HomeLiterasiFiksiGunting dan Seribu Cerita

Gunting dan Seribu Cerita

#CerpenJumat — Edisi 14: Suara dari Gaza


Abu Hamdan punya aturan: tukang cukur yang baik tidak pernah membiarkan kursinya sunyi.

Kursinya sebenarnya bangku plastik biru yang kakinya diganjal batu, dan salonnya adalah lorong sempit di antara tenda sektor tengah, dengan cermin seukuran telapak tangan yang digantung di tiang. Tapi aturan tetap aturan. Sambil menggunting, ia bercerita. Bukan cerita benar, tentu saja. Cerita yang ia karang pagi itu juga, tentang ikan yang bisa bicara, tentang wazir yang kehilangan sandal di hari pernikahannya, tentang perahu yang berlayar ke bulan karena salah belok.

Pelanggan-pelanggannya tertawa. Anak-anak berebut duduk paling dulu. Dan tidak ada yang bertanya kenapa gunting di tangannya karatan di bagian engsel, atau kenapa ia selalu menolak dibayar dengan uang kalau ada yang menawarkan sebutir telur.

“Satu gunting, seribu cerita,” katanya setiap kali, sambil mengetuk-ngetukkan logam itu. Abu Ramzi, yang pernah menawar gunting itu dengan harga yang menghina, selalu mendengus. “Seribu cerita, nol uang.”

“Cerita lebih tahan lama dari uang,” jawab Abu Hamdan, dan semua orang menganggap itu bagian dari lelucon.


Lelaki itu datang pada suatu pagi yang dingin, berdiri di ujung lorong tanpa berkata apa-apa.

Rambutnya sudah mencapai bahu, kusut dan memutih di sisi, dan janggutnya tak beraturan seperti semak yang dibiarkan. Abu Hamdan mengenalinya sekilas, Abu Yaman, bekas guru ukur tanah, yang tendanya paling ujung dan yang selalu menunduk setiap bertemu orang.

“Duduk, Ustaz!” Abu Hamdan menepuk bangku biru dengan riang. “Hari ini kita bikin penampilan yang lebih tampan dari wazir!”

Abu Yaman tidak tertawa. Ia duduk pelan-pelan, seperti takut bangku itu akan menolak, dan menatap cermin kecil di tiang lama sekali.

“Sudah dua tahun,” katanya akhirnya.

“Rambutmu?”

“Aku tidak pernah memotongnya sejak istriku…” Ia berhenti. Jemarinya mencengkeram lutut. “Dia yang biasa memotongnya. Setiap bulan. Di halaman. Dia selalu bilang aku tidak bisa duduk diam.”

Abu Hamdan mengangguk, dan tangannya yang sudah siap bercerita mendadak terasa canggung.


Ia punya cerita untuk situasi ini. Ia selalu punya. Cerita tentang tukang cukur dan raja yang botak, yang ia karang sendiri dan tak pernah gagal membuat orang tersenyum. Cerita itu sudah ada di ujung lidahnya.

Tapi ia melihat bahu Abu Yaman di cermin kecil itu. Bahu yang turun seperti menanggung sesuatu yang tak boleh ditertawakan.

“Kau mau aku bercerita?” tanyanya pelan, untuk pertama kali dalam bertahun-tahun.

Abu Yaman diam lama. Di luar lorong, seseorang memukul kaleng untuk memanggil anak-anak ke kelas Ustadzah Khadija, dan suara itu masuk sebentar lalu hilang.

“Ceritakan sesuatu yang benar,” katanya akhirnya. “Aku sudah terlalu lama mendengar kata-kata yang dimaksudkan menghiburku.”

Abu Hamdan membeku, gunting terangkat setengah.


Ia membuka sisir kayu dan mulai menyisir rambut Abu Yaman dari ujung, perlahan, melepaskan simpul demi simpul. Gunting pertama berbunyi krek, dan segumpal rambut kelabu jatuh ke bahu kainnya, ringan seperti kapas basah.

Bau sabun kasar dan kulit jeruk yang ia rendam sebagai pewangi memenuhi lorong. Dingin logam menyentuh tengkuk Abu Yaman, dan lelaki itu menghela napas panjang.

“Aku punya kios,” kata Abu Hamdan.

Gunting bergerak. Krek. Krek.

“Di pasar lama. Dua kursi, satu cermin besar setinggi tubuh, dengan bingkai kuning yang selalu mengelupas. Aku menghabiskan dua puluh tahun di sana, dan hanya setengahnya aku tahu nama pelanggan.” Suaranya datar, tanpa nada cerita. “Cermin itu pecah hari pertama. Aku mengambil pecahan sebesar ini.” Ia memperlihatkan cermin telapak tangan di tiang. “Cuma ini yang kubawa.”

Abu Yaman tidak menoleh, tapi bahunya mengendur sedikit.

“Aku tidak pernah cerita itu pada siapa pun. Aku karang ikan bicara, wazir, bulan. Karena kalau aku cerita yang ini, aku tidak yakin bisa berhenti.”

Krek.

“Tapi kau minta yang benar.”


Mereka tidak bicara lagi sampai rambut itu pendek dan rapi, berjajar di sisi telinga. Abu Hamdan merapikan janggut dengan telaten, menyapunya dengan kuas bulu, dan menepuk kain dari pundak.

Sebelum selesai, ia berhenti di bagian belakang kepala. Di tengkuk, hampir tak terlihat, ia sengaja membiarkan satu helai rambut agak lebih panjang dari yang lain, tidak rata, sedikit miring.

Ia tidak tahu apakah itu keputusan yang tepat. Ia hanya ingat, entah dari mana, bahwa orang-orang yang memotong rambut suaminya selama puluhan tahun hampir selalu meninggalkan jejak kecil yang hanya mereka yang tahu.

Abu Yaman berdiri, mengangkat cermin kecil dari tiang dengan kedua tangan, dan menatap wajahnya yang kini tampak lebih muda dua tahun. Ia memutar kepala, memperhatikan sisi kanan, sisi kiri. Lalu tangannya terangkat ke tengkuk dan berhenti di helai yang tidak rata itu.

Ia diam.

Satu detik. Dua. Lorong itu hening, hanya ada suara angin menggoyang kain tenda.

“Dia selalu begini,” katanya akhirnya, sangat pelan. Bukan pada Abu Hamdan. Bukan pada siapa pun.


Ia membayar dengan sebutir telur rebus yang dibungkus daun, sudah agak dingin, jelas disimpannya dari sarapan. Abu Hamdan menerimanya tanpa menawar.

“Besok,” kata Abu Yaman di ambang lorong, tanpa menoleh, “aku mungkin bawa dua.”

“Dua apa?”

“Telur.” Ia berjalan pergi, bahunya sedikit lebih tegak dari ketika datang. “Atau dua cerita yang benar. Aku belum tahu.”

Abu Hamdan berdiri lama sambil memegang telur itu, lalu duduk di bangku biru dan menatap cermin telapak tangannya sendiri. Kali ini tidak ada ikan yang bicara. Tidak ada wazir yang kehilangan sandal.

Hanya wajah seorang tukang cukur yang baru saja mengatakan sesuatu yang benar, dan ternyata belum habis.


Minggu depan, sebuah radio rusak di tenda nomor tujuh akan menyala sendiri di tengah malam, dan seluruh lorong akan terbangun untuk mendengarkan sesuatu yang bukan berita.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini