HomeAnalisis dan OpiniAnalisaAnalisis – Teguran dari Baku: Apa yang Sebenarnya Dikatakan Beijing kepada Herzog,...

Analisis – Teguran dari Baku: Apa yang Sebenarnya Dikatakan Beijing kepada Herzog, dan Seberapa Jauh Kata-Kata Itu Bisa Berjalan

Kamis, 15 Oktober 2026, di sela-sela KTT ke-7 Conference on Interaction and Confidence Building Measures in Asia (CICA) di Baku, Azerbaijan, Menteri Luar Negeri Tiongkok Wang Yi, yang hadir sebagai perwakilan khusus Presiden Xi Jinping, bertemu Presiden Israel Isaac Herzog. Menurut pernyataan Kementerian Luar Negeri Tiongkok yang dikutip Reuters pada Jumat, 16 Oktober, Wang meminta rezim Zionis menghentikan dan membalikkan apa yang ia sebut pendirian permukiman secara paksa di Tepi Barat, dan menyebut persoalan Palestina sebagai ketidakadilan historis terbesar abad ini. Kantor kepresidenan Israel menceritakan pertemuan yang sama dengan penekanan lain: ancaman Iran dan sekutunya, serta hubungan dagang dan budaya. Dua ringkasan untuk satu ruangan. Selisih di antara keduanya adalah bahan analisis kita.

Berita seperti ini mudah dibaca dengan dua cara yang sama-sama malas. Cara pertama: Tiongkok akhirnya membela Palestina, maka beban moral sudah berpindah ke pundak raksasa Asia. Cara kedua: itu basa-basi diplomatik, jadi abaikan. Keduanya melewatkan pertanyaan yang lebih berguna bagi kita di Indonesia: apa yang sesungguhnya ditambahkan pernyataan ini pada kenyataan di Tepi Barat dan Gaza, dan apa yang diperlihatkannya tentang cara Beijing menimbang kepentingannya?

Tesis artikel ini bersifat analitis dan argumentatif, bukan pembenaran moral atas satu pihak: pernyataan Wang Yi adalah sinyal yang nyata tetapi murah, dan nilainya ditentukan oleh apa yang menyusul, bukan oleh kalimatnya. Yang faktual adalah tanggal, pernyataan resmi, dan angka dari PBB atau lembaga yang kami sebut sumbernya. Yang argumentatif adalah penilaian kami atas bobot dan motif. Redaksi ini berpihak pada hak rakyat Palestina; justru karena itu, Tiongkok kami timbang dengan standar yang sama seperti pihak lain.

Pertemuan Baku terjadi di tengah tahun yang padat: perang yang dimulai 28 Februari 2026 dengan serangan AS dan Israel ke Iran, kesepakatan AS–Iran yang ditandatangani pada pertengahan Juni, gencatan senjata Gaza yang rapuh sejak Oktober 2025, dan gelombang tekanan Barat atas permukiman. Dalam peta itu, Beijing bukan pemain pertama dan bukan yang paling berisiko. Kami menelusuri apa yang dikatakan di Baku, kondisi Gaza dan Tepi Barat, reaksi Barat, rekam jejak Beijing, lalu kalkulasinya.

Dua ringkasan, satu ruangan: yang disebut dan yang tidak

Versi Beijing memuat empat butir: perdamaian dan rekonsiliasi sebagai landasan kebijakan Timur Tengah Tiongkok; solusi dua negara sebagai jalan yang benar; pembukaan akses penuh ke Gaza agar bencana kemanusiaan tidak meluas; dan desakan agar permukiman di Tepi Barat dihentikan dan dibalikkan. Versi kantor kepresidenan Israel, sebagaimana dimuat Jerusalem Post dan JNS, menekankan hubungan ekonomi, perdagangan, dan budaya, serta ancaman Iran dan proksinya. Menurut CGTN, Herzog juga menyatakan Israel berpegang pada kebijakan satu-Tiongkok dan menghargai prakarsa perdamaian Beijing. Dalam pidatonya di forum yang sama, Herzog mengatakan perdamaian tak bisa hidup bersama terorisme dan kerja sama tak bisa tumbuh bersama boikot. Wang juga bertemu mitranya dari Palestina, Varsen Aghabekian Shahin, dan menegaskan isu Palestina tidak boleh dimarginalkan.

Catatan metodologis: keduanya ringkasan sepihak tanpa transkrip. Bahwa readout Israel tidak menyebut permukiman tak membuktikan topik itu tak dibahas, dan bahwa readout Tiongkok menyebutnya tak menunjukkan bagaimana Herzog menjawab.

Satu hal lagi patut dicermati: dalam laporan yang kami baca, kata yang dipakai Beijing adalah “pendirian paksa”, bukan “ilegal”. Apakah itu pilihan sengaja, kami tidak tahu; teks asli dalam bahasa Mandarin tidak kami periksa. Tetapi pilihan kata seperti ini, yang menolak tanpa mengutuk, lazim dalam diplomasi yang ingin menjaga pintu tetap terbuka bagi semua pihak.

Dua ringkasan atas satu pertemuan: yang satu menyebut permukiman, yang lain tidak. Selisih itulah fakta politiknya.

Gaza: pintu yang diminta dibuka, angka yang masih diperdebatkan

Seruan membuka akses penuh ke Gaza datang setahun setelah gencatan senjata Oktober 2025 yang rapuh. Kementerian Kesehatan Gaza menyebut lebih dari 73.000 warga Palestina tewas sejak Oktober 2023 (73.651 per 5 September 2026) dan lebih dari 1.200 sejak gencatan senjata. Angka ini masih bergerak dan bersumber dari otoritas di Gaza, meski PBB sebelumnya menilai data kementerian itu andal. Oxfam melaporkan Israel melarang 37 lembaga kemanusiaan internasional bekerja di Gaza, dan per Agustus 2026 lebih dari 60 persen rumah tangga belum mencapai standar minimum enam liter air per orang per hari. Human Rights Watch mencatat seluruh penyeberangan ditutup pada 28 Februari 2026, ketika operasi Israel–AS terhadap Iran dimulai. Anak-anak Palestina yang kehausan tidak menunggu perdebatan angka selesai.

Sisi lain perlu dicatat. Badan pemerintah Israel COGAT menyatakan 1,78 juta ton makanan masuk antara Oktober 2025 dan 7 Juni 2026, hampir tiga kali kebutuhan bulanan menurut WFP, dan harga pangan turun sekitar 72 persen. Itu klaim pihak yang bersengketa dan bertolak belakang dengan penilaian lembaga bantuan. PBB sendiri melaporkan bantuan pangan menjangkau lebih dari 600.000 orang pada siklus Agustus, seraya menegaskan akses tetap terbatas.

Tepi Barat: angka di balik kata “paksa”

OCHA mencatat 1.835 serangan pemukim pada 2025, naik setiap tahun sejak 2023. Pada empat bulan pertama 2026 rata-ratanya sekitar 190 per bulan, jalur menuju lebih dari 2.000 serangan setahun. Pada Juni, juru bicara Sekjen PBB menyebut laju enam insiden per hari sebagai yang tertinggi dalam catatan, dan OCHA kemudian menghitung 1.330 insiden sejak awal tahun per akhir Juli. Hitungan AFP berdasarkan data Kementerian Kesehatan Palestina menyebut sedikitnya 1.105 warga Palestina tewas oleh pasukan atau pemukim Israel di Tepi Barat sejak Oktober 2023. Di meja kebijakan, kabinet keamanan Israel menyetujui 13 permukiman baru sekitar awal Juli, komite perencanaan menyetujui 2.162 unit rumah pada Juni, dan Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyebutnya “revolusi permukiman”. Lebih dari 500.000 warga Israel tinggal di permukiman Tepi Barat di luar Al-Quds Timur; sekitar 700.000–750.000 jika Al-Quds Timur dihitung. PBB menilai permukiman itu ilegal menurut hukum internasional, dan OHCHR menyebut pemindahan paksa warga Palestina di wilayah pendudukan sebagai kejahatan perang.

Pemerintah Israel membingkai langkahnya sebagai urusan keamanan, merujuk trauma serangan 7 Oktober 2023 dan operasi kontra-terorisme; OCHA sendiri mencatat dua pemukim Israel tewas dalam sepekan kekerasan akhir Juli. Namun kematian warga sipil di satu pihak tidak membenarkan pengusiran di pihak lain.

Biaya nyata datang dari Barat, bukan dari Baku

Pada 8 September 2026, Inggris mengumumkan larangan impor barang permukiman Israel di Tepi Barat, dikoordinasikan dengan Prancis dan Kanada; sejumlah negara lain menyatakan niat serupa lewat surat bersama, sehingga Axios menghitung 12 negara. Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband menyebut pendudukan itu melanggar hukum. Herzog menyebut langkah itu akan berada di sisi sejarah yang salah, Smotrich meminta duta besar Inggris diusir, dan Duta Besar AS mengkritiknya, meski Axios melaporkan Gedung Putih tidak menentang inisiatif itu. Inilah harga konkret pertama bagi proyek permukiman. Pernyataan Wang Yi tidak membawa mekanisme semacam itu. Langkah Barat pun tak luput dari kritik: para pengkritik mencatat sulitnya membedakan barang permukiman dari barang Israel lain, dan kebijakan ini datang di tengah seruan agar Barat berbuat lebih awal.

Di Jakarta, Kementerian Luar Negeri mengecam rencana perluasan permukiman pada 19 Juli 2026, sementara Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid pada 21 September menyatakan dukungan atas pembatasan dagang yang diumumkan negara-negara Barat dan mendorong RUU yang menyangkut boikot. Sejauh yang kami temukan, belum satu pun dari dua sikap itu berubah menjadi kebijakan perdagangan Indonesia.

Biaya nyata bagi pembangunan permukiman sejauh ini datang dari larangan dagang dan sanksi Barat, bukan dari pernyataan Beijing.

Rekam jejak Beijing: konsisten di kata, hati-hati di tindakan

Pada 17 November 2025, Dewan Keamanan PBB mengesahkan Resolusi 2803 (13 setuju, tak ada yang menolak) yang mendukung rencana Gaza versi Trump dan Dewan Perdamaian. Tiongkok dan Rusia abstain, bukan memveto. Duta Besar Fu Cong menilai draf itu kurang memperhatikan Palestina dan tidak tegas soal kedaulatan Palestina dan solusi dua negara. Abstain membuat kerangka itu lolos; sebagian aktivis solidaritas Palestina mengkritiknya. Pada Juli 2024, Beijing menjadi tuan rumah Deklarasi Beijing yang ditandatangani 14 faksi Palestina, termasuk Fatah dan Hamas, tentang pemerintahan rekonsiliasi sementara; Israel menolaknya. Dalam riset untuk artikel ini kami tidak menemukan indikasi pemerintahan itu terbentuk. Tiongkok juga tidak menetapkan Hamas sebagai organisasi teroris, berbeda dengan Amerika Serikat dan Uni Eropa.

Pembela kebijakan Beijing akan menjawab bahwa abstain dan keterlibatan dengan semua pihak justru menjaga akses diplomatiknya, termasuk kemampuan menjadi tuan rumah dialog faksi Palestina, sesuatu yang tak dimiliki negara-negara yang memutus hubungan. Argumen itu masuk akal dan tak bisa dibuktikan salah, tetapi ia juga tak bisa dibuktikan benar selama akses itu belum menghasilkan perubahan yang bisa diukur di lapangan.

Karena itu, kami mengusulkan tiga tolok ukur untuk bulan-bulan ke depan: bagaimana Tiongkok memberi suara pada resolusi Dewan Keamanan berikutnya soal Gaza atau Tepi Barat; apakah kata “hentikan dan balikkan” diulang dalam forum yang dihadirinya bersama banyak negara berkembang; dan apakah ada langkah ekonomi sekecil apa pun yang mengubah biaya bagi pembangunan permukiman. Bila ketiganya kosong, pernyataan Baku akan terbaca sebagai catatan kaki, bukan titik balik.

Dua meja yang dilayani Beijing: Haifa, Teheran, dan kalkulasi dingin

Beijing menjaga hubungan dengan hampir semua pihak. Utusan khususnya, Zhai Jun, berkunjung ke Israel pada 6–8 Januari 2026 dan menghadiri resepsi Hari Nasional Israel pada 19 Mei 2026. Perusahaan Tiongkok SIPG memegang konsesi 25 tahun terminal Haifa Bay Port sejak 2021, dan ekspor Tiongkok ke Israel sekitar dua kali lipat ekspor Israel ke Tiongkok. Di sisi lain, Wang bertemu pejabat keamanan Iran di sela-sela KTT BRICS di New Delhi pada 22 Juni dan menyebut kesepakatan AS–Iran “hard-won”; pertemuan Xi–Trump di Beijing pada 14–15 Mei tidak menghasilkan terobosan soal Iran; dan Al-Monitor memberi judul liputannya dengan laporan yang mengaitkan Tiongkok dengan penguatan militer Iran, klaim yang tidak kami verifikasi. Kajian lembaga riset Swedia UI (2026) menyimpulkan pendekatan Beijing digerakkan kepentingan ekonomi dan energi. Artinya, “landasan” perdamaian yang disebut Wang juga landasan perdagangannya. Itu tak mengurangi arti pernyataan, tetapi menjelaskan mengapa ia berhenti di kata.

Ujian standar yang sama: Xinjiang

Penilaian atas Beijing akan timpang bila hanya menimbang politik luar negerinya. Pada 31 Agustus 2022, Kantor HAM PBB (OHCHR) menyimpulkan bahwa penahanan sewenang-wenang dan diskriminatif terhadap Uyghur dan kelompok Muslim lain di Xinjiang dapat merupakan kejahatan internasional, khususnya kejahatan terhadap kemanusiaan; laporan itu tidak memakai istilah genosida. Beijing menolak temuan itu dan tanggapannya dilampirkan pada laporan tersebut. Menunjuk hal ini bukan untuk menggugurkan seruan Wang soal Tepi Barat: benar-tidaknya sebuah tuntutan tidak bergantung pada bersih-tidaknya tangan penyampainya. Tetapi bagi pembaca Muslim Indonesia, ia menakar seberapa jauh kita boleh bersandar pada Beijing sebagai pembela umat.

Kebenaran sebuah tuntutan tidak bergantung pada kebersihan tangan penyampainya; seberapa besar harapan yang kita gantungkan padanya, itu soal lain.

Yang tersisa untuk kita lakukan

  1. Ubah kecaman menjadi ukuran. Kemlu RI mengecam rencana perluasan permukiman pada 19 Juli 2026, dan Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid pada 21 September mendukung pembatasan dagang barang permukiman. Tanyakan kepada wakil rakyat dan kementerian terkait: apakah Indonesia akan menyelaraskan diri dengan pembatasan yang diumumkan 12 negara pada 8 September, dan kapan?
  2. Salurkan bantuan pada kebutuhan yang terukur. Dengan lebih dari 60 persen rumah tangga Gaza kekurangan air minimum dan 37 lembaga internasional dilarang bekerja, tanyakan kepada lembaga seperti INH, BAZNAS, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, MER-C, Adara Foundation, atau Sahabat Al-Aqsha: lewat mitra mana bantuan masuk, dan berapa bagian untuk air dan sanitasi?
  3. Baca dua versi sebelum membagikan. Bandingkan readout Beijing dan Israel, rujuk data OCHA langsung, dan tandai yang masih diperdebatkan, seperti angka Gaza atau klaim COGAT. Menyebar kutipan Wang Yi tanpa konteks justru melemahkan kredibilitas pembelaan kita sendiri.

Jika kata cukup, permukiman sudah berhenti sejak PBB menyebutnya ilegal. Jika kecaman cukup, 1.835 serangan pemukim pada 2025 tidak akan menjadi dasar proyeksi lebih dari 2.000 serangan pada 2026. Jika abstain cukup, Gaza tidak akan masih menunggu pintunya dibuka.

Namun kata juga bukan tak berarti. Ia memberi negara lain kerangka untuk bergerak, memberi Palestina kursi di meja, dan memaksa pihak yang ditegur menjawab. Herzog menjawab dengan Iran dan dagang, dan itu pun sebuah jawaban.

Pembukaan UUD 1945 menyatakan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan. Kalimat itu lahir dari bangsa yang tahu bahwa kata baru bermakna bila ditemani kerja.

Maka pertanyaan yang tersisa bukan apakah Beijing berpihak. Pertanyaannya: adakah negara, Tiongkok, negara-negara Barat yang baru mulai bertindak, negara-negara Muslim, termasuk kita, yang bersedia membayar harga atas kata-katanya sendiri, sebelum angka tahun depan terbit?

ARTIKEL TERKAIT

Terkini