Esai Joseph Massad menyebut Barack Obama “penjahat perang” yang tak layak mengkritik Donald Trump. Telaah ini menimbang apa yang kokoh, apa yang berlebihan, dan apa artinya bagi kita yang memikirkan Palestina dari Indonesia.
Sabtu malam, 24 Oktober 2026, di aula Cass Technical High School, Detroit, Barack Obama naik panggung bersama Abdul El-Sayed, calon senator Demokrat Michigan yang berdarah Arab-Amerika dan terang-terangan menyebut perang di Gaza sebagai genosida, serta Jocelyn Benson, calon gubernur. Hari itu adalah hari pertama pemungutan suara awal di negara bagian tersebut. Beberapa jam sebelumnya, di Cleveland Public Auditorium, Ohio, mantan presiden itu menyebut dua tahun pemerintahan Trump sebagai masa “kekacauan, kekejaman, korupsi, dan inkompetensi”, dan menuding Trump memulai “perang yang tidak perlu” melawan Iran. Enam hari kemudian, Middle East Eye menerbitkan jawaban Joseph Massad: Obama, tulisnya, adalah “penjahat perang” yang tak punya otoritas moral untuk bicara. Dua panggung, satu pertanyaan: siapa yang pantas mengkritik, dan apakah rekam jejak si pengkritik membatalkan isi kritiknya?
Pertanyaan itu bukan sekadar urusan politik Amerika. Bagi pembaca kita, ia menyentuh hal yang lebih dalam: bagaimana menilai tokoh Barat yang piawai berbicara tentang martabat manusia, tetapi pemerintahannya mengirim senjata kepada rezim Zionis yang menduduki Palestina? Esai Massad menjawab dengan palu. Tulisan ini mencoba menjawab dengan timbangan.
Perlu dinyatakan sejak awal: tesis telaah ini bersifat analitis dan argumentatif, bukan pembenaran moral bagi Trump, Obama, maupun Partai Demokrat. Soal Palestina, posisi kami jelas dan tidak berubah. Di luar itu, kami memperlakukan semua aktor, termasuk penulis yang kami kutip, dengan standar yang sama: klaim dihitung, bukan dipercaya karena gayanya.
Hasil pengecekan kami campuran. Sebagian besar angka Massad cocok dengan sumber primer. Beberapa klaim ternyata lebih rumit daripada kesan yang ia bangun. Dan satu hal paling penting justru ia abaikan: bahwa kemarahan pemilih muda terhadap Demokrat belum tentu berubah menjadi keluarnya mereka dari Demokrat.
Yang Sebenarnya Dikatakan Obama Lebih Sempit daripada yang Disangkalkan Massad
Massad menulis bahwa Obama “mengecam Trump atas tewasnya 21 tentara AS” dalam perang Iran. Angka 21 benar: Pentagon, lewat data DCAS yang dilaporkan Shafaq News pada 10 Oktober 2026, mencatat 21 personel AS tewas terkait operasi melawan Iran per 9 Oktober, dengan 865 terluka. Namun hitungan itu mencakup korban tempur dan non-tempur, dan, menurut laporan yang sama, pencatatannya dikritik karena korban setelah 7 Juli dicatat terpisah.
Yang lebih penting, dalam laporan Al Jazeera dan NBC dari dua rapat umum itu, argumen Obama bukan soal peti jenazah. Ia menyebut perang tersebut “tidak perlu”, menudingnya mendorong biaya hidup, dan mengatakan Iran kini “punya hak veto” atas Selat Hormuz. Itu kritik strategis dan ekonomi. Dalam laporan-laporan tersebut, Gaza tidak disebut sama sekali. Kritik Massad bahwa Obama diam soal Palestina karenanya berdiri di atas bukti: tidak ada yang dikatakan. Tetapi menyodorkannya seolah Obama mengecam kematian tentara adalah penyederhanaan.
Ada pula kutipan “tomfoolery and nonsense” yang Massad lekatkan pada Obama. Dalam laporan NBC dan Al Jazeera yang kami baca, frasa itu tidak muncul. Kami tidak memakainya sebagai kutipan, dan menyarankan pembaca yang ingin menukilnya mencari rekaman pidato lengkap lebih dulu.
Rekam Jejak Domestik: Angka Benar, Tafsirnya yang Perlu Dibaca Utuh
Massad menyebut Obama “deporter-in-chief” yang mendeportasi lebih dari tiga juta imigran. Data Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) untuk tahun fiskal 2009–2016 memang menunjukkan sekitar 3,1 juta pemindahan formal. Julukan itu dipakai para pegiat imigran sendiri pada masa itu.
Nuansanya: sekitar 74 persen pemindahan dilakukan lewat prosedur cepat atau pemberlakuan kembali perintah lama tanpa hakim imigrasi, banyak di antaranya terkait penyeberangan perbatasan. Ini tidak meringankan masalahnya, sebab justru prosedur tanpa pengadilan itulah yang dikritik. Tetapi ia membuat perbandingan “Obama lebih kejam daripada Trump” yang dilontarkan Massad menjadi klaim moral, bukan klaim statistik. Massad menyatakan itu secara retoris; kami menganggapnya tak bisa dibuktikan dengan angka.
Soal penahanan keluarga: Massad menyebut kapasitas naik dari kurang dari 100 tempat tidur menjadi sekitar 3.700 pada 2015. Migration Policy Institute mencatat “kurang dari 100” pada awal 2014 dan “lebih dari 3.000” pada September 2015. Arahnya sama, angka persisnya berbeda. Pemerintahan Obama membela kebijakan itu sebagai pencegah gelombang migrasi baru sampai Hakim Dolly Gee memerintahkan pembebasan keluarga pada 21 Agustus 2015.
Rekam jejak yang diperdebatkan tidak otomatis membatalkan kritik yang benar, tetapi ia membatasi otoritas moral orang yang mengucapkannya.
Perang Drone dan Kunduz: Pertanyaan Hukum yang Belum Tuntas, bukan Vonis
Abdulrahman al-Awlaki, warga negara AS berusia 16 tahun, tewas dalam serangan di Yaman pada 14 Oktober 2011 di bawah kebijakan yang disetujui Obama. Pejabat AS yang tidak disebut namanya mengatakan sasarannya adalah seorang tokoh Al-Qaeda lain dan bahwa pemerintah “tidak tahu” si remaja ada di sana. Penjelasan itu bukan pembenaran: kematian seorang remaja warga negara AS tanpa proses pengadilan adalah soal serius yang, sejauh kami telusuri, tak pernah dijawab tuntas di Washington.
Serangan atas rumah sakit Médecins Sans Frontières di Kunduz pada 3 Oktober 2015 menewaskan sedikitnya 42 orang menurut MSF. Obama meminta maaf kepada presiden MSF pada 7 Oktober. Laporan akhir Pentagon, April 2016, menyebutnya kecelakaan akibat kesalahan manusia dan bukan kejahatan perang; 16 personel didisiplinkan, tidak ada yang dipidana. MSF menolak kesimpulan itu dan menuntut penyelidikan independen. Karena itu label “penjahat perang” yang dipakai Massad adalah kesimpulan hukum yang belum diadili oleh pengadilan mana pun; ia pendapat politik, bukan putusan.
Klaim bahwa Obama “membom pernikahan, pemakaman, dan rumah sakit, menewaskan ratusan orang” dan bahwa perangnya menewaskan “lebih dari 100.000” warga Afghanistan dan Irak selama dua periode tidak disertai sumber di esai tersebut. Estimasi korban perang jauh bervariasi menurut metodologi, dan kami tidak menemukan angka agregat yang bisa dipertanggungjawabkan untuk periode itu saja. Kami menyarankan agar angka tersebut tidak dikutip sebagai fakta.
Soal Palestina, Catatan Obama Berat Sebelah, tetapi Tidak Satu Dimensi
Di bagian inilah esai Massad paling kuat. Pada Februari 2011 Amerika memveto resolusi Dewan Keamanan PBB soal permukiman ilegal yang didukung anggota lain. Pada 14 September 2016 pemerintahan Obama menandatangani nota kesepahaman bantuan militer senilai 38 miliar dolar AS untuk tahun fiskal 2019–2028, paket terbesar saat itu. Dan dalam perang Gaza 2014, yang menurut OCHA menewaskan 2.251 warga Palestina (1.462 di antaranya warga sipil) dan 73 warga Israel (67 prajurit, 6 sipil), Washington dilaporkan memasok ulang amunisi kepada militer rezim Zionis.
Nuansa yang wajib ditaruh di sini: dalam pidato Kairo 2009 Obama juga menyebut kondisi rakyat Palestina “tidak tertahankan”, menolak legitimasi permukiman baru, dan mengatakan Amerika tidak akan berpaling dari cita-cita negara dan martabat Palestina. Pada Desember 2016, di ujung masa jabatan, Amerika abstain dan membiarkan Resolusi 2334 lolos 14-0, yang menyatakan permukiman Israel tak punya keabsahan hukum. Massad tidak menyebut abstain itu. Bagi kita, ini bukan alasan memuji Obama: sebuah abstain di hari-hari terakhir tidak mengimbangi delapan tahun pengiriman senjata. Tetapi ia menunjukkan bahwa Obama bukan versi lunak dari Trump, melainkan tokoh dengan rekam jejak yang kontradiktif.
Massad juga menulis bahwa Obama “melarang” Palestina melawan dan menyamakan penentangan terhadap negara Israel dengan Holokaus. Teks pidato Kairo, yang bisa dibaca di NPR, memuat penegasan bahwa Holokaus menewaskan enam juta orang dan bahwa menyangkalnya “tak berdasar dan penuh kebencian”, serta ajakan agar Palestina meninggalkan kekerasan. Memang ada sikap yang dapat dikritik, terutama anggapan bahwa tanggung jawab perubahan jatuh pada pihak yang diduduki. Tetapi menyebut seluruh pidato itu tuduhan “penyangkal Holokaus” terhadap bangsa Arab adalah tafsir Massad, bukan isi teks.
Bagi keluarga di Gaza, mutu retorika Washington tak pernah menjadi ukuran; yang diukur adalah pengiriman senjata dan suara di Dewan Keamanan.
Survei Harvard: Pemuda Marah kepada Partai, tetapi Belum Beranjak dari Partai
Massad mengutip Harvard Youth Poll sebagai bukti jurang antara pemilih dan Demokrat. Datanya akurat. Survei edisi ke-53 yang dirilis 22 Oktober 2026 (dilakukan 30 September–7 Oktober, 2.024 responden usia 18–29) menemukan 66 persen pemilih muda terdaftar tidak setuju dengan kinerja Demokrat di Kongres, dan 65 persen responden Demokrat mendukung penghentian bantuan militer AS kepada Israel.
Yang tidak Massad sebut adalah judul survei yang sama: Demokrat unggul 21 poin di antara pemilih muda terdaftar (45 banding 24), dan 37 poin di antara pemilih yang kemungkinan besar mencoblos (63 banding 26). Artinya, anak muda Amerika marah kepada partainya, tetapi kemarahan itu belum menjadi pindah pilihan. Bagi kita yang berharap tekanan akar rumput mengubah kebijakan Washington, ini kabar campuran: ada dukungan massal untuk menyetop bantuan militer, tetapi belum ada kendaraan politik yang tegas membawanya.
Kemarahan generasi muda Demokrat nyata dan terukur. Yang belum terbukti adalah bahwa kemarahan itu cukup kuat untuk meninggalkan partainya di bilik suara.
El-Sayed dan Dilema Koalisi: Pemutihan atau Pragmatisme?
Massad menuduh El-Sayed “merangkul” Obama dan menyebut penampilannya bersama Kamala Harris sebagai “rehabilitasi”. Faktanya lebih berlapis. Dalam laporan Voz, Obama mengakui bahwa mereka “tidak akan sepakat dalam setiap detail”, dan El-Sayed sendiri pernah menulis esai tahun 2012 yang mengkritik Obama karena melanggengkan perang dan melanggar kebebasan sipil. Di Detroit, Obama juga menyatakan bahwa serangan terhadap iman dan latar keluarga El-Sayed adalah film lama: “Saya pernah memerankannya.”
Ada dua cara membaca ini. Pembaca yang sejalan dengan Massad akan melihat seorang kandidat yang mengaku menentang genosida tetapi bersedia berfoto dengan arsitek pasokan senjata. Pembaca yang lebih pragmatis akan melihat seorang calon senator Arab-Amerika di negara bagian yang ketat persaingannya, yang tahu ia butuh koalisi, dan bahwa kursi di Senat AS lebih berguna bagi Palestina daripada kemurnian ideologis di luar. Kedua bacaan masuk akal. Kami condong pada pembacaan pragmatis, dengan catatan: ukuran penilaiannya adalah suara El-Sayed dalam pemungutan suara tentang bantuan militer kelak, bukan siapa yang berdiri di sebelahnya hari ini.
Kritik Sah dari Penutur yang Cela: Mengapa Keduanya Bisa Benar Sekaligus
Inti perdebatan ini adalah dilema klasik: apakah tuduhan Obama bahwa Trump memulai perang yang tidak perlu menjadi salah karena Obama sendiri memimpin perang? Secara logika, tidak. Kebenaran suatu klaim tidak tergantung pada kebersihan penuturnya. Perang Iran yang dimulai 28 Februari 2026 dapat dinilai tidak perlu, mahal, dan merugikan, sekaligus Obama dapat dinilai tak punya kredibilitas moral untuk menyampaikannya.
Namun Massad melompat lebih jauh, menyiratkan bahwa kritik terhadap Trump sebaiknya tidak diutarakan oleh pihak yang memiliki rekam jejak buruk. Itu argumen yang berbahaya: ia menuntut kesucian dari semua pengkritik dan, tanpa sadar, melindungi pihak yang dikritik. Kita yang berpihak pada Palestina juga perlu waspada terhadap kecenderungan ini. Dalam isu Palestina, kita menuntut dunia menimbang fakta, bukan pelakunya. Standar itu berlaku untuk Obama, Trump, Demokrat, Republik, dan juga untuk esai yang kita sukai.
Pada akhirnya yang paling bisa dipertanggungjawabkan adalah tiga hal sekaligus. Pertama, Obama dan Demokrat memiliki catatan berat yang berkontribusi pada kondisi Gaza hari ini: kapasitas militer rezim Zionis dibangun di atas aliran dana yang ia teken. Kedua, label hukum seperti “penjahat perang” adalah wilayah pengadilan, bukan op-ed. Ketiga, data pemilih muda menunjukkan celah politik yang nyata, tetapi belum teruji.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
- Tetap salurkan bantuan kemanusiaan, karena gencatan senjata tidak berarti selesai. Gencatan senjata yang ditengahi AS berlaku sejak Oktober 2025, tetapi menurut AP korban terus berjatuhan. Kementerian Kesehatan Gaza mencatat 73.001 korban jiwa per 14 Juni 2026 dan 73.651 per 5 September 2026; angka itu belum memisahkan sipil dan kombatan, meski AP mencatat lembaga PBB menilai catatannya umumnya andal. Salurkan donasi lewat INH, Sahabat Al-Aqsha, MER-C, Adara Foundation, atau zakat-infak melalui BAZNAS, Dompet Dhuafa, dan Rumah Zakat.
- Dorong diplomasi Indonesia pada momen yang tepat: 2028. Nota kesepahaman bantuan militer 38 miliar dolar AS berakhir pada tahun fiskal 2028, sehingga perundingan berikutnya akan dibahas di Washington dalam beberapa tahun ke depan. Organisasi masyarakat sipil Indonesia dapat mendesak pemerintah dan DPR agar secara konsisten mendukung proses hukum di ICJ dan ICC serta pembatasan transfer senjata di forum PBB, sambil menjalin komunikasi dengan jaringan pemilih Muslim dan Arab-Amerika di negara bagian seperti Michigan.
- Biasakan membaca opini sebagai opini, termasuk yang sejalan dengan kita. Esai Massad kuat di data kebijakan Israel tetapi lemah di beberapa klaim lain: kutipan “tomfoolery”, angka korban perang “100.000”, label “penjahat perang”, dan selisih angka detensi keluarga (3.700 versus “lebih dari 3.000”). Sebelum membagikan, cek angka ke sumber primer: DHS, OCHA, Harvard IOP, Pentagon. Kredibilitas gerakan pro-Palestina dibangun oleh ketelitian, bukan oleh kemarahan.
Di Detroit malam itu, ruangan penuh orang yang percaya bahwa pemilu bisa mengubah sesuatu. Di Gaza, orang-orang menghitung hari dalam gencatan yang tak berhenti memakan korban. Di Washington, ada pejabat yang menunggu hasil pemilu Selasa, 3 November untuk menghitung ulang posisinya.
Kita menyaksikan tiga waktu yang berjalan bersamaan: waktu kampanye yang hitungan hari, waktu politik anggaran yang hitungan tahun, dan waktu penderitaan yang tidak punya kalender. Tidak satu pun dari ketiganya mengenal kemurnian. Politik Amerika selalu menawarkan pilihan yang tidak sempurna, dan kita, dari jauh, sering terjebak antara memuja salah satunya atau menolak semuanya.
Kita tidak tahu apakah suara anak-anak muda yang marah itu akan berubah menjadi kebijakan, atau hanya menjadi angka dalam survei berikutnya. Yang kita tahu: kemarahan saja tidak cukup, dan kesucian bukan syarat untuk bicara. Pertanyaan yang tersisa lebih sederhana dan lebih sulit: ketika gema pidato mereda, siapa di antara mereka yang akan menahan pengiriman senjata berikutnya?


