masih kecil, dan pada usia dua tahun ia dibawa ke Mekkah. Ia wafat di Fustat, Mesir, pada 820 M dan kelak dikenal sebagai pendiri mazhab Syafi’i. Sebagian rujukan menempatkan kelahirannya di dekat Asqalan, tetapi sebagian besar menyebut Gaza.
Al-Syafi’i hanya melewati masa bayi di kota itu, sehingga ia bukan produk lingkungan keilmuan Gaza. Kisahnya tetap membuka pertanyaan yang jarang diajukan: apa yang ditulis, disalin, dan dibangun orang Gaza setelah 637 M? Kolom ini tidak mengulang penaklukan dan pertempuran yang sudah dibahas pada edisi sebelumnya, melainkan menelusuri jejak budayanya.
Ulama dan penyalin naskah
Jejak keilmuan Gaza paling terdokumentasi pada masa Mamluk dan Ottoman. Perpustakaan UCLA menyimpan komentar hukum mazhab Hanafi yang disalin di Gaza pada 831 H (1427 M) oleh Muhammad ibn Musa ibn ‘Imran al-Ghazzi. Dalam kolofonnya, penyalin menyatakan bahwa ia menyalinnya untuk dirinya sendiri dan siapa pun yang dikehendaki Tuhan setelahnya.
Pada abad ke-16, Muhammad al-Timurtashi (w. 1595/96), ahli fikih Hanafi kelahiran Gaza, menyusun Tanwir al-Absar wa Jami’ al-Bihar. Teks itu dinilai sebagai salah satu karya ensiklopedis terpenting dalam fikih Hanafi. Al-Timurtashi belajar di Kairo kepada Zain al-Din Ibn Nujaim, dan di Gaza kepada Syams al-Din Ibn al-Masyriqi al-Ghazzi, mufti Syafi’i kota itu.
Di bidang sastra, Kementerian Wakaf Palestina menyebut Diwan Ibn Zuqa’a al-Ghazi, penyair kelahiran Gaza tahun 724 H (sekitar 1324 M), sebagai salah satu naskah terpenting di perpustakaan Masjid Agung.
Perpustakaan Masjid Agung
Menurut catatan naskah yang dikutip Kementerian Wakaf, perpustakaan itu didirikan atas perintah Sultan Baybars pada 676 H (1277 M) dan semula berisi sekitar 20.000 buku. Angka tersebut bersumber dari catatan naskah dan tidak dapat diaudit secara independen.
Koleksi yang tersisa mencakup Al-Qur’an, biografi Nabi, fikih, filsafat, bahasa Arab, kedokteran, matematika, tasawuf, astronomi, dan puisi, dengan teks hukum sebagai mayoritas. Koleksi itu memperlihatkan hubungan ulama Gaza dengan Kairo, Yerusalem, Mekkah, Madinah, Damaskus, dan Aleppo. Barakat Trust mencatat bahwa pasukan Napoleon membawa sejumlah naskah ketika mundur ke Mesir, dan bahwa tentara Ottoman pernah membakar sebagian naskah untuk menghangatkan diri pada suatu musim dingin.
Masjid Agung: arsitektur berlapis
Bangunan Masjid Agung (Masjid Omari) mencerminkan pergantian kekuasaan di Gaza. Tradisi setempat menyebut lokasinya dahulu kuil Marnas, tetapi sisa kuil itu belum pernah ditemukan secara arkeologis, sehingga klaim tersebut tidak terverifikasi. Yang lebih kuat dasarnya, dua dari tiga lorong utama masjid diyakini masih memuat bagian gereja Tentara Salib abad ke-12.
Bangunan itu dialihfungsikan menjadi masjid pada 1187 menurut sebagian sumber, atau 1192 menurut sumber lain. Masa Mamluk menambahkan lengkungan keempat dan menara segi delapan di atas dasar persegi, sedangkan masa Ottoman menambahkan halaman di sisi utara. Di dalamnya terdapat spolia dari masa lebih tua, termasuk kapitel Korintus.
Menurut Wikipedia, menara awal runtuh akibat gempa 1033. Bangunan rusak oleh tembakan pasukan Inggris pada 1917 dan dibangun kembali sekitar 1925 dengan izin Dewan Muslim Tertinggi.
Masjid, pemandian, dan istana
Dalam usulan daftar sementara Warisan Dunia UNESCO, pusat sejarah Gaza digambarkan sebagai ibu kota provinsi pada masa Ayyubiyah dan Mamluk, yang mendorong pembangunan masjid, madrasah, khan, dan makam. Masa Ottoman menambah rumah berkubah, istana, karavanserai, dan pemandian umum. Sebuah studi Universitas Islam Gaza mencatat sekitar 13 masjid bersejarah masih tersisa di Gaza lama pada 2014, sebagian besar dari masa Mamluk dan Ottoman. Arkeolog Moain Sadeq memetakan arsitektur itu dalam Die mamlukische Architektur der Stadt Gaza (1991).
Masjid Ibn Utsman dibangun dalam tiga tahap pada masa Mamluk Burji. Tahap kedua diperintahkan Sultan al-Mu’ayyad Syaikh pada 13 September 1418 dan mencakup halaman serta serambi di depan dinding kiblat. Menurut salah satu prasastinya, tahap pertama berlangsung di bawah Emir Aqbugha ibn al-Tulutumari.
Hamam al-Sammara menyimpan plakat yang mencatat renovasi masa Mamluk oleh Sinjar bin Abdullah al-Mu’ayyadi pada 1286. Usia bangunannya diperdebatkan: sebagian pemberitaan menyebut 1.000 tahun, yang lain 700 tahun. Namanya dikaitkan dengan komunitas Samaria yang, menurut Theodore Dowling (1913), pada 1584 memiliki dua pemandian di Gaza.
Qasr al-Basha berasal dari masa Mamluk, sekitar abad ke-13. Bangunan itu kemudian menjadi benteng gubernur Ottoman, kantor polisi pada masa Mandat Inggris, sekolah putri, dan sejak 2010 museum.
Kerusakan dan upaya pemulihan
Masjid Agung rusak berat akibat serangan udara pada 7–8 Desember 2023; sumber berbeda menyebut kedua tanggal itu. Militer Israel menyatakan menyerang sebuah terowongan di masjid, sedangkan pejabat Kementerian Wakaf Gaza membantahnya, menurut AP. Haneen al-Amsi dari Eyes on Heritage menyebut perpustakaan itu semula diperkirakan berisi 20.000 buku dan kini tersisa kurang dari 3.000–4.000.
Pakar warisan budaya Hamouda al-Dahdar menyebut lebih dari 70 persen bangunan Qasr al-Basha hancur. Menurutnya, lebih dari 17.000 artefak museum itu hilang setelah pasukan memasuki Kota Tua. Pembersihan puing dan penyimpanan batu asli, yang ia sebut sebagai “pertolongan pertama”, dimulai pada akhir 2025. Hamam al-Sammara dilaporkan hancur hampir seluruhnya.
UNESCO memverifikasi kerusakan pada 150 situs sejak 7 Oktober 2023, per Januari 2026. Angka ini terus berubah dan bergantung pada metode hitung: Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut lebih dari 208 situs rusak atau hancur pada 2023–2025.
Sebagian besar kebudayaan era Islam di Gaza tersimpan dalam bangunan dan naskah setempat, bukan di museum luar negeri. Karena itu kerusakan pada keduanya memengaruhi sumber sejarah kota itu sendiri. Laporan gabungan pakar Palestina dan arkeolog Inggris memperkirakan tahap awal selama 18 bulan untuk sekadar mengamankan situs-situs di Gaza memerlukan sekitar US$33 juta, dengan syarat gencatan senjata bertahan.


