HomeBeritaAdidas Diboikot Usai Tampilkan Iklan Tentara Israel

Adidas Diboikot Usai Tampilkan Iklan Tentara Israel

Aktivis mengecam kampanye yang menampilkan seorang mantan tentara Israel, sementara lebih dari 5.000 warga Palestina harus menjalani amputasi akibat genosida Israel di Gaza.

GAZA MEDIA – Raksasa pakaian olahraga Adidas menghadapi kritik dan seruan boikot setelah menampilkan seorang mantan tentara Israel dalam kampanye iklan untuk layanan perusahaan berupa penyediaan satu sepatu bagi penyandang amputasi.

Iklan Adidas tersebut mempromosikan layanan yang tersedia di toko dan menampilkan mantan tentara Israel, Shalev Biton, saat mencoba sepatu di sebuah toko di Israel. Dalam iklan itu, ia kemudian terlihat mengenakan sepatu tersebut ketika berlari di luar ruangan.

Koordinator kampanye boikot pada Ahad (6/9) menyebut iklan tersebut sebagai “penghinaan terhadap warga Palestina.”

Biton kehilangan salah satu kakinya setelah terluka selama perang Israel-Gaza 2021, ketika militer Israel berulang kali menyerang Jalur Gaza dalam serangan selama 11 hari.

Para pegiat hak asasi manusia dan aktivis pro-Palestina mengatakan kemarahan publik serta kampanye boikot daring terhadap Adidas bukanlah sesuatu yang mengejutkan bagi perusahaan pakaian dan alas kaki olahraga asal Jerman tersebut.

Stephanie Westbrook, koordinator kampanye boikot olahraga dari Palestinian Campaign for the Academic and Cultural Boycott of Israel (PACBI)—salah satu organisasi pendiri gerakan Boycott, Divestment, and Sanctions (BDS)—mengatakan kepada Al Jazeera bahwa kampanye tersebut bukan sekadar persoalan ketidakpekaan.

“Ini bukan sekadar Adidas yang tidak peka atau tidak sensitif; ini merupakan penghinaan terhadap warga Palestina yang kehilangan orang-orang tercinta akibat dibunuh Israel dan mereka yang kehilangan anggota tubuh akibat serangan Israel,” kata Westbrook.

Westbrook memperingatkan bahaya kampanye semacam itu. Menurutnya, kampanye tersebut dapat “menormalisasi kejahatan Israel terhadap warga Palestina dan memungkinkan kejahatan itu terus dilakukan tanpa pertanggungjawaban.”

“Di sini kita melihat kampanye Adidas yang menampilkan seorang tentara Israel, yang identitasnya sangat terkait dengan statusnya sebagai tentara, dan yang kehilangan kakinya ketika berpartisipasi dalam salah satu serangan berulang Israel terhadap Gaza,” ujarnya.

Westbrook menambahkan bahwa tentara tersebut bertugas dalam militer sebuah negara yang saat ini melakukan genosida, telah menjalankan pendudukan militer ilegal terhadap wilayah Palestina, serta menerapkan sistem apartheid terhadap warga Palestina selama beberapa dekade.

Adidas tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Al Jazeera.

Ribuan Warga Gaza Kehilangan Anggota Tubuh

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan antara 5.000 hingga 6.000 orang di Gaza telah menjalani amputasi hingga awal Oktober 2025, ketika Israel menandatangani kesepakatan gencatan senjata.

Mereka merupakan bagian dari sekitar 42.000 warga Palestina di Gaza yang mengalami cedera yang mengubah kehidupan selama konflik yang berlangsung selama dua tahun.

Hampir setahun setelah gencatan senjata, kondisi di Gaza masih sangat buruk akibat blokade Israel yang menghambat masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah tersebut.

Ketika iklan Adidas menampilkan mantan tentara Israel itu kembali ke jalan untuk berolahraga dan berlari, lebih dari 1.000 atlet Palestina dilaporkan telah terbunuh selama genosida Israel di Gaza.

Ratusan pesepak bola yang bercita-cita menjadi atlet profesional juga kehilangan anggota tubuh mereka. Sebagian dari mereka kemudian membentuk tim sepak bola amputasi dan berusaha menemukan ruang pemulihan melalui olahraga, meski masih hidup dengan rasa sakit dan trauma.

Para pemain tersebut menjadikan sepak bola sebagai salah satu cara untuk bertahan hidup. Mereka berusaha merebut kembali sebagian kehidupan mereka yang hilang setelah berbulan-bulan menghadapi kehilangan, luka, dan kehancuran yang meluas.

Seruan Boikot Adidas

Aktor Spanyol Javier Bardem termasuk di antara tokoh yang menyerukan boikot terhadap merek pakaian olahraga tersebut.

Bardem, yang dikenal sebagai aktivis pro-Palestina, membagikan sejumlah gambar dan video yang menyoroti kampanye boikot terhadap Adidas melalui akun media sosialnya.

Seruan serupa juga disampaikan oleh penulis Amerika-Palestina Susan Abulhawa, penulis Pakistan Fatima Bhutto, serta sejumlah warga Palestina melalui media sosial.

Westbrook juga menyoroti blokade Israel terhadap Gaza yang, menurutnya, menghambat masuknya obat-obatan dan kaki tangan palsu atau prostetik ke Jalur Gaza setelah fasilitas kesehatan di wilayah tersebut mengalami kehancuran.

Menurut International Rescue Committee, anak-anak menyumbang sekitar seperempat dari seluruh kasus amputasi di Gaza selama dua tahun terakhir. Kondisi tersebut menjadikan Gaza sebagai wilayah dengan jumlah penyandang amputasi anak per kapita tertinggi di dunia.

Westbrook mengatakan Israel telah “menghancurkan sektor kesehatan”, sehingga menyebabkan kekurangan layanan perawatan dan rehabilitasi yang sangat parah.

“Pengepungan yang berlangsung seperti di abad pertengahan ini mencegah prostetik bahkan untuk masuk ke Gaza, sehingga menciptakan kelangkaan yang sebenarnya dibuat oleh manusia,” katanya.

Sejak perang Israel di Gaza dimulai pada Oktober 2023, Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) melaporkan bahwa sekitar 42.000 warga Palestina mengalami luka-luka yang mengubah kehidupan, termasuk 11.000 anak-anak.

Korban Tewas di Gaza Capai 73.651 Orang, Ribuan Warga Masih Hilang di Bawah Reruntuhan

Jumlah korban tewas akibat perang dan krisis kemanusiaan di Jalur Gaza terus bertambah. Hingga laporan terbaru, sedikitnya 73.651 orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk korban yang baru berhasil dievakuasi dari bawah reruntuhan bangunan yang hancur.

Selain korban meninggal, lebih dari 174.575 orang mengalami luka-luka akibat serangan dan dampak konflik yang berlangsung di Gaza.

Di tengah kehancuran yang meluas, persoalan lain yang belum terpecahkan adalah nasib ribuan warga yang masih dinyatakan hilang. Lebih dari 9.000 orang dilaporkan masih belum ditemukan dan sebagian diduga tertimbun di bawah puing-puing bangunan yang runtuh.

Besarnya jumlah korban juga memunculkan kekhawatiran bahwa angka kematian sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi dibandingkan data administratif yang tercatat.

Sejumlah penelitian independen dan kajian medis yang dikutip Al Jazeera menunjukkan bahwa jumlah korban akibat kekerasan serta dampak tidak langsung dari krisis kemanusiaan di Gaza dapat melampaui angka resmi. Dampak tersebut mencakup kondisi kesehatan yang memburuk, keterbatasan akses layanan medis, serta berbagai kondisi yang menyertai kehancuran infrastruktur sipil.

Dengan masih banyaknya jenazah yang diyakini berada di bawah reruntuhan dan ribuan orang yang belum ditemukan, jumlah korban tewas di Gaza berpotensi terus meningkat seiring berlangsungnya proses pencarian dan evakuasi.

ARTIKEL TERKAIT

Terkini