Pidato Grand Rapids 26 Oktober 2026, daftar pemenang Nobel, anggaran riset yang timpang, dan kampus-kampus Gaza yang hancur: satu kalimat yang mudah dibantah, satu pertanyaan sebab yang tidak.
Senin malam, 26 Oktober 2026, di hadapan pengurus Partai Republik Kabupaten Kent di Grand Rapids, Michigan, Menteri Kesehatan Amerika Serikat Robert F. Kennedy Jr. menyatakan bahwa ada 500 juta orang Arab di dunia, namun mereka tidak memproduksi sains, tidak memenangi Hadiah Nobel, Fields, ataupun Wolf, dan tidak melahirkan sastra. Menurutnya, tradisi besar itu telah dihancurkan Ikhwanul Muslimin. Dalam hitungan jam, daftar bantahan membanjiri media. Delapan hari kemudian, 3 November, Associated Press memproyeksikan kemenangan Abdul El-Sayed, calon senator Demokrat keturunan Mesir yang menjadi lawan politik tuan rumah acara itu. Sementara itu, ribuan kilometer dari Michigan, sebagian besar kampus di Gaza hancur atau rusak berat. Tiga potongan peristiwa ini bertemu pada pertanyaan yang lebih menarik daripada siapa yang pernah memenangi piala: apa sebenarnya yang membuat sebuah masyarakat sanggup memproduksi ilmu?
Kalimat Kennedy memuat dua klaim yang perlu dipisahkan. Klaim pertama bersifat empiris: orang Arab tidak memenangi penghargaan besar dan tidak menghasilkan sains maupun sastra. Klaim kedua bersifat kausal: penyebabnya adalah Ikhwanul Muslimin. Klaim pertama gugur dalam hitungan menit. Klaim kedua jauh lebih licin, dan di situlah analisis ini bekerja.
Tesis saya, yang bersifat argumentatif dan bukan fakta tunggal: sains lahir dari institusi, pendanaan, kebebasan, dan rasa aman, bukan dari identitas etnis atau satu gerakan politik. Karena itu, bantahan yang berhenti pada daftar pemenang sama dangkalnya dengan klaim yang dibantah. Batasannya: saya tidak membela Ikhwanul Muslimin dan tidak menyangkal bahwa kawasan Arab menghadapi persoalan riset serius; data riset terbaru yang bisa saya verifikasi berasal dari UNESCO Science Report 2021, yang angkanya berhenti pada kisaran 2018 hingga 2021. Tulisan ini juga bukan pembenaran moral atas pihak mana pun, termasuk Al Jazeera, jaringan berbasis Qatar yang salah satu opininya menjadi bahan tulisan ini, maupun pemerintahan Hamas di Gaza.
Daftar Pemenang Cukup untuk Membantah, Tidak Cukup untuk Menjawab
Fakta dulu, sebagaimana ditelusuri AP. Naguib Mahfouz meraih Nobel Sastra 1988. Ahmed Zewail meraih Nobel Kimia 1999, setelah memenangi Hadiah Wolf bidang kimia pada 1993. Mohamed ElBaradei menerima Nobel Perdamaian 2005 bersama Badan Energi Atom Internasional, dan Tawakkol Karman, jurnalis Yaman, berbagi Nobel Perdamaian 2011. Omar Yaghi, kimiawan kelahiran Amman dari orang tua pengungsi Palestina, memenangi Hadiah Wolf 2018 dan Nobel Kimia 2025. Medali Fields 1966 jatuh kepada Michael Atiyah, matematikawan keturunan Lebanon.
Namun daftar semacam ini perlu dibaca teliti. “Arab” di sini kerap berarti keturunan, bukan kewarganegaraan atau tempat bekerja. Atiyah lahir di London. Moungi Bawendi, peraih Nobel Kimia 2023, lahir di Paris dari ayah Tunisia dan ibu Prancis, lalu pindah ke Amerika pada usia sepuluh tahun. Opini Al Jazeera yang memantik tulisan ini menyebut Bawendi “ilmuwan Arab Muslim”; saya tidak menemukan sumber yang memverifikasi agamanya, sehingga saya menghitungnya sebagai keturunan Tunisia saja.
Dua catatan lain. AP mengingatkan bahwa Arab adalah identitas etnis dan bahasa, sedangkan sebagian besar Muslim dunia bukan Arab, fakta yang akrab bagi kita di Indonesia. Dan angka “500 juta” itu sendiri membesar-besarkan: estimasi populasi negara Liga Arab berkisar sekitar 420 hingga 475 juta, itu pun sudah mencakup warga non-Arab di negara-negara tersebut.
Memenangkan debat soal piala tidak sama dengan menjawab pertanyaan tentang apa yang membuat ilmu tumbuh.
Di Mana Karya Itu Dikerjakan? Pertanyaan yang Tak Nyaman bagi Dua Kubu
Zewail adalah ilmuwan Mesir-Amerika yang berkarier di Amerika Serikat. Yaghi pindah ke Amerika pada usia 15 tahun dan kini mengajar di Universitas California, Berkeley. Bawendi mengajar di MIT. Komentator konservatif yang membela Kennedy menunjuk hal ini: hampir semua contoh “keunggulan Arab” adalah orang Arab yang tinggal di Barat. Sebagai deskripsi, poin itu sebagian benar. Sebagai argumen, ia justru menjungkirkan tesis Kennedy. Bila bakat yang sama berbuah ketika ditempatkan di laboratorium yang berfungsi, dengan dana stabil dan lingkungan yang aman bagi kritik, maka variabel penentunya adalah institusi, bukan orang Arab dan bukan satu organisasi politik.
Kritik berlaku juga bagi sisi sebaliknya. Pembela dunia Arab kerap berhenti pada kebanggaan atas para laureat, padahal Nobel umumnya mengganjar karya puluhan tahun silam dan tidak menjelaskan kondisi laboratorium di Kairo atau Sanaa hari ini. Opini Mahmoud Al-Hamza di Al Jazeera (2 November) mengakuinya: mendaftar nama ilmuwan tidak menggantikan proyek membangun universitas mandiri dan pendanaan berkelanjutan.
Ikhwanul Muslimin: Kritik yang Sah, Penyebab Tunggal yang Tidak
Ikhwanul Muslimin didirikan Hassan al-Banna di Ismailia, Mesir, pada 1928. Di Mesir ia dilarang sejak 2013, setelah Presiden Mohamed Morsi yang berasal dari gerakan itu digulingkan. Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Bahrain menetapkannya sebagai organisasi teroris pada 2014, dan Yordania melarangnya pada 2025, menurut AP. Pemerintahan Trump, setelah perintah eksekutif November 2025, menetapkan cabang Mesir, Yordania, dan Lebanon sebagai organisasi teroris.
Kritik terhadap gerakan ini punya dasar sejarah. Menurut profil kantor berita, ia terlibat dalam pembunuhan Perdana Menteri Mesir Mahmoud Fahmi al-Nokrashi pada 1948, dan pemerintahan Morsi menuai penolakan massa yang berujung penggulingan pada 2013. Gerakan ini juga punya pengaruh sosial nyata: pada 2005 ia menjadi oposisi terkuat Mesir dengan seperlima kursi parlemen. Gagasan bahwa gerakan Islamis dapat memengaruhi iklim pendidikan dan budaya bukanlah hal absurd.
Tetapi jarak antara “dapat memengaruhi” dan “menghancurkan tradisi” sangat jauh. Ikhwanul Muslimin memerintah Mesir, negara Arab terpadat, hanya dari Juni 2012 hingga Juli 2013. Selama tiga dekade era Mubarak, ia dilarang sekaligus ditoleransi. Menimpakan seluruh kemerosotan sains di kawasan berpenduduk ratusan juta kepada sebuah gerakan yang memegang kekuasaan negara kurang dari setahun adalah lompatan yang tidak ditopang bukti. Kennedy sendiri, dalam unggahan sekitar 3.700 kata di X setelah pidato, menyatakan kritiknya ditujukan pada Islamisme, bukan pada orang Arab atau Islam, dan menuduh media memotong konteks. Menyebut Ikhwanul Muslimin bukan Islamofobia memang proposisi yang layak diperdebatkan. Masalahnya ada pada loncatan kalimat: subjeknya 500 juta orang Arab, predikatnya ketiadaan sains, dan sebabnya sebuah organisasi berusia 98 tahun.
Kasus Mahfouz memperlihatkan betapa kabur batas-batasnya. Pada 14 Oktober 1994 ia ditikam di leher oleh seorang ekstremis yang terinspirasi seruan Omar Abdel-Rahman, pemimpin al-Gama’a al-Islamiyya, kelompok militan yang berbeda dari Ikhwanul Muslimin. Satu media Kairo menyebut pelakunya berasal dari milisi Ikhwan, tetapi mayoritas rujukan menunjuk Gama’a. Ketika Mahfouz wafat pada 2006, para ulama terkemuka Mesir memimpin doa jenazahnya. Ekstremisme berbasis agama memang pernah mengancam intelektual Arab, tetapi menyamakan seluruh spektrum Islamis dengan satu nama adalah kesalahan analisis yang sama dengan menyamakan seluruh orang Arab dengan satu gerakan.
Kasus Karman menambah komplikasi bagi kedua kubu. Ia anggota Partai Islah Yaman, yang oleh sejumlah media disebut cabang Ikhwanul Muslimin; ketua Komite Nobel 2011 mengakui keanggotaan itu. Islah sendiri bukan blok tunggal, melainkan gabungan unsur suku, Ikhwan, dan Salafi, dan pada 2018 menskors Karman setelah ia menuding koalisi pimpinan Saudi bertindak sebagai penjajah. Seorang peraih Nobel dari lingkungan yang dikaitkan dengan Ikhwan mematahkan anggapan bahwa lingkungan itu tidak menghasilkan apa pun, tetapi ia juga menunjukkan bahwa label “Ikhwan” mengaburkan lebih banyak daripada menjelaskan. Opini Al-Hamza mencantumkan Karman dalam daftarnya tanpa menyinggung afiliasi itu.
Sebuah gerakan politik boleh dikritik tanpa menjadikan ratusan juta orang sebagai terdakwa.
Anggaran, Peneliti, Keamanan: Angka yang Lebih Jujur daripada Piala
Apa yang menentukan sains bisa diukur lebih langsung daripada hadiah. UNESCO Science Report 2021, edisi lengkap terbaru yang bisa saya verifikasi, mencatat bahwa negara-negara Arab, yang mencakup sekitar 5,3 persen penduduk dunia, hanya menyumbang sekitar 1,2 persen belanja riset global (dikutip dari ringkasan media). Jumlah peneliti per sejuta penduduk dilaporkan antara sekitar 680 dan 740, tergantung sumber dan tahun, dibanding rata-rata dunia sekitar 1.368. Belanja riset kawasan naik dari 0,48 persen PDB pada 2014 menjadi 0,59 persen pada 2018.
Rata-rata menyembunyikan jurang. Menurut UNESCO yang dikutip pv magazine, belanja riset Mesir mencapai 0,96 persen PDB pada 2021 dan UEA 1,50 persen; peneliti per sejuta penduduk UEA sekitar 2.379. Esra Aleisa dari Universitas Kuwait, salah satu penulis bab negara Arab dalam laporan itu, menyebut ketidakstabilan sebagai faktor yang menekan sains.
Angka-angka ini tidak otomatis membenarkan tesis itu. Uang butuh bertahun-tahun untuk berbuah, dan UEA yang agresif berinvestasi belum melahirkan peraih Nobel sejauh yang saya temukan. Institusi adalah syarat yang perlu, bukan jaminan.
Inilah cermin untuk kita. Belanja riset Indonesia hanya sekitar 0,28 persen PDB menurut data Bank Dunia yang dikutip InvestorTrust dan Antara, lebih rendah daripada angka kawasan Arab di atas, meski keduanya berasal dari tahun yang berbeda. Bila rendahnya anggaran riset adalah bukti kutukan peradaban, Indonesia, negeri berpenduduk Muslim terbesar, akan menjadi dakwaan yang sama. Penjelasan yang lebih masuk akal: itu pilihan kebijakan, dan pilihan bisa diubah. Presiden Prabowo menyatakan ingin menaikkan dana riset perguruan tinggi hingga 1 persen PDB, target yang menurut seorang pejabat tak bisa dicapai singkat (Antara, Maret 2025).
Gaza: Ketika Penghancur Pengetahuan Bukan Ikhwan
Dalam unggahan pembelaannya, Kennedy menyebut Gaza sebagai gambaran visi masyarakat Ikhwanul Muslimin dan menyatakan Hamas adalah cabang Palestina gerakan itu. Kaitan Hamas dengan Ikhwan memang diakui sejumlah analis, dan kritik atas tata kelola Hamas tetap sah ketika kita membela mahasiswa Gaza.
Tetapi bukti terbaik tentang siapa yang menghancurkan infrastruktur pengetahuan Gaza menunjuk ke arah lain. Penilaian lapangan UNESCO bersama Kementerian Pendidikan Tinggi Palestina dan AWRAD atas 38 kampus mencatat 22 kampus hancur total dan 14 rusak. Sebanyak 195 dari 206 gedung yang dinilai hancur atau rusak berat, dengan kerugian fisik sekitar 373 juta dolar AS. Perpustakaan pusat Universitas Islam Gaza, yang menyimpan lebih dari 240.000 buku, terbakar. Laporan kelompok advokasi Friends of Palestinian Universities menghitung lebih dari 1.372 mahasiswa serta lebih dari 246 akademisi dan staf tewas; angka itu belum saya temukan terverifikasi secara independen, sehingga sebaiknya dibaca sebagai klaim, bukan hasil audit.
Militer Israel menyatakan sejak Oktober 2023 bahwa Universitas Islam dipakai Hamas untuk pelatihan intelijen dan produksi senjata; klaim itu tidak saya temukan terverifikasi independen dalam sumber yang diperiksa. Istilah “scholasticide” dipakai Friends of Palestinian Universities dan serikat dosen Inggris UCU, dan penilaian hukum atas dugaan penghancuran sengaja masih diperdebatkan. Pada akhir Oktober 2026, serangan udara rezim Zionis ke kampus Universitas Islam di Kota Gaza dilaporkan menewaskan tiga penjaga keamanan (laporan satu media, belum saya cocokkan dengan sumber kedua).
Di tengah itu, Universitas Islam, Al-Azhar, dan Al-Aqsa tetap mengajar dari tenda dan secara daring. Ahmed Abu Shaban, yang 34 tahun belajar dan bekerja di Universitas Al-Azhar Gaza, mengatakan kepada Times Higher Education bahwa departemennya sudah empat kali hancur. Sains tidak menunggu penjelasan identitas; ia menunggu gedung, listrik, dan rasa aman. Bagi anak-anak Palestina yang lulus SMA hari ini, pertanyaan “mengapa Arab tidak berprestasi” dijawab oleh atap yang tak ada.
Hadiah mengukur karya puluhan tahun lalu; anggaran, kebebasan, dan keamanan menentukan karya puluhan tahun mendatang.
Dua Cerita yang Sama-Sama Mudah: Kutukan dan Nostalgia
Pidato Kennedy dan sebagian bantahannya memakai kerangka yang mirip: sejarah sebagai kisah kejayaan yang dirusak atau dibela. Kennedy menyebut perpustakaan para pangeran Muslim abad ke-13, warisan yang nyata, lalu menyalahkan satu pihak atas kemerosotannya. Pembela dunia Arab menjawab dengan nama-nama besar. Keduanya menghindari pekerjaan yang membosankan: mengaudit anggaran, menjaga independensi kampus, dan menjamin keselamatan peneliti.
Tradisi pemikiran Muslim Indonesia pernah bergulat dengan kekusutan serupa. Pada Januari 1970 Nurcholish Madjid, Cak Nur, melontarkan seruan “Islam yes, partai Islam no”, yang membedakan komitmen pada Islam dari komitmen pada institusi politik berlabel Islam; sejumlah pemimpin partai menuduhnya mengkhianati perjuangan. Gus Dur memperingatkan bahwa Arabisasi, yakni mengidentifikasi diri dengan budaya Timur Tengah, berisiko mencabut kita dari akar budaya sendiri, dan menawarkan pribumisasi Islam sebagai jalannya. Konteks Cak Nur adalah partai Islam Indonesia 1970, bukan Ikhwanul Muslimin, jadi ini analogi, bukan padanan. Pembedaan serupa diklaim Kennedy; ujiannya konsistensi: apakah kritik atas gerakan benar-benar berhenti di gerakan.
Maka pembelaan terbaik terhadap martabat dunia Arab dan umat Islam bukanlah menang debat soal piala, melainkan menuntut hal-hal yang bisa diperiksa: berapa persen PDB untuk riset, berapa universitas yang mandiri, berapa peneliti yang bisa kembali bekerja di negerinya, dan berapa kampus yang masih berdiri.
Yang Tersisa untuk Kita Lakukan
- Sebarkan lembar fakta, bukan sekadar kemarahan. Buat ringkasan satu halaman untuk kampus, masjid, dan komunitas dengan nama penghitung dan tahun: penghargaan menurut AP (Nobel 1988, 1999, 2005, 2011, 2025; Wolf 1993 dan 2018; Fields 1966) dan belanja riset kawasan menurut UNESCO (0,59 persen PDB pada 2018). Catat batasnya: “Arab” sering berarti keturunan, dan data UNESCO berasal dari edisi 2021.
- Arahkan zakat dan solidaritas akademik ke pemulihan kampus Gaza. Dengan 195 dari 206 gedung kampus hancur atau rusak berat, salurkan bantuan lewat lembaga seperti BAZNAS, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, Adara Foundation, atau MER-C, lalu tanyakan secara spesifik apakah ada program pendidikan, beasiswa, atau perlengkapan belajar dan bagaimana laporan penyalurannya. Untuk kampus kita: Komite Darurat Universitas Gaza meminta solidaritas akademik internasional (Times Higher Education, 30 Oktober 2026), dan laporan Friends of Palestinian Universities menyebut sebagian besar dana donasi tak sampai ke universitas Gaza. Tawarkan kemitraan langsung, seperti kuliah tamu daring dan kursi beasiswa, bukan hanya pernyataan sikap.
- Kawal anggaran riset kita sendiri. Dengan belanja riset sekitar 0,28 persen PDB dan janji 1 persen, mahasiswa dan akademisi dapat menulis kepada komisi DPR yang membidangi pendidikan dan riset serta kementerian terkait, meminta jadwal realisasi target 1 persen dan kepastian bahwa pemotongan efisiensi 2025 dipulihkan. Kita tidak berhak mencemooh angka 0,59 persen di kawasan Arab selama angka kita sendiri 0,28 persen.
Setelah Pidato dan Reruntuhan
Di Grand Rapids, sebuah kalimat diucapkan dalam semalam, ditujukan kepada pemilih, dan dibantah dalam sehari.
Di Gaza, seorang dosen yang departemennya hancur empat kali masih mengajar dari tenda. Di Amman, seorang anak pengungsi tumbuh di rumah satu ruang dan kelak menerima Nobel di Stockholm. Di Indonesia, negeri Muslim terbesar di dunia, riset dibiayai sekitar 0,28 persen dari PDB. Yang menentukan bukan paspor atau label gerakan, melainkan apakah ruang, dana, dan rasa aman tersedia.
Kita tidak tahu seberapa besar peran masing-masing sebab. Seberapa banyak kemerosotan sains Arab berasal dari otoritarianisme, perang, kekayaan minyak, atau ideologi gerakan Islamis, dan seberapa banyak dari penjajahan serta pendudukan? Klaim siapa pun yang yakin pada satu sebab layak dicurigai. Maka pertanyaan yang tersisa lebih sulit daripada soal piala: jika bukti paling kuat menunjuk pada institusi, siapa yang sungguh-sungguh mau membangunnya, di Kairo, di Gaza, dan di kampus-kampus kita sendiri?


