Di tengah klaimnya untuk terus berkomitmen pada jalur perundingan demi pembebasan tawanan Israel di Jalur Gaza, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dinilai justru bergerak ke arah sebaliknya.
Sejumlah analis menilai Netanyahu menutup peluang kesepakatan politik dan lebih memilih melanjutkan operasi militer, dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat (AS).
Langkah ini diyakini terkait rencana jangka panjang untuk mengosongkan Gaza dari penduduknya.
Bagi sebagian kalangan, skenario itu sejalan dengan gagasan lama Washington yang ingin mengubah wilayah pesisir tersebut menjadi kawasan investasi internasional, bahkan digambarkan sebagai “Riviera Timur Tengah”.
Sejalan dengan strategi itu, militer Israel mulai menjalankan tahap awal operasi besar ke Kota Gaza dalam kerangka rencana “Kereta Gideon 2”.
Meski komunitas internasional telah memperingatkan dampak kemanusiaan yang amat besar, Tel Aviv tetap melanjutkan persiapan serangan darat dengan pola penghancuran sistematis.
Yaitu, membumihanguskan gedung, infrastruktur, dan memanfaatkan keunggulan teknologi militer, termasuk serangan udara dan robot tempur.
“Ini adalah taktik penghancuran total, di atas dan bawah tanah, yang berusaha meniadakan ruang gerak perlawanan,” jelas Brigadir Jenderal (Purn) Elias Hanna, pengamat militer.
Menurut penulis dan analis politik Ahmad al-Hila, Netanyahu telah menyingkirkan opsi diplomasi.
“Ia ingin menduduki Gaza, mengosongkannya dari penduduk, lalu mengubahnya menjadi kawasan ekonomi,” ujarnya.
Al-Hila menilai, langkah ini tidak bisa dilepaskan dari dukungan pemerintahan Donald Trump.
Februari lalu, Trump sempat mewacanakan konsep menjadikan Gaza sebagai destinasi wisata internasional dengan nama “Riviera Timur Tengah”.
Ia menambahkan, Washington kini bahkan sedang mendiskusikan berbagai proyek ekonomi pascaperang di Gaza.
“Israel bertaruh bahwa rakyat Palestina dan perlawanan akan menyerah atau terpaksa hengkang akibat tekanan militer. Tetapi itu adalah taruhan yang sia-sia,” kata al-Hila.
Pandangan serupa disampaikan Dr. Bilal Shobaki, Ketua Jurusan Ilmu Politik Universitas Hebron.
Menurutnya, Israel berupaya menyelesaikan “pembersihan” Gaza agar memungkinkan pemukiman kembali warga Israel di sana.
Ia menyinggung pertemuan terbaru antara Trump, menantunya Jared Kushner, dan mantan PM Inggris Tony Blair, yang menurutnya tidak bisa dipisahkan dari agenda tersebut.
Rabu lalu, Trump memang menggelar pertemuan di Gedung Putih bersama Kushner dan Blair untuk membicarakan masa depan Gaza.
Menurut seorang pejabat senior AS, diskusi itu mencakup bantuan pangan, isu tawanan, serta “rencana pascaperang” di wilayah tersebut.
Dukungan Trump
Shobaki memperkirakan, Israel akan terus menjalankan operasi militernya, sambil tetap mempertahankan kesan bahwa jalur negosiasi belum ditutup.
Strategi itu dimaksudkan agar pada akhirnya pengusiran warga Gaza tampak sebagai fakta yang tidak terhindarkan.
Sementara itu, Mark Feivel, mantan penasihat keamanan nasional AS, menilai Washington tidak sedang menyiapkan skema resmi pengusiran.
Namun ia menegaskan, Trump tetap mendukung operasi militer Israel hingga Hamas menyerah.
“Trump bahkan pernah mengusulkan agar warga Gaza dipindahkan ke Mesir atau Yordania, tetapi kedua negara menolaknya. Setelah itu sempat dibicarakan opsi Somalia dan negara-negara kecil lain,” kata Feivel.