Tidak ada pilihan lain bagi warga Palestina di Jalur Gaza kecuali berhadapan langsung dengan mesin perang Israel.
Para analis menilai, baik dunia Barat maupun negara-negara Arab belum mengambil langkah nyata untuk menghentikan agresi, terutama karena kuatnya dukungan Amerika Serikat (AS) kepada Tel Aviv.
Di tengah meningkatnya seruan gencatan senjata dan penyelamatan warga sipil, justru pada Sabtu (30/8) pasukan Israel melancarkan serangan mematikan.
Sebuah gedung, toko roti, dan tenda penampungan di kawasan Al-Rimal dan Al-Nasr, Kota Gaza, menjadi sasaran.
Sedikitnya 19 warga sipil tewas, termasuk enam anak-anak. Rekaman gambar memperlihatkan reruntuhan di lokasi yang sebelumnya ramai dipadati penduduk.
Bagi pengamat urusan Israel, Dr Muhannad Mustafa, serangan itu mencerminkan sikap Israel yang semakin tidak peduli pada kritik internasional.
“Dunia hanya sebatas mengecam dan mengancam akan mengambil tindakan, tetapi tidak pernah melakukannya. Bahkan Israel kini tidak merasa perlu lagi memberikan alasan atas kejahatan-kejahatan ini,” ujarnya.
Mustafa menambahkan, pola serangan terbaru di Kota Gaza sejatinya bukan hal baru.
“Apa yang dilakukan hari ini adalah pengulangan atas operasi di awal tahun di Gaza bagian utara, ketika militer Israel berupaya memaksa warga mengungsi secara brutal. Saat itu dikenal sebagai ‘rencana para jenderal’,” katanya.
Kekerasan jadi “rutinitas”
Pembunuhan warga sipil yang terjadi di Gaza, menurut pengamat, bukan didorong alasan militer ataupun keamanan.
Tujuannya murni untuk memaksa penduduk meninggalkan rumah mereka dengan tekanan kekerasan.
Dr Muhannad Mustafa menegaskan, sejumlah menteri Israel kini bahkan tidak lagi menutupi hal itu dan menyatakannya secara terbuka.
Ia menilai, momen ini merupakan fase yang sangat istimewa dalam sejarah proyek Zionis: upaya besar-besaran untuk mengosongkan Gaza dan Tepi Barat.
Situasi tersebut sejalan dengan agenda pemerintah sayap kanan ekstrem Israel yang, sejauh ini, tidak menghadapi tekanan serius baik dari dalam negeri maupun dari dunia internasional.
“Bahkan kritik global tidak lagi berarti bagi Israel. Ketika PBB resmi menyatakan Gaza berada dalam kondisi kelaparan, negara-negara hanya berhenti pada ancaman dan sekadar menyinggung kemungkinan pengakuan terhadap negara Palestina, seolah itu bentuk sanksi,” kata Mustafa.
Karena itu, Mustafa menilai pertempuran di Gaza telah berubah menjadi persoalan eksistensial, baik bagi rakyat Palestina maupun bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, yang kini menjadi buronan Mahkamah Pidana Internasional.
“Netanyahu mempertaruhkan seluruh masa depannya pada perang ini. Tel Aviv menolak proposal terakhir karena tidak ada tekanan nyata dari Washington,” ujarnya.
Peneliti hubungan internasional, Husam Syakir, menambahkan, peristiwa Sabtu lalu di Gaza hanyalah “permulaan dari kampanye militer yang lebih brutal.”
Israel, katanya, terus menargetkan warga sipil dengan serangan udara dan kelaparan, dari satu wilayah ke wilayah lain, dengan keyakinan bahwa tidak akan ada sikap internasional yang benar-benar menghentikan mereka.
Gaza ditinggalkan sendiri
Selama sanksi internasional maupun tekanan dari dunia Arab absen, dan AS tetap memberikan dukungan penuh, Israel akan terus melanjutkan operasi penghancuran Kota Gaza.
Peristiwa di kawasan Al-Rimal pada Sabtu (30/8) berpotensi menjadi pemandangan rutin, karena faktanya rakyat Palestina seakan dibiarkan menghadapi nasib mereka sendiri.
“Jika negara-negara Arab tidak bertindak sekarang, rencana pengusiran paksa warga Palestina akan berjalan terus. Dan satu-satunya opsi bagi rakyat Palestina hanyalah meningkatkan biaya yang harus ditanggung Israel. Jika berhasil melaksanakan rencananya, Israel akan berbuat lebih jauh terhadap dunia Arab,” kata peneliti internasional, Husam Syakir.
Dari perspektif militer, analis pertahanan Mayjen (Purn) Fayez al-Duwairi menilai Israel telah memulai proses mengosongkan wilayah Gaza dan Gaza Utara.
Militer Israel disebut telah menempatkan titik-titik kontrol di sepanjang poros Netzarim sebagai langkah awal untuk memaksa penduduk bergerak ke selatan dengan dukungan tembakan artileri.
Ia memperkirakan, beberapa hari mendatang Israel akan melancarkan serangan besar di Jalan al-Rashid untuk mempercepat pengusiran massal, dengan operasi pendukung dari titik-titik lain.
“Proses pendudukan Gaza sesungguhnya sudah dimulai,” kata Duwairi.
Namun, ia menambahkan, hasil akhir operasi tersebut sangat bergantung pada respons kelompok perlawanan Palestina.
Hingga kini, menurutnya, tanda-tanda menunjukkan perlawanan tidak memiliki niat untuk menyerah dan akan terus bertempur dengan kemampuan yang ada.
Serangan penyergapan yang dilakukan kelompok perlawanan dalam beberapa hari terakhir di Beit Hanoun dan Khan Younis, meski menghadapi gempuran besar, menjadi indikator bahwa mereka masih memiliki kapasitas untuk melanjutkan pertempuran.